Kemampuan Mengatur Waktu Untuk Pekka dan Keluarga

Nama saya Emalia, saya lahir di Desa Pante Kuyun pada tahun 1982, disebut Pante Kuyun karena dahulu terdapat pante (pantai) disitu dan disekitar pantainya banyak tumbuh jeruk nipis atau kuyun dalam bahasa aceh. Sejak menikah, saya tinggal di Desa Sawang, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya bersama suami saya. Saya punya satu anak perempuan satu, suami saya bekerja sebagai tukang bengkel motor. Sementara saya, bekerja sebagai guru PAUD sejak tahun 2007. Hobby saya sehari-hari memasak, saya setiap hari memasak buat keluarga kecil saya, saya setiap hari bangun pagi-pagi untuk memasak buat suami dan anak. Bukan hanya itu saja, saya juga berjualan di rumah-rumah menjual baju.  

Kehidupan masa kecil saya cukup memprihatinkan. Orang tua saya bekerja sebagai petani setiap kali lebaran kami tidak cukup uang untuk membeli daging sehingga hanya potong ayam sendiri. Lalu ketika orang lain berlebaran menggunakan baju putih-putih kami tidak karena tidak sanggup membeli baju. Saya tiga bersaudara perempuan, tinggal di rumah kecil hanya dengan 1 kamar untuk orang tua sementara saya dan dua saudara saya tidur diluar. Letak rumah kami dari fasilitas pendidikan sangat jauh, SD ku saja letaknya di desa lain yang berjarak 3 km, selama pulang pergi sekolah kami melewati hutan-hutan. Aku SMP di desa lain tinggal dengan saudara dari ayah. Saat SMA aku tinggal di Banda Aceh dengan nenek, ialah yang menyekolahkan aku sampai tamat SMA. Keseharianku saat tinggal bersama nenekku adalah membantu membuat kue dan mengantarkan ke warung-warung.    

Pada tahun 2001 aku bekerja di kantor camat membantu membuat Kartu Tanda Penduduk  (KTP) merah putih, disitulah aku bertemu dengan suamiku dan akhirnya menikah pada bulan Desember 2003. Pada saat bencana tsunami tahun 2004 rumahku habis terkena air bah itulah salah satu saat terberat dalam hidupku karena suamiku tidak bisa bekerja akibat konflik yang terjadi antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan TNI (Tentara Nasional Indonesia). Akibatnya, aku bekerja sebagai RBT (ojek) yang berpenghasilan 80.000 sehari. Aku menghidupi tidak hanya suamiku namun juga adikku dan adik suamiku yang hidup bersama kami karena di kecamatannya tidak ada sekolah. Karena kelelahan yang ku dapati setiap hari karena bekerja membuatku keguguran tiga kali.  

Awal mula mengenal Pekka yakni menjadi petugas Pekka, Aji yang datang ke kelompok-kelompok yasin (kelompok pengajian), sebelumnya perempuan yang bersuami belum boleh ikut Pekka padahal saat itu saya sudah tertarik ikut Pekka. Pada saat itu, yang bergabung di Pekka diprioritaskan yang masyarakat kurang mampu namun, sejak 2010 perempuan yang bersuami sudah boleh bergabung di Pekka. Maka saya bergabung di Pekka mulai saat itu, karena keaktifanku di Pekka aku dipercaya untuk menjadi pengawas Serikat.  

 Selama bergabung di Serikat Pekka saya lebih percaya diri, dan berani untuk bertemu dengan perempuan-perempuan hebat serta pejabat setempat, seperti: Bapak Bupati, Bapak Dinas Capil dan juga saya mendatangi Bapak DPRK (Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten) tujuan saya untuk membahas tentang pendanaan Isbat Nikah, beliau sangat mendukung terhadap Pekka karena belum ada organisasi lain yang membahas tentang isbat nikah. Sementara kami Pekka Aceh jaya sudah melakukan yandu sejak tahun 2016 dan masyarakatpun sudah mendapatkan 75 KK isbat dan 45 akte kelahiran. Baru-baru ini saya menyampaikan kepada kader-kader kelompok bahwa akan didata lagi masyarakat yang belum punya akte dan butuh isbat nikah maka kader harus melanjutkan informasinya kepada masyarakat yang belum ada buku nikah dan akte untuk segera melaporkan kepada kelompok Pekka yang terdekat.   

Pengalaman saya selama bergabung di Pekka saya mendapat banyak hal seperti menpelajari tentang pelindungan anak dan kekerasan terhadap perempuan, saya pada tahun 2019 saya mendapat kesempatan untuk pelatihan mentor paralegal di Gadog. Baru satu minggu saya pulang dari Gadog saya mendapatkan musibah mamak saya meninggal dunia dalam keadaan shalat maghrib. Selang 20 hari setelah mamak saya meninggal baru saya melaksanakan kelas paralegal. Baru satu minggu kelas berjalan kami sudah mendapat kabar bahwa terjadi pandemi Covid-19, ketika kami sedang melaksanakan kegiatan petugas Puskesmas datang untuk mengingatkan jangan berkumpul-kumpul dulu karena kondisi rentan terjangkit virus Covid. Setelah itu kami vakum dari kegiatan apapun termasuk anak sekolah, saya pribadi dalam keadaan Covid mengalami penurunan pendapatan yang menyebabkan ekonomi sangat sulit. Alhamdulillah sekarang sudah normal kembali. Setelah beberapa bulan kelas paralegal kami buka kembali, peserta dari 36 hanya tinggal 18 meskipun demikian sekarang sudah selesai kelas paralegal. Sampai sekarang menjadi sebagai sekretaris Serikat Pekka Aceh Jaya.  

    Selama saya bergabung di Pekka saya selalu siaga untuk mempersiapkan kebutuhan suami karena kita menjaga perasaan suami supaya kemanapun kita pergi tidak ada larangan bagi kita, kegiatan Pekka lancar dirumahpun nyaman, begitulah saya memperlakukannya.  

Bagikan Cerita Ini

Cerita Terkait

Leave a Comment