Aku Kalahkan Ketakutan Itu

Rasa rendah diri tertanam di dalam diriku sejak kecil.
Kesulitan yang datang silih berganti justru membuatku kuat.
Pekka lalu datang dan membukakan jalan bagiku.

Tangan kanan lebih pendek dari tangan kiri. Kelainan fisik ini membuatku sering dianggap lemah. Mencuci piring tidak boleh, takut pecah. Mencuci beras tidak boleh, takut tumpah.

Namaku Karmani. Aku  lahir pada bulan Maret 1975 di Desa Parit Keladi, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Aku memiliki satu orang kakak dan dua orang adik. Kelainan fisik yang aku derita sejak lahir membuatku tersiksa. Orang tua mengasihaniku. Aku diperlakukan berbeda dengan saudara-saudaraku. Aku tumbuh dengan rasa rendah diri yang tinggi.

Perasaan minder nyatanya tidak menghalangiku untuk mencatat prestasi. Nilai terbaik di sekolah aku raih ketika lulus dari sekolah dasar. Prestasi ini berlanjut ketika aku lulus dari SMP Negeri Sungai Kakap pada 1992. Aku kembali lulus dengan nilai paling tinggi. Meski demikian, aku tetap tidak punya banyak teman. Aku memilih tidak bermain karena aku takut tangan kananku patah.

Aku kebingungan ketika hendak masuk SMA. Bila aku ingin meneruskan sekolah, aku harus ke Pontianak. Di kecamatan tempat aku tinggal tidak ada SMA. Aku perlu menempuh satu jam perjalanan dengan sepeda motor. Namun, keadaan fisik tidak memungkinkanku untuk melakukannya. Sementara, orang tuaku tidak bisa membayariku tinggal di rumah kos.

 

Bekerja Demi Meraih Cita-cita

Minat belajarku tetap tinggi, dan itu tidak mampu aku bendung. Aku sibuk berpikir mencari cara, bagaimana agar aku bisa tetap melanjutkan sekolah. Hingga akhirnya seorang teman mengajakku bekerja pada satu keluarga keturunan Arab di Pontianak. Mereka bersedia menjadi orang tua asuhku, asalkan aku mau mengerjakan pekerjaan domestik di rumah mereka.

Aku tidak pedulikan lagi keterbatasan fisik yang ada pada diriku. Lama kelamaan, aku terlatih untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan.

Tentu saja aku sedih karena harus hidup jauh dari orang tua. Meski demikian, aku selalu bersemangat untuk bersekolah. Aku ingin membuktikan, bahwa aku bisa sukses walaupun aku cacat. Aku selalu berhasil mencuri waktu untuk belajar. Jam kerjaku yang amat panjang hanya menyisakan sedikit waktu untukku beristirahat. Aku harus bangun pukul 3 dini hari untuk membersihkan rumah, menyiapkan sarapan, dan memasak untuk makan siang. Sepulang sekolah, aku harus mencuci baju dengan tangan, memasak untuk makan malam, merapikan rumah, dan menyetrika pakaian. Aku baru bisa tidur setelah jam berdentang dua belas kali.

Demi membahagiakan orang tua, aku rela mengerjakan semuanya. Aku pun berhasil naik ke kelas dua dengan nilai baik, dan bisa mengambil jurusan biologi. Aku berharap bisa menjadi seorang perawat.

 

Pelecehan Seksual Menghancurkan Impian

Aku terpaksa keluar dari rumah itu setelah anak laki-laki mereka pulang. Sebelumnya dia bekerja sebagai konsultan bangunan di Jakarta. Dia sering menggangguku, mencolek atau memegang-megang bagian tubuhku. Pernah suatu malam, dia tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku merasa takut, rishi, dan jijik. Aku hanya mampu menghindar, tidak bisa melawan.

Setelah kejadian itu, aku menumpang tinggal di rumah orang tua asuh kawanku selama dua bulan. Mereka bersedia menanggung biaya sekolahku. Namun, aku lihat hidup mereka pas-pasan, sehingga aku memutuskan untuk pergi. Aku mencoba mencari orang tua asuh baru, tetapi tidak ada. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku.

Semangat belajarku belum surut. Aku mencoba tetap bersekolah dengan mengendarai sepeda. Aku harus berangkat pagi sekali, menempuh jalanan yang becek dan penuh belukar selama dua setengah jam. Aku sering kelelahan begitu tiba di rumah. Orang tuaku jatuh iba, dan melarangku untuk melanjutkan sekolah.

 

Pahitnya Pernikahanku

            Aku melanjutkan hari-hariku dengan memendam rasa sedih dan kecewa. Tidak ada yang aku lakukan, selain membantu orang tuaku di ladang. Aku sempat juga bekerja di sebuah warung kopi, dengan upah Rp 25 ribu per bulan.

Tiga tahun setelah berhenti sekolah, seorang bibi menjodohkanku dengan anak angkatnya, seorang perantau dari Medan. Aku berusia dua puluh satu tahun saat itu, usia yang dianggap perawan tua bila belum menikah. Aku menerima perjodohan itu, karena tidak ingin mengecewakan orang tua.

Sesuai catatan KUA, aku menikah di pekan terakhir Agustus 1996. Bahagia, tentu itu yang aku rasakan. Aku berharap pernikahan ini akan menghentikan omongan miring terhadapku yang tak kunjung menikah. Aku juga ingin hidupku menjadi lebih baik setelah menikah, dan dapat meringankan beban orang tua.

Kebahagiaanku semakin lengkap tatkala mengetahui bahwa aku hamil pada November 1996. Aku merasa lengkap sebagai perempuan. Meskipun aku cacat fisik, aku bisa menikah dan punya anak. Kebahagiaanku terhenti ketika masa kehamilanku memasuki usia dua bulan. Suamiku tak kunjung pulang setelah sebelumnya dia pamit untuk membeli kasur di pasar.

Kesedihanku tidak berhenti sampai di situ. Ketika kandunganku berusia enam bulan, dokter mendiagnosis aku menderita penyakit liver. Kondisiku sangat lemah, sehingga bayiku lahir prematur. Dua hari kemudian Tuhan memanggilnya. Saat itu, aku merasa gagal, kecewa, dan sangat menderita.

Aku kembali hidup bersama suamiku setelah mertuaku datang pada akhir September 1999. Mereka menjemputku untuk tinggal bersama mereka di Berastagi, Tanah Karo, Sumatera Utara. Ternyata, selama ini suamiku tinggal di sana.

Awalnya aku sempat ragu untuk ikut mertuaku. Dorongan untuk membahagiakan orang tua, juga bujukan dari mertua membuatku memutuskan untuk kembali hidup bersama suami di Berastagi. Kami hidup bersama lagi, dan akhirnya aku hamil lagi. Bukan main senangnya! Aku masih diberi kesempatan untuk menjadi seorang ibu.

Di balik kebahagiaan ini, aku merasa khawatir suami akan meninggalkanku lagi. Kekhawatiranku terbukti benar. Ketika kehamilanku mencapai usia enam bulan, suami pamit untuk pergi ke Medan. Hendak membeli alat elektronik, begitu dia bilang. Namun, dia tidak kunjung pulang. Tidak pula memberi kabar. Kembali aku harus merasa kecewa dan hancur. Aku tidak punya pilihan selain tinggal bersama mertua dan saudara ipar di Berastagi.

Setelah suami pergi, aku baru tahu bahwa dia terlilit hutang. Aku tidak sengaja mendengar hal ini, ketika suatu hari seorang penagih hutang datang dan berbicara dengan mertuaku. Pernah juga ada penagih hutang yang langsung datang kepadaku. Mereka tidak berani menagih karena melihatku sedang hamil. Mereka hanya bisa mendoakanku, supaya aku dan bayi tetap sehat dan suamiku berubah dan cepat kembali. Pilu rasanya. Tetapi aku tidak punya pilihan. Tentu saja hal ini aku rahasiakan kepada orang tuaku agar tidak menjadi beban mereka.

Bayiku lahir pada pertengahan tahun 2000. Putri yang cantik jelita. Aku melahirkan tanpa didampingi suami. Namun selalu berusaha menerima keadaanku dengan kebesaran hati.

Suamiku akhirnya muncul di tengah-tengah keluarga ketika putriku berusia dua tahun. Saat itu sebuah acara keluarga tengah digelar. Aku memberanikan diri untuk meminta diantar pulang ke Kalimantan. Suami menolak permintaanku. Tapi aku memaksa. “Jika aku pulang membawa anak tanpa suami, maka keluarga dan masyarakat akan beranggapan buruk tentang kamu,” begitu kataku. Dia akhirnya mengalah, dan mau ikut aku pulang ke Kalimantan dan membangun hidup baru.

Kami tinggal di rumah orang tuaku. Suamiku tidak betah karena dia tidak punya pekerjaan tetap dan tidak pandai bertani. Setiap hari dia selalu pamit pergi untuk bekerja, tetapi tidak pernah ada sepeser pun uang yang berhasil dia bawa untukku dan anak kami. Nenekku jadi sering menjelek-jelekkkan suamiku karena hal ini. Sebagai istri, tentu aku tidak suka suamiku dijelek-jelekkan.

Aku menceritakan kegundahanku ini kepada Bapak. Beliau mengizinkan kami untuk membuat pondok kecil di tanah miliknya. Letaknya kurang lebih satu kilometer dari rumah orang tuaku. Saat kami pindah, rumah itu belum memiliki pintu dan jendela, juga kamar dan dapur. Tetapi aku senang. Ini adalah rumah pertama kami.

Lagi-lagi kekhawatiranku yang dulu muncul. Dan terbukti benar. Entah setan apa yang merasuki otak suamiku. Dia pergi lagi dari rumah ketika ketika aku sedang hamil enam bulan. Kali ini pergi mencari rumput untuk kelinci yang menjadi alasan. Sejak saat itu, dia tidak pernah kembali lagi. Hilang tanpa jejak. Lenyap seperti ditelan bumi. Sampai sekarang.

