Isbat Nikah Membuat Aku Dikenal oleh Masyarakat

Awalnya aku bukan siapa-siapa baik di keluarga apalagi dimasyarakat bahkan di pemerintahan, tetapi takdir dan perjalanan hidupku berkata lain. Namaku Yusnita lahir 48 tahun silam di Desa Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Bercerai dengan suami tahun 2001 membuat aku menyandang status janda, aku mempunyai 4 orang anak, satu orang perempuan tiga orang laki-laki. Pekerjaanku sekarang adalah pedagang, aku memiliki pangkalan Gas Elpiji. Aku bergabung di Serikat Pekka Asahan pada tahun 2017, aku masuk karena memenuhi persyaratan sebagai anggota yang berstatus janda bercerai, aku diajak berkelompok oleh Ketua Serikat Asahan saat itu Bu Ramaisyah, kelompok kami bernama Kelompok Delima dengan jumlah anggota 15 orang, aku terpilih menjadi sekretaris kelompok yang diketuai oleh kak Andriani dan bendaharanya Putri Hayuna.  

Awalnya aku bingung bergabung di Pekka, karena aku belum pernah sama sekali ikut organisasi, aku bingung harus melakukan apa, tugasku seperti apa. Seiring waktu berlalu akhirnya semua itu bisa terjawab ketika diadakan pelatihan visi misi, dari pelatihan ini saya baru paham apa itu Pekka dan tugas-tugas pengurus kelompok. Karena rasa ingin tahu yang kuat aku tidak pernah bosan mengikuti kegiatan di Pekka, dari hasil kegiatan itulah banyak ilmu-ilmu yang aku dapatkan. Aku juga pernah ikut pelatihan kelas pengorganisasian masyarakat (CO) di Center Pekka Sumatera Utara di Kota Tanjung Balai, dan paling mengejutkan lagi belum selesai kelas CO masih ada tugas-tugas lapang yang harus diselesaikan tetapi aku direkomendasikan untuk ikut pelatihan advokasi ke Bogor tepatnya di Pusdiklat Bogor tahun 2017. Aku sangat terharu bercampur dengan perasaan bangga bahwa Pekka mengantarkan langkahku ke Bogor apalagi aku tidak pernah naik pesawat sebelumnya. Perasaan yang sama juga dirasakan oleh anak-anakku, mereka bangga dan mendukung keberangkatanku ke Bogor, aku berangkat dengan sangat gembira berharap ada perubahan yang aku bawa setelah pelatihan itu, terkhusus buat diriku, keluargaku, masyarakat dan juga desa tempat tinggalku. Tidak diragukan lagi ketika kita memiliki keinginan kuat agar hidup ini bermanfaat bagi orang banyak, pasti akan ada jalan yang mudah untuk mewujudkannya. 

Ada banyak kegiatan yang sudah aku ikuti selama bergabung di Pekka di antaranya kegiatan simpan pinjam di kelompok, pertemuan rutin, rapat serikat, diskusi kampung, pendataan, FPK dan banyak lagi kegiatan lainnya. Namun yang paling berkesan di antara kegiatan yang pernah aku ikuti adalah kegiatan KLIK PEKKA (Klinik Layanan Informasi Konsultasi), dimana Pekka menjadi jembatan penghubung antara pemerintah atau pemangku kepentingan seperti Dinas Sosial, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Pengadilan Agama, Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, dan dinas lain dengan masyarakat. Apa pun jenis persoalan yang dihadapi masyarakat dapat langsung dikonsultasikan ke dinas terkait dan langsung mendapatkan respon dari pemangku kepentingan sehingga dapat menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Di acara KLIK itu juga banyak informasi yang kami dapatkan dari mulai pengurusan adminduk gratis, isbat nikah dengan dana prodeo, dll.   

Setelah acara KLIK PEKKA selesai, aku bersama kader mengevaluasi kembali kegiatan KLIK tersebut, merekap data konsultasi dari masyarakat sehingga kami mendapatkan informasi terkait isu prioritas di desa tersebut, kemudian kami melakukan tindak lanjut kegiatan KLIK dengan mendiskusikan data hasil KLIK ke pemerintah desa. Khusus untuk kasus isbat nikah, kami langsung melakukan diskusi lebih lanjut dengan pengadilan agama. karena menurut kami isbat nikah ini sangat penting dimiliki untuk memudahkan pembuatan dokumen lain seperti KK, KTP, dan Akta Lahir anak. Persoalan pencatatan perkawinan ini banyak kasusnya di Asahan terutama di daerah pesisir, mereka menyepelekan dan tidak mengurusi buku nikah, karena mereka tidak mengerti apa kegunaan buku nikah tersebut, karena itu kami kader Pekka yang ada di serikat bekerja sama untuk turun mendata langsung dan mensosialisasikan terkait pentingnya kepemilikan buku nikah, setelah ada data kami melakukan kunjungan ke Pengadilan Agama (PA), mendiskusikan dan mengadvokasi dana prodeo untuk masyarakat yang kurang mampu, Pengadilan Agama menyampaikan ketentuannya. Jika pesertanya banyak maka mereka yang turun lapang buat pelayanan, tetapi jika sedikit maka peserta yang datang ke Pengadilan Agama, semua persyaratan kami perjelas agar kami bisa menyampaikan kembali ke masyarakat. Kami Serikat Pekka Asahan pernah membuat kesepakatan dengan ketua PA yang pada masa itu dijabat oleh Bapak Muslim, bahwa ada jatah dana prodeo setiap tahun untuk 20 pasang diberikan ke Serikat Pekka Asahan. Hal ini berjalan hanya 2 tahun, karena penggantian Kepala PA sehingga kerjasama ini tidak berlanjut.  

Di tahun 2019 Serikat Pekka Asahan dapat program dari DP3A untuk kegiatan isbat nikah sebayak 80 pasang, pelaksanaannya di PA Kisaran, pihak DP3A memfasilitasi semuanya, dari mulai transport, konsumsi biayanya semua gratis dan penyerahan buku nikahnya dilaksanakan pada hari Ibu dan sekalian pemberian souvenir berupa seprei oleh DP3A kepada semua peserta. Pekka mendapatkan banyak ucapan terima kasih baik dari dinas maupun masyarakat yang ikut dalam kegiatan isbat nikah, mereka menyadari bahwa kerja Pekka nyata ikut membantu program pemerintah dan banyak membantu masyarakat yang membutuhkan. Karena seringnya membantu masyarakat dalam menyelesaikan kasus isbat nikah saya jadi dikenal oleh pengadilan agama dan dinas-dinas dan juga masyarakat, setiap ada masyarakat yang memiliki masalah isbat nikah selalu datang dan bertanya ke saya, dan saya selalu siap membantu. Saat ini sudah jarang kami temukan masyarakat yang tidak punya buku nikah dikarenakan adanya kader Pekka yang siap membantu dan menjadi tempat berkonsultasi bagi masyarakat.  Terima kasih Pekka ilmu yang kau berikan sangat berguna bagi masyarakat khususnya bagi kami ibu-ibu Pekka.  

Bagikan Cerita Ini

Cerita Terkait

Leave a Comment