Aku melahirkan seorang bayi laki-laki, anak kedua kami, pada pertengahan Juni 2003. Kehidupan yang harus aku jalani terasa semakin berat. Aku diejek dan diremehkan orang karena ditinggal sama suami tanpa kabar. Mereka beranggapan, aku adalah penyebab utama suami pergi dari rumah.

 

Berusaha Bangkit

Kenyataan bahwa aku harus menghidupi dua anak membuatku bertahan. Aku tidak menghiraukan kata-kata orang. Aku harus kuat. Tidak seorang pun yang boleh menghina anak-anakku karena keadaan ini.

Terkadang, aku merasa menjadi ibu yang paling kejam di dunia, karena aku sering melarang anak-anakku menangis. “Jangan menangis, Nak. Nanti dikira orang kita lapar!” Begitu jelasku kepada mereka, meski aku tahu, mereka belum mengerti.

Cacat di tubuhku seringkali menjadi hambatan untuk mendapat pekerjaan. Aku masih bisa mengingat dengan jelas, ketika dimarahi seorang pemilik sawah karena padinya mati semua. Dia anggap tanganku yang cacat menjadi penyebabnya. Padahal, padinya mati karena dimakan hama. Akibat dari kejadian itu, banyak pemilik sawah yang tidak mau mempekerjakanku sebagai buruh tani.

Aku tidak mau menyerah. Aku ganti pekerjaanku dengan memetik jeruk di kebun milik seorang kerabat. Upahnya sangat kecil: tiga ratus rupiah untuk tiap kilogram jeruk yang berhasil aku petik. Dalam satu hari, aku hanya bisa memperoleh sembilan ribu rupiah, karena aku hanya bisa menggunakan satu tangan.

Aku tidak akan mampu menyekolahkan anak-anak bila aku hanya menjadi buruh. Aku sibuk berpikir, mencari cara supaya bisa menambah pendapatan. Aku pun membuat kue kembang goyang, kue lapis beras, dan pisang goreng untuk aku jajakan keliling kampung. Sebagian aku titipkan di warung. Cara ini berhasil membuatku bisa menyisihkan uang, sedikit demi sedikit.

Pada saat yang sama, di kampungku masih banyak tanah yang belum dibuka. Aku memberanikan diri untuk meminta izin kepada salah seorang pemilik lahan, agar aku bisa memakai lahan miliknya. Setelah mendapat izin, dengan semangat tinggi aku membersihkan dan menanami lahan tersebut dengan padi. Hasilnya, aku berhasil memanen dalam jumlah yang memuaskan.

Namun, setelah panen, aku tidak diizinkan lagi menggarap lahan itu. Pemiliknya meminta uang sewa bila aku masih mau menggunakan lahannya. Sementara uangku tidak cukup untuk membayar sewanya. Akhirnya lahan itu berpindah ke tangan orang lain.

Aku mencari lahan lain yang bisa aku garap. Aku mulai membuka lagi lahan dari awal, menanaminya lagi, dan berhasil panen lagi. Kejadian yang sama berulang. Pemiliknya meminta uang sewa setelah melihat aku berhasil panen. Beberapa kali terulang seperti itu.

Akhirnya, salah seorang adik kandungku memberikan sedikit lahan garapan miliknya untuk aku kelola. Sejak saat itu aku menggarap sawah dengan serius. Selain untuk bisa membiayai sekolah anak-anakku, aku juga ingin menunjukkan kepada adikku, bahwa aku juga mampu mendapatkan hasil panen yang sama banyaknya dengan orang lain.

 

Aku dan PEKKA

Perlahan dan pasti, perubahan ke arah yang lebih baik terjadi dalam kehidupanku. Dimulai pada 12 Oktober 2012, ketika aku diajak bergabung menjadi anggota Pekka Kelompok Mawar, Dusun Cendrawasih, Desa Sungai Kakap. Aku bahkan terpilih menjadi ketua kelompok.

Awalnya aku ragu. Aku takut tidak bisa hadir dalam pertemuan kelompok karena harus bekerja di ladang. Aku takut tidak bisa ikut kegiatan menabung karena tidak punya uang. Aku takut tidak punya cukup waktu untuk pertemuan karena sibuk mencari nafkah. Berbagai ketakutan lain terus bermunculan.

Ketakutan-ketakutan itu aku singkirkan dengan satu tekad: memperbaiki hidup. Aku berusaha mengatur waktu sebaik mungkin supaya tetap bisa bekerja memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus menjalankan tanggung jawabku sebagai ketua kelompok.

Setiap pertemuan memberiku motivasi melalui cerita dari ibu-ibu kader yang sudah berpengalaman. Mereka menjabarkan bagaimana caranya membentuk dan merawat kelompok untuk tetap aktif. Juga pengalaman ketika mendampingi masyarakat dalam mengakses dokumen legalitas, atau melobi pemangku kepentingan. Semua cerita itu menjadi penyemangatku untuk terus aktif dalam berkegiatan, dan tentu saja aku senang. Aku jadi punya banyak teman.

 

Halangan adalah Tantangan

Pada tahun 2013 aku mengikuti Forum Wilayah (Forwil) yang diadakan di kecamatan tempat tinggalku. Forum Wilayah adalah acara di mana para anggota Pekka saling bertemu untuk bersilaturahim. Selain itu, Forwil merupakan ajang konsolidasi gerakan. Berbagai kegiatan digelar, seperti: Mubes, pameran foto, pameran produk dan dialog dengan pemerintah setempat.

Melalui Forwil aku bertemu dengan angggota Pekka yang datang dari berbagai wilayah. Aku juga bertemu dengan Bupati Kubu Raya, Bapak Muda Mahendrawan, pendiri dan Direktur Yayasan PEKKA, Ibu Nani Zulminarni, dan para pendamping lapang. Mereka terlihat hebat saat berbicara di forum ini. Aku jadi kagum dan ingin seperti mereka.

Aku ingat betul, waktu itu aku belum punya kendaraan. Untuk bisa menghadiri Forwil, aku harus berjalan kaki sekitar tiga kilometer. Aku tidak bisa menginap karena tidak ada yang menjaga anak-anak di rumah. Lelah yang timbul terhapus setiap sore ketika sampai di rumah. Anak-anak akan berteriak kegirangan menyambutku yang berlari kecil ketika sudah dekat rumah. Mereka akan berebut oleh-oleh yang aku bawa: makanan kecil yang disediakan sebagai pengisi rehat sore sambil tertawa riang.

Setelah Forwil, aku dan rekan-rekan di Kelompok Mawar membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL). RTL ini menyebut Pelatihan Visi, Misi, dan Motivasi Berkelompok bagi kelompok yang baru terbentuk.  Kelompokku termasuk yang ikut dalam pelatihan ini, karena baru terbentuk. Kami pun mengikuti Pelatihan Visi, Misi, dan Motivasi Berkelompok tanggal 21 November 2013. Dan setelah itu, aku semakin tertarik untuk terlibat di kegiatan-kegiatan lainnya.

Satu-satunya penghalang hanyalah aku tidak punya sepeda motor, dan belum bisa mengendarainya. Halangan ini aku ubah menjadi tantangan. Aku menjadi semakin rajin menabung. Setelah dua tahun dan mengalami empat kali panen, akhirnya aku berhasil membeli sepeda motor bekas seharga Rp 5 juta. Aku pun segera berlatih dan dalam waktu singkat mahir mengendarai sepeda motor.

 

Berbagai Pelatihan dan Kegiatan

Tidak ada lagi yang merintangiku untuk terlibat aktif di Pekka. Apa pun pelatihan yang ditawarkan, pasti aku ikuti. Juga ketika aku diajak berkunjung ke kelompok-kelompok di desa lain. Pengetahuanku semakin bertambah, dan itu membuat rasa percaya diriku meningkat.

Hingga suatu hari, aku terpilih untuk mengikuti Pelatihan Paralegal yang diadakan di Hotel Santika, Bekasi, pada tanggal 7-14 Juni 2014. Aku senang bukan main, meski ada juga sedikit keraguan dalam hati apakah aku akan mampu mengikuti kegiatan ini dengan baik. Pikiranku juga terbebani dengan keharusan meninggalkan anak-anak selama satu minggu. Namun, aku meyakinkan diri dan anak-anak, bahwa ini adalah kesempatan baik untuk kami.

Aku mengikuti enam hari pelatihan ini dengan intensif. Pada pelatihan ini aku belajar memahami, berdiskusi dan berpraktik sebagai paralegal Pekka. Aku pun memahami amanah yang diemban oleh seorang paralegal Pekka, yakni menjembatani dan memperluas akses perempuan, terutama perempuan kepala keluarga, terhadap keadilan dan perlindungan hukum.

Pada tanggal 5 September 2014, aku mengikuti peluncuran KLIK Pekka di Kecamatan Rasau Jaya. Acara tersebut dihadiri oleh Ibu Nani dan Mbak Fitria Villa Sahara dari Yayasan PEKKA dan dibuka oleh Wakil Bupati Kubu Raya, Bapak Hermanus.

Dalam acara KLIK Pekka ini, aku mendapat tugas menjelaskan tentang Dokumen Kependudukan (Akta Kelahiran, Gugat Cerai, dll). Aku bangga karena bisa membantu dan melayani masyarakat yang datang. Aku bisa melayani masyarakat dan menjawab pertanyaan mereka seputar persoalan yang berkaitan dengan Dokumen Kependudukan. Keterlibatan ini memunculkan sedikit rasa bangga dalam hati kecilku. Aku bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama.

 

Memetik Buah Perjuangan

Semakin banyak kegiatan yang aku ikuti pada 2014. Di antaranya adalah Pelatihan Jurnalisme Warga Pekka di Mataram, NTB, pada tanggal 20-25 Oktober 2014. Ternyata aku suka menulis. Dalam pelatihan ini, aku dilatih teknik menulis dengan baik dan benar.

Awalnya, aku belajar menuliskan kejadian yang terjadi di lingkungan tempat tinggal, juga menuliskan kegiatan kelompok layaknya seorang jurnalis. Aku kirim tulisan-tulisanku melalui melalui WhatsApp Group, juga aku unggah di Facebook.

Tulisan pertamaku yang berjudul “Profil Mahdalena” dimuat dalam bulletin Cermin (Cerita dan Mimpi) Pekka. Sejak saat itu aku semakin sering menulis, dan banyak tulisanku yang dimuat di buletin milik Pekka ini. Buletin ini didistribusikan kepada anggota Serikat Pekka dan ke pemerintah desa hingga kabupaten sebagai alat advokasi.

Keaktivanku dalam menulis membuatku dilibatkan dalam Pelatihan Jurnalisme Warga Sadar Lingkungan pada tahun 2015. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, yang dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Setiap pesertanya diminta untuk membuat tulisan dan video dengan tema lingkungan hidup. Hasil tulisan dan video yang aku buat mendapat nilai bagus sehingga terpilih untuk mengikuti pelatihan lanjutan di Yogyakarta bersama utusan provinsi lain.

Satu minggu setelah pulang dari Yogyakarta, aku mendapat kesempatan lagi untuk mengikuti Pelatihan Jurnalisme Warga di Jakarta yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Pelatihan ini semakin mengasah kemampuan menulisku. Aku jadi semakin rutin menulis untuk buletin Cermin Pekka yang terbit setiap tiga bulan.

Tidak selamanya aku mendapat kesenangan selama bergabung dengan Pekka. Ada pula peristiwa yang mengecewakan, seperti yang terjadi pada 2015. Bagaimana tidak mengecewakan, Ketua Serikat Kubu Raya yang saat itu merangkap sebagai Ketua LKM Mitra Usaha Kecamatan Kakap melakukan korupsi keuangan di Lembaga Keuangan Mikro. Namaku bahkan tercatat sebagai salah satu peminjam uang.

Aku benar-benar kaget, marah dan kecewa. Hal yang sama juga dirasakan oleh anggota yang lain. Akibatnya, kepercayaan dari anggota kelompok hilang dan banyak yang mengundurkan diri karena kejadian ini.  Atas inisiatif sendiri, aku berusaha mengembalikan kepercayaan anggota dengan memberikan penjelasan semaksimal mungkin pada saat menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok.

Ketua kelompok yang melakukan korupsi itu pun akhirnya diberhentikan dari kepengurusan dan harus mengganti uang anggota yang berjumlah kurang lebih Rp 20 juta. Dia harus mengangsurnya hingga lunas.

Pada tahun 2016, Yayasan PEKKA bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dan lembaga INSPIRIT mengembangkan inisiatif PEKKA PERINTIS (Perempuan Kepala Keluarga Inovator Indonesia). Program ini melibatkan kader Pekka, pendamping dan aktivis untuk menemukan perempuan kepala keluarga yang telah berkiprah sebagai kader penggerak di masyarakat.

PEKKA PERINTIS menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman perempuan terkait inovasi yang telah mereka lakukan di masyarakat agar dapat didokumentasikan dan dipublikasikan ke seluruh Indonesia sebagai inspirasi dalam memberdayakan masyarakat.

Aku terpilih untuk menjadi promotor PEKKA PERINTIS dan mengikuti pelatihan bagi promotor yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA di Bogor. Para promotor diminta untuk membuat tulisan 15 orang perempuan inspiratif di lain desa dalam satu kabupaten. Satu bulan kemudian kami diminta mengumpulkan tulisan tersebut, dan tulisanku terpilih. Terpilihnya tulisanku memberi kesempatan bagiku untuk mengikuti rangkaian kegiatan PEKKA PERINTIS di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada November 2016.

Acara ini betul-betul berkesan bagiku. Aku bisa bertemu dengan 1.800 orang PEKKA PERINTIS dari 34 Propinsi di Indonesia. Temanku bertambah banyak sejak saat itu. Di acara ini, aku juga berkesempatan bertemu langsung dengan Menteri KPPPA, Ibu Yohana Susana Yembise, yang selama ini hanya bisa aku lihat di televisi.

Aku semakin terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Pada tanggal 31 Oktober – 6 Nopember 2016, aku kembali terpilih untuk mengikuti Pelatihan Jurnalisme Warga Pekka di Bekasi.

Pada pelatihan kali ini aku belajar menulis feature. Yang aku pahami, secara garis besar teknik menulis feature sama dengan menulis cerita pendek, yakni mengisahkan atau menceritakan tentang suatu peristiwa dengan detail, faktual dan akurat namun bisa dibuat “dramatis”  untuk menggugah emosi pembaca. Hal yang sama sekali baru bagiku. Namun, aku senang sekali bisa mempelajari teknik ini.

 

Aku dan Akademi Paradigta

Keberhasilanku tidak berhenti pada bidang penulisan. Pada tanggal 15-20 Mei 2017 aku juga dipilih oleh fasilitator lapang untuk mengikuti pelatihan sebagai Tim Mentor Akademi Paradigta yang diselenggarakan di Kanopi, Pontianak.

Awalnya aku menolak keras karena merasa tidak sanggup membagi waktu untuk bekerja jika nanti aku terpilih menjadi Mentor Akademi Paradigta. Aku ‘kan harus tetap bekerja di ladang untuk biaya pendidikan anak-anak, karena tidak ada bantuan lain atau Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk anak-anakku. Jadi, jangan sampai anak-anak putus sekolah seperti aku,” pikirku waktu itu.

Namun, aku diyakinkan oleh fasilitator lapang saat itu bahwa aku hanya akan mengikuti pelatihan tersebut sebagai peserta, bukan sebagai calon tim mentor Akademi Paradigta karena wilayah Kubu Raya tidak termasuk dalam wilayah pendanaan proyek yang ada saat itu. Dengan senang hati, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti  rangkaian pelatihan tersebut.

Tapi jalan hidupku berkata lain. Usai mengikuti pelatihan, aku mendapatkan sertifikat mentor dan diminta membuka kelas belajar Akademi Paradigta di Desa Sungai Itik untuk tahun ajaran 2017-2018 di enam desa, yaitu Desa Punggur Besar, Punggur Kecil, Punggur Kapuas, Sungai Belidak, Sungai Kakap, Sungai Itik dan Jeruju Besar.

Seiring berjalannya waktu, dengan tekun aku menjalani tanggung jawabku mengajar di kelas Akademi Paradigta. Hingga tiba saatnya proses wisuda pada Maret 2018. Ini merupakan wisuda angkatan ke-2 setelah angkatanku. Seperti mimpi rasanya, karena wisuda ini dilakukan di Auditorium Universitas Tanjung Pura.

Aku sangat bangga menjadi mentor yang terlibat dalam wisuda ini. Tak hanya sampai di situ, kelasku juga terpilih untuk membacakan testimoni perwakilan peserta. Betapa hatiku dilimpahi rasa syukur. Aku yang dulu diremehkankan, yang tak seorang pun yang mau percaya untuk mempekerjakanku di lahan mereka, bisa berada di posisi yang lebih baik dari mereka.

Walau telah menjadi mentor Akademi Paradigta dan juga aktif di berbagai kegiatan, aku tetap menyempatkan diri untuk mengurus Serikat Pekka. Jika ada waktu, aku tetap hadir di kelompok di lingkungan kecamatan tempat aku tinggal. Keterampilanku dalam mengorganisir kelompok semakin terasah, karena aku rajin mengunjungi kelompok dan memberikan semangat kepada para anggotanya.

Sebagai mentor Akademi Paradigta, kembali aku diundang untuk mengikuti pelatihan revisi modul Akademi Paradigta yang diselenggarakan di Gadog-Bogor pada tanggal 23-30 Juni 2019. Pada pelatihan ini, aku seperti mendapat tanggung jawab baru karena diberi mandat untuk menjaga kelas Akademi Paradigta agar tetap berjalan, meskipun tanpa pendanaan dari Yayasan PEKKA.

Sepulang dari pelatihan ini, aku bersama fasilitator lapang dan pengurus serikat langsung membuat proposal dan berkunjung ke Bupati dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kubu Raya untuk menanyakan dan memberikan usulan terkait Program Akademi Paradigta yang selama ini sudah berjalan dan bermanfaat untuk desa, supaya bisa didanai oleh Pemerintah Daeerah.

Tugas ini tidak mudah untuk dilakukan, karena hampir setiap hari selama satu minggu kami harus bolak-balik ke kantor pemerintah desa  dan kantor Bupati dengan mengendarai sepeda motor motor selama kurang lebih 1,5 jam. Tak jarang kami tertidur di ruang tunggu karena kelelahan.

Pernah suatu kali, kami tertidur dan tidak menyadari bahwa ruangan tersebut ternyata dipantau kamera CCTV. Saat kami sudah diizinkan masuk, barulah kami menyadari ternyata mereka melihat  kami tertidur d iruang tunggu. Sungguh itu menjadi pengalaman lucu yang selalu kami syukuri. Alhamdulillah, usaha keras kami membuahkan hasil, Bapak Bupati setuju untuk mendanai kegiatan kelas Akademi Paradigta di Kubu Raya.

 

Pengacara Tak Bergelar

Ada gejolak rasa bangga saat duduk di kursi beroda yang bisa diputar-putar arahnya, kursi yang hanya bisa diduduki orang terpilih dan berpangkat. Kursi yang seolah memberi tanda bahwa orang yang duduk di atasnya bukan orang biasa. Kursi yang mengajak aku tenggelam dalam lamunan bayang-bayang perihnya perjalanan hidup masa lampau. “Ini kenyataan, Kar! Kamu bisa ada di sini dan melayani masyarakat yang datang, berjabat tangan dengan wakil bupati, kepala-kepala dinas, juga kepala desa.” 

Saat itu aku menjadi petugas KLIK PEKKA yang pertama kali diadakan di Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Rasau Jaya. Aku merasa seperti seorang pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) dari lulusan perguruan tinggi, padahal aku hanya punya ijasah SMP.

Tugasku saat itu adalah memfasilitasi dan melayani warga masyarakat yang datang mengadukan permasalahannya. Aku menyapa mereka, menanyakan tujuannya, apa permasalahan yang mereka alami, menjawab segala pertanyaan yang mereka ajukan.

Senang sekali dilibatkan dalam berbagai kegiatan KLIK PEKKA dan aku tidak pernah menolaknya. Aku selalu memotivasi  – bahkan memaksa – diri untuk bisa. Pekka telah menghantarku pada posisi dipercaya masyarakat untuk membantu pembuatan Kartu Keluarga (KK), mengantar perekaman Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk lansia yang belum melakukan perekaman, mengecek dan mengambil KTP elektronik di kantor catatan sipil, Akta Kelahiran, Akta Kematian, Surat Pindah, BPJS atau KIS, juga mendampingi gugat cerai. Nyaris seperti seorang pengacara yang bergelar Sarjana Hukum.

Banyak pengalaman yang tak terlupakan saat mengorganisir pelaksanaan KLIK PEKKA, di antaranya adalah saat aku dipercaya oleh fasilitator lapang dari Yayasan PEKKA, Dany Fitriana, untuk membantu kader Pekka di Kabupaten Bengkayang dalam penyelenggaraan KLIK Perlidungan Sosial.

Derasnya hujan yang turun sejak malam sebelumnya tidak menyurutkan niat kami menuju pool taksi (mobil travel) yang mengantar kami ke Bengkayang. Empat jam perjalanan membuat kepalaku pusing, mungkin aku mengalami mabuk perjalanan. Setibanya di lokasi tujuan, para petugas KLIK PEKKA sudah berkumpul di kantor Desa. Mereka berjumlah 12 orang, yang terdiri dari kader Pekka yang sudah dilatih untuk menyelenggarakan KLIK.

Menjelang pukul 10.30 WIB, narasumber dari Dinas Catatan Sipil belum tampak hadir. Aku dan salah seorang kader Pekka yang lain, Wahajah, mengambil alih peran Disdukcapil untuk melayani warga yang mengadukan dan berkonsultasi tentang kasus kepemilikan identitas seperti KTP, KK dan Akta Kelahiran.

Kejadian dan cerita unik memang kerap terjadi dalam kegiatan KLIK PEKKA yang sudah beberapa kali aku ikuti. Banyak di antara warga yang datang dengan “pakaian dinas” berladang. Lusuh dan kumal, dengan aroma bau keringat yang menyengat. “Takut tidak dapat antrian dan ketinggalan, juga baru dengar informasi ini,” begitu alasan mereka. Ini hal biasa bagi kami.

Di antara warga yang datang, ada seorang nenek yang usianya sekitar 70 tahun. Dia mengira bahwa KLIK PEKKA adalah tempat pembuatan KTP dan berharap bisa langsung mendapatkan KTP-nya di hari itu juga. Saya belum punya KTP dan mau membuat di sini, bisa? Biar saya bisa dapat bantuan,” tanya dia kepadaku. Dia bercerita, bahwa dia datang berjalan kaki dari rumahnya yang cukup jauh.

Dengan berhati-hati aku memberi penjelasan agar tidak melukai hatinya. “Kami bekerja sama dengan pihak desa untuk membuat surat keterangan bagi yang belum mempunyai KK supaya bisa diproses di kantor Catatan Sipil. Setelah mendapat KK nanti barulah dilakukan perekaman KTP elektronik di kecamatan. Nanti Kakak-kakak di Bengkayang (kader Pekka) yang akan membantu, atau Pak RT di kampung Nenek. Maaf ya Nek, tidak mungkin bisa dapat KTP hari ini,” kataku panjang lebar sambil sambil tersenyum dan memegang erat kedua tangan keriputnya di atas meja, agar dia tak kecewa. Sang nenek pun ikut tersenyum sebelum meninggalkan kursinya.

Di meja pengaduan kasus Akta Kelahiran pun tak kurang banyaknya. Tampak tumpukan berkas menumpuk di meja. Hampir pukul 15.00 WIB, Maknya (sebutan untuk perempuan Tionghoa setengah baya) datang membawa enam akta kelahiran anaknya yang sudah dilaminating. Aku terkejut karena baru di Bengkayang ini menemukan tulisan di Akta Kelahiran yang menyatakan anak di luar nikah. Misalnya, Andi adalah anak di luar nikah dari Heri dan Yuli. Maknya ingin mengubah Akta Kelahiran anak-anaknya agar tidak tertulis anak di luar nikah.

Karena ini kasus pertama bagiku, aku berkonsultasi dengan Kepala Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil Kabupaten Kubu Raya yang sudah aku kenal melalui telepon.  Beliau menjelaskan bahwa pada UU No. 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk), apabila pada saat membuat Akta Kelahiran kedua orang tuanya belum memiliki atau mencatatkan perkawinannya, maka status hukum anak terhadap orang tuanya adalah “anak di luar kawin”. Namun, setelah berlakunya UU No. 29/2006, maka status anak tidak lagi sebagai “anak di luar nikah” tetapi menjadi “anak seorang ibu”.

Penyelesaian hal di atas adalah dengan mencatatkan perkawinan orang tuanya terlebih dahulu. Bagi yang beragama Islam melalui Isbat Nikah dan yang Non-Islam melalui pencatatan di Dinas Dukcapil. Penjelasan Kepala Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil Kabupaten Kubu Raya ini, tulisan yang tertera pada Akta Kelahiran yang dibawa Maknya tersebut tidak bisa diubah.

KLIK yang diselenggarakan di tingkat desa membuat masyarakat antusias, karena mereka bisa datang dengan berjalan kaki, atau mengendarai sepeda motor butut. Mereka bahkan tidak harus meninggalkan pekerjaannya di sawah atau di kebun.

Aku berharap pemerintah sadar dan peduli terhadap kasus-kasus ketiadaan identitas, terutama pada masyarakat miskin dari banyaknya temuan data yang kami sampaikan serta bisa memberi dukungan dengan pendanaan dari dana desa untuk kegiatan KLIK PEKKA selanjutnya.

 

Sinar yang Tak Akan Pernah Redup

Dari perjalanan panjang yang aku ikuti melalui berbagai kegiatan dan pelatihan selama di Pekka, banyak perubahan terjadi dalam diriku. Harus aku akui, ada perasaan bangga yang merasuk menembus dinding hati. Aku yang dulu selalu merasa minder dan menganggap diri ini bukan siapa-siapa – bahkan sering ditolak, sekarang aku dipandang “ADA”. Aku dianggap mampu membantu dalam mengurus identitas hukum di desaku. Aku bisa berbagi ilmu ketika mengajar di kelas Akademi Paradigta, dan aku juga sering menjadi tempat konsultasi para akademia dalam pembuatan karya tulis mereka.

Sebagai seorang ibu yang menjadi kepala keluarga, aku juga sangat bersyukur dan bangga bisa menyekolahkan anak-anakku. Berbagai upaya aku lakukan semampuku, agar anak-anak tidak perlu menguburkan mimpinya seperti aku dulu. Meski aktif di Pekka, aku tidak pernah melupakan tanggung jawabku sebagai seorang ibu.

Saat ini anak pertamaku telah duduk di semester enam IKIP PGRI Pontianak dan mendapat predikat sebagai mahasiswa terbaik. Sementara anak keduaku saat ini sudah duduk di kelas tiga SMA. Meskipun mereka sibuk dengan kegiatan sekolah, mereka tetap aku libatkan untuk membantuku di sawah, agar kelak mereka juga tumbuh menjadi anak yang mandiri, pekerja keras dan tidak sombong.

Sebagai seorang ibu, tentu aku juga harus memperhatikan kebutuhan kasih sayang untuk kedua anakku. Aku ingin anak-anak mengenal dan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya juga. Lalu aku sengaja menabung agar bisa mengajak anak-anak bertemu dengan ayah dan keluarga besarnya di Tanah Karo.

Hingga pada tahun 2016, aku dan anak-anak berkunjung ke Tanah Karo ke rumah neneknya. Namun sayang, anak-anak tidak bisa bertemu dengan ayahnya karena memang suamiku tidak pernah lagi pulang ke rumah orang tuanya.

Sekalipun tumbuh tanpa sosok seorang ayah, namun mereka tidak pernah malu dengan kehidupan dan statusku sebagai seorang janda. “Mungkin kalau Ayah ada bersama kita, Mbak dan Adek tidak akan bisa hidup mandiri seperti saat ini, Mak.” Begitu ucap mereka ketika aku bertanya, apakah mereka malu mempunyai ibu sepertiku.

Perubahan itu harus lahir dari kemauan untuk berubah dan kemampuan melawan pikiran negatif tentang diri sendiri. Bersama Pekka dan Serikat Pekka, aku telah menjalani proses panjang untuk keluar dari belenggu ketidakberdayaan menuju jalan bermartabat. Sampai sekarang aku terus menjalani hidup dengan aktifitas bermanfaat dan tetap istiqomah di jalan Allah.

Aku Kalahkan Ketakutan Itu:

Kisah Diri Karmani

 

Rasa rendah diri tertanam di dalam diriku sejak kecil.

Kesulitan yang datang silih berganti justru membuatku kuat.

Pekka lalu datang dan membukakan jalan bagiku.

 

Tangan kanan lebih pendek dari tangan kiri. Kelainan fisik ini membuatku sering dianggap lemah. Mencuci piring tidak boleh, takut pecah. Mencuci beras tidak boleh, takut tumpah.

Namaku Karmani. Aku  lahir pada bulan Maret 1975 di Desa Parit Keladi, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Aku memiliki satu orang kakak dan dua orang adik. Kelainan fisik yang aku derita sejak lahir membuatku tersiksa. Orang tua mengasihaniku. Aku diperlakukan berbeda dengan saudara-saudaraku. Aku tumbuh dengan rasa rendah diri yang tinggi.

Perasaan minder nyatanya tidak menghalangiku untuk mencatat prestasi. Nilai terbaik di sekolah aku raih ketika lulus dari sekolah dasar. Prestasi ini berlanjut ketika aku lulus dari SMP Negeri Sungai Kakap pada 1992. Aku kembali lulus dengan nilai paling tinggi. Meski demikian, aku tetap tidak punya banyak teman. Aku memilih tidak bermain karena aku takut tangan kananku patah.

Aku kebingungan ketika hendak masuk SMA. Bila aku ingin meneruskan sekolah, aku harus ke Pontianak. Di kecamatan tempat aku tinggal tidak ada SMA. Aku perlu menempuh satu jam perjalanan dengan sepeda motor. Namun, keadaan fisik tidak memungkinkanku untuk melakukannya. Sementara, orang tuaku tidak bisa membayariku tinggal di rumah kos.

 

Bekerja Demi Meraih Cita-cita

Minat belajarku tetap tinggi, dan itu tidak mampu aku bendung. Aku sibuk berpikir mencari cara, bagaimana agar aku bisa tetap melanjutkan sekolah. Hingga akhirnya seorang teman mengajakku bekerja pada satu keluarga keturunan Arab di Pontianak. Mereka bersedia menjadi orang tua asuhku, asalkan aku mau mengerjakan pekerjaan domestik di rumah mereka.

Aku tidak pedulikan lagi keterbatasan fisik yang ada pada diriku. Lama kelamaan, aku terlatih untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan.

Tentu saja aku sedih karena harus hidup jauh dari orang tua. Meski demikian, aku selalu bersemangat untuk bersekolah. Aku ingin membuktikan, bahwa aku bisa sukses walaupun aku cacat. Aku selalu berhasil mencuri waktu untuk belajar. Jam kerjaku yang amat panjang hanya menyisakan sedikit waktu untukku beristirahat. Aku harus bangun pukul 3 dini hari untuk membersihkan rumah, menyiapkan sarapan, dan memasak untuk makan siang. Sepulang sekolah, aku harus mencuci baju dengan tangan, memasak untuk makan malam, merapikan rumah, dan menyetrika pakaian. Aku baru bisa tidur setelah jam berdentang dua belas kali.

Demi membahagiakan orang tua, aku rela mengerjakan semuanya. Aku pun berhasil naik ke kelas dua dengan nilai baik, dan bisa mengambil jurusan biologi. Aku berharap bisa menjadi seorang perawat.

 

Pelecehan Seksual Menghancurkan Impian

Aku terpaksa keluar dari rumah itu setelah anak laki-laki mereka pulang. Sebelumnya dia bekerja sebagai konsultan bangunan di Jakarta. Dia sering menggangguku, mencolek atau memegang-megang bagian tubuhku. Pernah suatu malam, dia tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku merasa takut, rishi, dan jijik. Aku hanya mampu menghindar, tidak bisa melawan.

Setelah kejadian itu, aku menumpang tinggal di rumah orang tua asuh kawanku selama dua bulan. Mereka bersedia menanggung biaya sekolahku. Namun, aku lihat hidup mereka pas-pasan, sehingga aku memutuskan untuk pergi. Aku mencoba mencari orang tua asuh baru, tetapi tidak ada. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku.

Semangat belajarku belum surut. Aku mencoba tetap bersekolah dengan mengendarai sepeda. Aku harus berangkat pagi sekali, menempuh jalanan yang becek dan penuh belukar selama dua setengah jam. Aku sering kelelahan begitu tiba di rumah. Orang tuaku jatuh iba, dan melarangku untuk melanjutkan sekolah.

 

Pahitnya Pernikahanku

            Aku melanjutkan hari-hariku dengan memendam rasa sedih dan kecewa. Tidak ada yang aku lakukan, selain membantu orang tuaku di ladang. Aku sempat juga bekerja di sebuah warung kopi, dengan upah Rp 25 ribu per bulan.

Tiga tahun setelah berhenti sekolah, seorang bibi menjodohkanku dengan anak angkatnya, seorang perantau dari Medan. Aku berusia dua puluh satu tahun saat itu, usia yang dianggap perawan tua bila belum menikah. Aku menerima perjodohan itu, karena tidak ingin mengecewakan orang tua.

Sesuai catatan KUA, aku menikah di pekan terakhir Agustus 1996. Bahagia, tentu itu yang aku rasakan. Aku berharap pernikahan ini akan menghentikan omongan miring terhadapku yang tak kunjung menikah. Aku juga ingin hidupku menjadi lebih baik setelah menikah, dan dapat meringankan beban orang tua.

Kebahagiaanku semakin lengkap tatkala mengetahui bahwa aku hamil pada November 1996. Aku merasa lengkap sebagai perempuan. Meskipun aku cacat fisik, aku bisa menikah dan punya anak. Kebahagiaanku terhenti ketika masa kehamilanku memasuki usia dua bulan. Suamiku tak kunjung pulang setelah sebelumnya dia pamit untuk membeli kasur di pasar.

Kesedihanku tidak berhenti sampai di situ. Ketika kandunganku berusia enam bulan, dokter mendiagnosis aku menderita penyakit liver. Kondisiku sangat lemah, sehingga bayiku lahir prematur. Dua hari kemudian Tuhan memanggilnya. Saat itu, aku merasa gagal, kecewa, dan sangat menderita.

Aku kembali hidup bersama suamiku setelah mertuaku datang pada akhir September 1999. Mereka menjemputku untuk tinggal bersama mereka di Berastagi, Tanah Karo, Sumatera Utara. Ternyata, selama ini suamiku tinggal di sana.

Awalnya aku sempat ragu untuk ikut mertuaku. Dorongan untuk membahagiakan orang tua, juga bujukan dari mertua membuatku memutuskan untuk kembali hidup bersama suami di Berastagi. Kami hidup bersama lagi, dan akhirnya aku hamil lagi. Bukan main senangnya! Aku masih diberi kesempatan untuk menjadi seorang ibu.

Di balik kebahagiaan ini, aku merasa khawatir suami akan meninggalkanku lagi. Kekhawatiranku terbukti benar. Ketika kehamilanku mencapai usia enam bulan, suami pamit untuk pergi ke Medan. Hendak membeli alat elektronik, begitu dia bilang. Namun, dia tidak kunjung pulang. Tidak pula memberi kabar. Kembali aku harus merasa kecewa dan hancur. Aku tidak punya pilihan selain tinggal bersama mertua dan saudara ipar di Berastagi.

Setelah suami pergi, aku baru tahu bahwa dia terlilit hutang. Aku tidak sengaja mendengar hal ini, ketika suatu hari seorang penagih hutang datang dan berbicara dengan mertuaku. Pernah juga ada penagih hutang yang langsung datang kepadaku. Mereka tidak berani menagih karena melihatku sedang hamil. Mereka hanya bisa mendoakanku, supaya aku dan bayi tetap sehat dan suamiku berubah dan cepat kembali. Pilu rasanya. Tetapi aku tidak punya pilihan. Tentu saja hal ini aku rahasiakan kepada orang tuaku agar tidak menjadi beban mereka.

Bayiku lahir pada pertengahan tahun 2000. Putri yang cantik jelita. Aku melahirkan tanpa didampingi suami. Namun selalu berusaha menerima keadaanku dengan kebesaran hati.

Suamiku akhirnya muncul di tengah-tengah keluarga ketika putriku berusia dua tahun. Saat itu sebuah acara keluarga tengah digelar. Aku memberanikan diri untuk meminta diantar pulang ke Kalimantan. Suami menolak permintaanku. Tapi aku memaksa. “Jika aku pulang membawa anak tanpa suami, maka keluarga dan masyarakat akan beranggapan buruk tentang kamu,” begitu kataku. Dia akhirnya mengalah, dan mau ikut aku pulang ke Kalimantan dan membangun hidup baru.

Kami tinggal di rumah orang tuaku. Suamiku tidak betah karena dia tidak punya pekerjaan tetap dan tidak pandai bertani. Setiap hari dia selalu pamit pergi untuk bekerja, tetapi tidak pernah ada sepeser pun uang yang berhasil dia bawa untukku dan anak kami. Nenekku jadi sering menjelek-jelekkkan suamiku karena hal ini. Sebagai istri, tentu aku tidak suka suamiku dijelek-jelekkan.

Aku menceritakan kegundahanku ini kepada Bapak. Beliau mengizinkan kami untuk membuat pondok kecil di tanah miliknya. Letaknya kurang lebih satu kilometer dari rumah orang tuaku. Saat kami pindah, rumah itu belum memiliki pintu dan jendela, juga kamar dan dapur. Tetapi aku senang. Ini adalah rumah pertama kami.

Lagi-lagi kekhawatiranku yang dulu muncul. Dan terbukti benar. Entah setan apa yang merasuki otak suamiku. Dia pergi lagi dari rumah ketika ketika aku sedang hamil enam bulan. Kali ini pergi mencari rumput untuk kelinci yang menjadi alasan. Sejak saat itu, dia tidak pernah kembali lagi. Hilang tanpa jejak. Lenyap seperti ditelan bumi. Sampai sekarang.

Aku melahirkan seorang bayi laki-laki, anak kedua kami, pada pertengahan Juni 2003. Kehidupan yang harus aku jalani terasa semakin berat. Aku diejek dan diremehkan orang karena ditinggal sama suami tanpa kabar. Mereka beranggapan, aku adalah penyebab utama suami pergi dari rumah.

 

Berusaha Bangkit

Kenyataan bahwa aku harus menghidupi dua anak membuatku bertahan. Aku tidak menghiraukan kata-kata orang. Aku harus kuat. Tidak seorang pun yang boleh menghina anak-anakku karena keadaan ini.

Terkadang, aku merasa menjadi ibu yang paling kejam di dunia, karena aku sering melarang anak-anakku menangis. “Jangan menangis, Nak. Nanti dikira orang kita lapar!” Begitu jelasku kepada mereka, meski aku tahu, mereka belum mengerti.

Cacat di tubuhku seringkali menjadi hambatan untuk mendapat pekerjaan. Aku masih bisa mengingat dengan jelas, ketika dimarahi seorang pemilik sawah karena padinya mati semua. Dia anggap tanganku yang cacat menjadi penyebabnya. Padahal, padinya mati karena dimakan hama. Akibat dari kejadian itu, banyak pemilik sawah yang tidak mau mempekerjakanku sebagai buruh tani.

Aku tidak mau menyerah. Aku ganti pekerjaanku dengan memetik jeruk di kebun milik seorang kerabat. Upahnya sangat kecil: tiga ratus rupiah untuk tiap kilogram jeruk yang berhasil aku petik. Dalam satu hari, aku hanya bisa memperoleh sembilan ribu rupiah, karena aku hanya bisa menggunakan satu tangan.

Aku tidak akan mampu menyekolahkan anak-anak bila aku hanya menjadi buruh. Aku sibuk berpikir, mencari cara supaya bisa menambah pendapatan. Aku pun membuat kue kembang goyang, kue lapis beras, dan pisang goreng untuk aku jajakan keliling kampung. Sebagian aku titipkan di warung. Cara ini berhasil membuatku bisa menyisihkan uang, sedikit demi sedikit.

Pada saat yang sama, di kampungku masih banyak tanah yang belum dibuka. Aku memberanikan diri untuk meminta izin kepada salah seorang pemilik lahan, agar aku bisa memakai lahan miliknya. Setelah mendapat izin, dengan semangat tinggi aku membersihkan dan menanami lahan tersebut dengan padi. Hasilnya, aku berhasil memanen dalam jumlah yang memuaskan.

Namun, setelah panen, aku tidak diizinkan lagi menggarap lahan itu. Pemiliknya meminta uang sewa bila aku masih mau menggunakan lahannya. Sementara uangku tidak cukup untuk membayar sewanya. Akhirnya lahan itu berpindah ke tangan orang lain.

Aku mencari lahan lain yang bisa aku garap. Aku mulai membuka lagi lahan dari awal, menanaminya lagi, dan berhasil panen lagi. Kejadian yang sama berulang. Pemiliknya meminta uang sewa setelah melihat aku berhasil panen. Beberapa kali terulang seperti itu.

Akhirnya, salah seorang adik kandungku memberikan sedikit lahan garapan miliknya untuk aku kelola. Sejak saat itu aku menggarap sawah dengan serius. Selain untuk bisa membiayai sekolah anak-anakku, aku juga ingin menunjukkan kepada adikku, bahwa aku juga mampu mendapatkan hasil panen yang sama banyaknya dengan orang lain.

 

Aku dan PEKKA

Perlahan dan pasti, perubahan ke arah yang lebih baik terjadi dalam kehidupanku. Dimulai pada 12 Oktober 2012, ketika aku diajak bergabung menjadi anggota Pekka Kelompok Mawar, Dusun Cendrawasih, Desa Sungai Kakap. Aku bahkan terpilih menjadi ketua kelompok.

Awalnya aku ragu. Aku takut tidak bisa hadir dalam pertemuan kelompok karena harus bekerja di ladang. Aku takut tidak bisa ikut kegiatan menabung karena tidak punya uang. Aku takut tidak punya cukup waktu untuk pertemuan karena sibuk mencari nafkah. Berbagai ketakutan lain terus bermunculan.

Ketakutan-ketakutan itu aku singkirkan dengan satu tekad: memperbaiki hidup. Aku berusaha mengatur waktu sebaik mungkin supaya tetap bisa bekerja memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus menjalankan tanggung jawabku sebagai ketua kelompok.

Setiap pertemuan memberiku motivasi melalui cerita dari ibu-ibu kader yang sudah berpengalaman. Mereka menjabarkan bagaimana caranya membentuk dan merawat kelompok untuk tetap aktif. Juga pengalaman ketika mendampingi masyarakat dalam mengakses dokumen legalitas, atau melobi pemangku kepentingan. Semua cerita itu menjadi penyemangatku untuk terus aktif dalam berkegiatan, dan tentu saja aku senang. Aku jadi punya banyak teman.

 

Halangan adalah Tantangan

Pada tahun 2013 aku mengikuti Forum Wilayah (Forwil) yang diadakan di kecamatan tempat tinggalku. Forum Wilayah adalah acara di mana para anggota Pekka saling bertemu untuk bersilaturahim. Selain itu, Forwil merupakan ajang konsolidasi gerakan. Berbagai kegiatan digelar, seperti: Mubes, pameran foto, pameran produk dan dialog dengan pemerintah setempat.

Melalui Forwil aku bertemu dengan angggota Pekka yang datang dari berbagai wilayah. Aku juga bertemu dengan Bupati Kubu Raya, Bapak Muda Mahendrawan, pendiri dan Direktur Yayasan PEKKA, Ibu Nani Zulminarni, dan para pendamping lapang. Mereka terlihat hebat saat berbicara di forum ini. Aku jadi kagum dan ingin seperti mereka.

Aku ingat betul, waktu itu aku belum punya kendaraan. Untuk bisa menghadiri Forwil, aku harus berjalan kaki sekitar tiga kilometer. Aku tidak bisa menginap karena tidak ada yang menjaga anak-anak di rumah. Lelah yang timbul terhapus setiap sore ketika sampai di rumah. Anak-anak akan berteriak kegirangan menyambutku yang berlari kecil ketika sudah dekat rumah. Mereka akan berebut oleh-oleh yang aku bawa: makanan kecil yang disediakan sebagai pengisi rehat sore sambil tertawa riang.

Setelah Forwil, aku dan rekan-rekan di Kelompok Mawar membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL). RTL ini menyebut Pelatihan Visi, Misi, dan Motivasi Berkelompok bagi kelompok yang baru terbentuk.  Kelompokku termasuk yang ikut dalam pelatihan ini, karena baru terbentuk. Kami pun mengikuti Pelatihan Visi, Misi, dan Motivasi Berkelompok tanggal 21 November 2013. Dan setelah itu, aku semakin tertarik untuk terlibat di kegiatan-kegiatan lainnya.

Satu-satunya penghalang hanyalah aku tidak punya sepeda motor, dan belum bisa mengendarainya. Halangan ini aku ubah menjadi tantangan. Aku menjadi semakin rajin menabung. Setelah dua tahun dan mengalami empat kali panen, akhirnya aku berhasil membeli sepeda motor bekas seharga Rp 5 juta. Aku pun segera berlatih dan dalam waktu singkat mahir mengendarai sepeda motor.

 

Berbagai Pelatihan dan Kegiatan

Tidak ada lagi yang merintangiku untuk terlibat aktif di Pekka. Apa pun pelatihan yang ditawarkan, pasti aku ikuti. Juga ketika aku diajak berkunjung ke kelompok-kelompok di desa lain. Pengetahuanku semakin bertambah, dan itu membuat rasa percaya diriku meningkat.

Hingga suatu hari, aku terpilih untuk mengikuti Pelatihan Paralegal yang diadakan di Hotel Santika, Bekasi, pada tanggal 7-14 Juni 2014. Aku senang bukan main, meski ada juga sedikit keraguan dalam hati apakah aku akan mampu mengikuti kegiatan ini dengan baik. Pikiranku juga terbebani dengan keharusan meninggalkan anak-anak selama satu minggu. Namun, aku meyakinkan diri dan anak-anak, bahwa ini adalah kesempatan baik untuk kami.

Aku mengikuti enam hari pelatihan ini dengan intensif. Pada pelatihan ini aku belajar memahami, berdiskusi dan berpraktik sebagai paralegal Pekka. Aku pun memahami amanah yang diemban oleh seorang paralegal Pekka, yakni menjembatani dan memperluas akses perempuan, terutama perempuan kepala keluarga, terhadap keadilan dan perlindungan hukum.

Pada tanggal 5 September 2014, aku mengikuti peluncuran KLIK Pekka di Kecamatan Rasau Jaya. Acara tersebut dihadiri oleh Ibu Nani dan Mbak Fitria Villa Sahara dari Yayasan PEKKA dan dibuka oleh Wakil Bupati Kubu Raya, Bapak Hermanus.

Dalam acara KLIK Pekka ini, aku mendapat tugas menjelaskan tentang Dokumen Kependudukan (Akta Kelahiran, Gugat Cerai, dll). Aku bangga karena bisa membantu dan melayani masyarakat yang datang. Aku bisa melayani masyarakat dan menjawab pertanyaan mereka seputar persoalan yang berkaitan dengan Dokumen Kependudukan. Keterlibatan ini memunculkan sedikit rasa bangga dalam hati kecilku. Aku bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama.

 

Memetik Buah Perjuangan

Semakin banyak kegiatan yang aku ikuti pada 2014. Di antaranya adalah Pelatihan Jurnalisme Warga Pekka di Mataram, NTB, pada tanggal 20-25 Oktober 2014. Ternyata aku suka menulis. Dalam pelatihan ini, aku dilatih teknik menulis dengan baik dan benar.

Awalnya, aku belajar menuliskan kejadian yang terjadi di lingkungan tempat tinggal, juga menuliskan kegiatan kelompok layaknya seorang jurnalis. Aku kirim tulisan-tulisanku melalui melalui WhatsApp Group, juga aku unggah di Facebook.

Tulisan pertamaku yang berjudul “Profil Mahdalena” dimuat dalam bulletin Cermin (Cerita dan Mimpi) Pekka. Sejak saat itu aku semakin sering menulis, dan banyak tulisanku yang dimuat di buletin milik Pekka ini. Buletin ini didistribusikan kepada anggota Serikat Pekka dan ke pemerintah desa hingga kabupaten sebagai alat advokasi.

Keaktivanku dalam menulis membuatku dilibatkan dalam Pelatihan Jurnalisme Warga Sadar Lingkungan pada tahun 2015. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, yang dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Setiap pesertanya diminta untuk membuat tulisan dan video dengan tema lingkungan hidup. Hasil tulisan dan video yang aku buat mendapat nilai bagus sehingga terpilih untuk mengikuti pelatihan lanjutan di Yogyakarta bersama utusan provinsi lain.

Satu minggu setelah pulang dari Yogyakarta, aku mendapat kesempatan lagi untuk mengikuti Pelatihan Jurnalisme Warga di Jakarta yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Pelatihan ini semakin mengasah kemampuan menulisku. Aku jadi semakin rutin menulis untuk buletin Cermin Pekka yang terbit setiap tiga bulan.

Tidak selamanya aku mendapat kesenangan selama bergabung dengan Pekka. Ada pula peristiwa yang mengecewakan, seperti yang terjadi pada 2015. Bagaimana tidak mengecewakan, Ketua Serikat Kubu Raya yang saat itu merangkap sebagai Ketua LKM Mitra Usaha Kecamatan Kakap melakukan korupsi keuangan di Lembaga Keuangan Mikro. Namaku bahkan tercatat sebagai salah satu peminjam uang.

Aku benar-benar kaget, marah dan kecewa. Hal yang sama juga dirasakan oleh anggota yang lain. Akibatnya, kepercayaan dari anggota kelompok hilang dan banyak yang mengundurkan diri karena kejadian ini.  Atas inisiatif sendiri, aku berusaha mengembalikan kepercayaan anggota dengan memberikan penjelasan semaksimal mungkin pada saat menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok.

Ketua kelompok yang melakukan korupsi itu pun akhirnya diberhentikan dari kepengurusan dan harus mengganti uang anggota yang berjumlah kurang lebih Rp 20 juta. Dia harus mengangsurnya hingga lunas.

Pada tahun 2016, Yayasan PEKKA bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dan lembaga INSPIRIT mengembangkan inisiatif PEKKA PERINTIS (Perempuan Kepala Keluarga Inovator Indonesia). Program ini melibatkan kader Pekka, pendamping dan aktivis untuk menemukan perempuan kepala keluarga yang telah berkiprah sebagai kader penggerak di masyarakat.

PEKKA PERINTIS menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman perempuan terkait inovasi yang telah mereka lakukan di masyarakat agar dapat didokumentasikan dan dipublikasikan ke seluruh Indonesia sebagai inspirasi dalam memberdayakan masyarakat.

Aku terpilih untuk menjadi promotor PEKKA PERINTIS dan mengikuti pelatihan bagi promotor yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA di Bogor. Para promotor diminta untuk membuat tulisan 15 orang perempuan inspiratif di lain desa dalam satu kabupaten. Satu bulan kemudian kami diminta mengumpulkan tulisan tersebut, dan tulisanku terpilih. Terpilihnya tulisanku memberi kesempatan bagiku untuk mengikuti rangkaian kegiatan PEKKA PERINTIS di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada November 2016.

Acara ini betul-betul berkesan bagiku. Aku bisa bertemu dengan 1.800 orang PEKKA PERINTIS dari 34 Propinsi di Indonesia. Temanku bertambah banyak sejak saat itu. Di acara ini, aku juga berkesempatan bertemu langsung dengan Menteri KPPPA, Ibu Yohana Susana Yembise, yang selama ini hanya bisa aku lihat di televisi.

Aku semakin terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Pada tanggal 31 Oktober – 6 Nopember 2016, aku kembali terpilih untuk mengikuti Pelatihan Jurnalisme Warga Pekka di Bekasi.

Pada pelatihan kali ini aku belajar menulis feature. Yang aku pahami, secara garis besar teknik menulis feature sama dengan menulis cerita pendek, yakni mengisahkan atau menceritakan tentang suatu peristiwa dengan detail, faktual dan akurat namun bisa dibuat “dramatis”  untuk menggugah emosi pembaca. Hal yang sama sekali baru bagiku. Namun, aku senang sekali bisa mempelajari teknik ini.

 

Aku dan Akademi Paradigta

Keberhasilanku tidak berhenti pada bidang penulisan. Pada tanggal 15-20 Mei 2017 aku juga dipilih oleh fasilitator lapang untuk mengikuti pelatihan sebagai Tim Mentor Akademi Paradigta yang diselenggarakan di Kanopi, Pontianak.

Awalnya aku menolak keras karena merasa tidak sanggup membagi waktu untuk bekerja jika nanti aku terpilih menjadi Mentor Akademi Paradigta. Aku ‘kan harus tetap bekerja di ladang untuk biaya pendidikan anak-anak, karena tidak ada bantuan lain atau Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk anak-anakku. Jadi, jangan sampai anak-anak putus sekolah seperti aku,” pikirku waktu itu.

Namun, aku diyakinkan oleh fasilitator lapang saat itu bahwa aku hanya akan mengikuti pelatihan tersebut sebagai peserta, bukan sebagai calon tim mentor Akademi Paradigta karena wilayah Kubu Raya tidak termasuk dalam wilayah pendanaan proyek yang ada saat itu. Dengan senang hati, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti  rangkaian pelatihan tersebut.

Tapi jalan hidupku berkata lain. Usai mengikuti pelatihan, aku mendapatkan sertifikat mentor dan diminta membuka kelas belajar Akademi Paradigta di Desa Sungai Itik untuk tahun ajaran 2017-2018 di enam desa, yaitu Desa Punggur Besar, Punggur Kecil, Punggur Kapuas, Sungai Belidak, Sungai Kakap, Sungai Itik dan Jeruju Besar.

Seiring berjalannya waktu, dengan tekun aku menjalani tanggung jawabku mengajar di kelas Akademi Paradigta. Hingga tiba saatnya proses wisuda pada Maret 2018. Ini merupakan wisuda angkatan ke-2 setelah angkatanku. Seperti mimpi rasanya, karena wisuda ini dilakukan di Auditorium Universitas Tanjung Pura.

Aku sangat bangga menjadi mentor yang terlibat dalam wisuda ini. Tak hanya sampai di situ, kelasku juga terpilih untuk membacakan testimoni perwakilan peserta. Betapa hatiku dilimpahi rasa syukur. Aku yang dulu diremehkankan, yang tak seorang pun yang mau percaya untuk mempekerjakanku di lahan mereka, bisa berada di posisi yang lebih baik dari mereka.

Walau telah menjadi mentor Akademi Paradigta dan juga aktif di berbagai kegiatan, aku tetap menyempatkan diri untuk mengurus Serikat Pekka. Jika ada waktu, aku tetap hadir di kelompok di lingkungan kecamatan tempat aku tinggal. Keterampilanku dalam mengorganisir kelompok semakin terasah, karena aku rajin mengunjungi kelompok dan memberikan semangat kepada para anggotanya.

Sebagai mentor Akademi Paradigta, kembali aku diundang untuk mengikuti pelatihan revisi modul Akademi Paradigta yang diselenggarakan di Gadog-Bogor pada tanggal 23-30 Juni 2019. Pada pelatihan ini, aku seperti mendapat tanggung jawab baru karena diberi mandat untuk menjaga kelas Akademi Paradigta agar tetap berjalan, meskipun tanpa pendanaan dari Yayasan PEKKA.

Sepulang dari pelatihan ini, aku bersama fasilitator lapang dan pengurus serikat langsung membuat proposal dan berkunjung ke Bupati dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kubu Raya untuk menanyakan dan memberikan usulan terkait Program Akademi Paradigta yang selama ini sudah berjalan dan bermanfaat untuk desa, supaya bisa didanai oleh Pemerintah Daeerah.

Tugas ini tidak mudah untuk dilakukan, karena hampir setiap hari selama satu minggu kami harus bolak-balik ke kantor pemerintah desa  dan kantor Bupati dengan mengendarai sepeda motor motor selama kurang lebih 1,5 jam. Tak jarang kami tertidur di ruang tunggu karena kelelahan.

Pernah suatu kali, kami tertidur dan tidak menyadari bahwa ruangan tersebut ternyata dipantau kamera CCTV. Saat kami sudah diizinkan masuk, barulah kami menyadari ternyata mereka melihat  kami tertidur d iruang tunggu. Sungguh itu menjadi pengalaman lucu yang selalu kami syukuri. Alhamdulillah, usaha keras kami membuahkan hasil, Bapak Bupati setuju untuk mendanai kegiatan kelas Akademi Paradigta di Kubu Raya.

 

Pengacara Tak Bergelar

Ada gejolak rasa bangga saat duduk di kursi beroda yang bisa diputar-putar arahnya, kursi yang hanya bisa diduduki orang terpilih dan berpangkat. Kursi yang seolah memberi tanda bahwa orang yang duduk di atasnya bukan orang biasa. Kursi yang mengajak aku tenggelam dalam lamunan bayang-bayang perihnya perjalanan hidup masa lampau. “Ini kenyataan, Kar! Kamu bisa ada di sini dan melayani masyarakat yang datang, berjabat tangan dengan wakil bupati, kepala-kepala dinas, juga kepala desa.” 

Saat itu aku menjadi petugas KLIK PEKKA yang pertama kali diadakan di Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Rasau Jaya. Aku merasa seperti seorang pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) dari lulusan perguruan tinggi, padahal aku hanya punya ijasah SMP.

Tugasku saat itu adalah memfasilitasi dan melayani warga masyarakat yang datang mengadukan permasalahannya. Aku menyapa mereka, menanyakan tujuannya, apa permasalahan yang mereka alami, menjawab segala pertanyaan yang mereka ajukan.

Senang sekali dilibatkan dalam berbagai kegiatan KLIK PEKKA dan aku tidak pernah menolaknya. Aku selalu memotivasi  – bahkan memaksa – diri untuk bisa. Pekka telah menghantarku pada posisi dipercaya masyarakat untuk membantu pembuatan Kartu Keluarga (KK), mengantar perekaman Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk lansia yang belum melakukan perekaman, mengecek dan mengambil KTP elektronik di kantor catatan sipil, Akta Kelahiran, Akta Kematian, Surat Pindah, BPJS atau KIS, juga mendampingi gugat cerai. Nyaris seperti seorang pengacara yang bergelar Sarjana Hukum.

Banyak pengalaman yang tak terlupakan saat mengorganisir pelaksanaan KLIK PEKKA, di antaranya adalah saat aku dipercaya oleh fasilitator lapang dari Yayasan PEKKA, Dany Fitriana, untuk membantu kader Pekka di Kabupaten Bengkayang dalam penyelenggaraan KLIK Perlidungan Sosial.

Derasnya hujan yang turun sejak malam sebelumnya tidak menyurutkan niat kami menuju pool taksi (mobil travel) yang mengantar kami ke Bengkayang. Empat jam perjalanan membuat kepalaku pusing, mungkin aku mengalami mabuk perjalanan. Setibanya di lokasi tujuan, para petugas KLIK PEKKA sudah berkumpul di kantor Desa. Mereka berjumlah 12 orang, yang terdiri dari kader Pekka yang sudah dilatih untuk menyelenggarakan KLIK.

Menjelang pukul 10.30 WIB, narasumber dari Dinas Catatan Sipil belum tampak hadir. Aku dan salah seorang kader Pekka yang lain, Wahajah, mengambil alih peran Disdukcapil untuk melayani warga yang mengadukan dan berkonsultasi tentang kasus kepemilikan identitas seperti KTP, KK dan Akta Kelahiran.

Kejadian dan cerita unik memang kerap terjadi dalam kegiatan KLIK PEKKA yang sudah beberapa kali aku ikuti. Banyak di antara warga yang datang dengan “pakaian dinas” berladang. Lusuh dan kumal, dengan aroma bau keringat yang menyengat. “Takut tidak dapat antrian dan ketinggalan, juga baru dengar informasi ini,” begitu alasan mereka. Ini hal biasa bagi kami.

Di antara warga yang datang, ada seorang nenek yang usianya sekitar 70 tahun. Dia mengira bahwa KLIK PEKKA adalah tempat pembuatan KTP dan berharap bisa langsung mendapatkan KTP-nya di hari itu juga. Saya belum punya KTP dan mau membuat di sini, bisa? Biar saya bisa dapat bantuan,” tanya dia kepadaku. Dia bercerita, bahwa dia datang berjalan kaki dari rumahnya yang cukup jauh.

Dengan berhati-hati aku memberi penjelasan agar tidak melukai hatinya. “Kami bekerja sama dengan pihak desa untuk membuat surat keterangan bagi yang belum mempunyai KK supaya bisa diproses di kantor Catatan Sipil. Setelah mendapat KK nanti barulah dilakukan perekaman KTP elektronik di kecamatan. Nanti Kakak-kakak di Bengkayang (kader Pekka) yang akan membantu, atau Pak RT di kampung Nenek. Maaf ya Nek, tidak mungkin bisa dapat KTP hari ini,” kataku panjang lebar sambil sambil tersenyum dan memegang erat kedua tangan keriputnya di atas meja, agar dia tak kecewa. Sang nenek pun ikut tersenyum sebelum meninggalkan kursinya.

Di meja pengaduan kasus Akta Kelahiran pun tak kurang banyaknya. Tampak tumpukan berkas menumpuk di meja. Hampir pukul 15.00 WIB, Maknya (sebutan untuk perempuan Tionghoa setengah baya) datang membawa enam akta kelahiran anaknya yang sudah dilaminating. Aku terkejut karena baru di Bengkayang ini menemukan tulisan di Akta Kelahiran yang menyatakan anak di luar nikah. Misalnya, Andi adalah anak di luar nikah dari Heri dan Yuli. Maknya ingin mengubah Akta Kelahiran anak-anaknya agar tidak tertulis anak di luar nikah.

Karena ini kasus pertama bagiku, aku berkonsultasi dengan Kepala Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil Kabupaten Kubu Raya yang sudah aku kenal melalui telepon.  Beliau menjelaskan bahwa pada UU No. 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk), apabila pada saat membuat Akta Kelahiran kedua orang tuanya belum memiliki atau mencatatkan perkawinannya, maka status hukum anak terhadap orang tuanya adalah “anak di luar kawin”. Namun, setelah berlakunya UU No. 29/2006, maka status anak tidak lagi sebagai “anak di luar nikah” tetapi menjadi “anak seorang ibu”.

Penyelesaian hal di atas adalah dengan mencatatkan perkawinan orang tuanya terlebih dahulu. Bagi yang beragama Islam melalui Isbat Nikah dan yang Non-Islam melalui pencatatan di Dinas Dukcapil. Penjelasan Kepala Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil Kabupaten Kubu Raya ini, tulisan yang tertera pada Akta Kelahiran yang dibawa Maknya tersebut tidak bisa diubah.

KLIK yang diselenggarakan di tingkat desa membuat masyarakat antusias, karena mereka bisa datang dengan berjalan kaki, atau mengendarai sepeda motor butut. Mereka bahkan tidak harus meninggalkan pekerjaannya di sawah atau di kebun.

Aku berharap pemerintah sadar dan peduli terhadap kasus-kasus ketiadaan identitas, terutama pada masyarakat miskin dari banyaknya temuan data yang kami sampaikan serta bisa memberi dukungan dengan pendanaan dari dana desa untuk kegiatan KLIK PEKKA selanjutnya.

 

Sinar yang Tak Akan Pernah Redup

Dari perjalanan panjang yang aku ikuti melalui berbagai kegiatan dan pelatihan selama di Pekka, banyak perubahan terjadi dalam diriku. Harus aku akui, ada perasaan bangga yang merasuk menembus dinding hati. Aku yang dulu selalu merasa minder dan menganggap diri ini bukan siapa-siapa – bahkan sering ditolak, sekarang aku dipandang “ADA”. Aku dianggap mampu membantu dalam mengurus identitas hukum di desaku. Aku bisa berbagi ilmu ketika mengajar di kelas Akademi Paradigta, dan aku juga sering menjadi tempat konsultasi para akademia dalam pembuatan karya tulis mereka.

Sebagai seorang ibu yang menjadi kepala keluarga, aku juga sangat bersyukur dan bangga bisa menyekolahkan anak-anakku. Berbagai upaya aku lakukan semampuku, agar anak-anak tidak perlu menguburkan mimpinya seperti aku dulu. Meski aktif di Pekka, aku tidak pernah melupakan tanggung jawabku sebagai seorang ibu.

Saat ini anak pertamaku telah duduk di semester enam IKIP PGRI Pontianak dan mendapat predikat sebagai mahasiswa terbaik. Sementara anak keduaku saat ini sudah duduk di kelas tiga SMA. Meskipun mereka sibuk dengan kegiatan sekolah, mereka tetap aku libatkan untuk membantuku di sawah, agar kelak mereka juga tumbuh menjadi anak yang mandiri, pekerja keras dan tidak sombong.

Sebagai seorang ibu, tentu aku juga harus memperhatikan kebutuhan kasih sayang untuk kedua anakku. Aku ingin anak-anak mengenal dan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya juga. Lalu aku sengaja menabung agar bisa mengajak anak-anak bertemu dengan ayah dan keluarga besarnya di Tanah Karo.

Hingga pada tahun 2016, aku dan anak-anak berkunjung ke Tanah Karo ke rumah neneknya. Namun sayang, anak-anak tidak bisa bertemu dengan ayahnya karena memang suamiku tidak pernah lagi pulang ke rumah orang tuanya.

Sekalipun tumbuh tanpa sosok seorang ayah, namun mereka tidak pernah malu dengan kehidupan dan statusku sebagai seorang janda. “Mungkin kalau Ayah ada bersama kita, Mbak dan Adek tidak akan bisa hidup mandiri seperti saat ini, Mak.” Begitu ucap mereka ketika aku bertanya, apakah mereka malu mempunyai ibu sepertiku.

Perubahan itu harus lahir dari kemauan untuk berubah dan kemampuan melawan pikiran negatif tentang diri sendiri. Bersama Pekka dan Serikat Pekka, aku telah menjalani proses panjang untuk keluar dari belenggu ketidakberdayaan menuju jalan bermartabat. Sampai sekarang aku terus menjalani hidup dengan aktifitas bermanfaat dan tetap istiqomah di jalan Allah.

Bagikan Cerita Ini

Cerita Terkait

Menjadi Tulang Punggung Tidak Membuatku Berhe

Menjadi Tulang Punggung Tidak Membuatku Berhenti Kisah...

Leave a Comment