Ketegaran Hati Seorang Wanita

 

Putus sekolah membuat keinginanku untuk jadi guru kandas. Aku pun merantau ke kota lain untuk membantu orang tua. Aku memang sempat salah jalan, tetapi aku tidak ingin terus tenggelam. Pekka hadir tepat di saat aku memerlukan pegangan. 

 

Aku bernama Nursia Untungdaleng. Nama ini diberikan oleh kakekku. Aku lahir di bulan Juli 1964 di sebuah desa di Kecamatan Tahuna, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara, sebagai anak kedua dari lima bersaudara. Ayahku bekerja mengolah kebun kelapa, ubi, dan terkadang menjadi buruh bangunan. Namun, sebagian besar pendapatan ayahku didapat dari hasil berkebun. Pekerjaan sebagai buruh bangunan lebih sering dilakukan secara sukarela. Hasil yang didapat dari kebun hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Kami pun hidup secara sederhana.

Aku mulai bersekolah di sebuah SD swasta tahun 1971. Sekolahku terletak di Kampung Angges (nama sebelum kampung ini mengalami pemekaran), yang berjarak sekitar 2 kilometer. Setiap hari, aku menempuh jarak itu dengan berjalan kaki bersama dua adik laki-lakiku. Sejak kecil, aku bercita-cita menjadi guru. Aku termotivasi oleh seorang sepupu ayahku yang bekerja sebagai guru. Di mataku, profesi guru amat mulia. Dan aku ingin ada generasi guru di dalam keluargaku.

Kandasnya Cita-cita

Aku melanjutkan pendidikanku ke SMP yang menjadi kebanggaanku. Selama di SMP, aku selalu terpilih menjadi ketua kelas, pengurus OSIS, dan meraih peringkat pertama di kelas. Prestasi ini aku raih salah satunya adalah berkat kebiasaanku bangun sebelum subuh untuk belajar, meskipun aku harus menggunakan lampu loga-loga (lampu botol dari minyak tanah).

Sesuai dengan cita-citaku, aku melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Tahuna. Sekolah kejuruan khusus untuk menjadi guru ini sudah dihapus pemerintah sejak tahun 1989. Sayangnya, hanya satu tahun aku menikmati pendidikan di sekolah ini. Aku terpaksa berhenti bersekolah karena orang tuaku tidak sanggup membayar tunggakan uang SPP yang besarnya lima puluh ribu rupiah per bulan. Orang tuaku sudah berusaha untuk melunasi tunggakan selama enam bulan itu, agar aku bisa mengikuti ulangan akhir semester. Namun, mereka tidak berhasil. Akhirnya aku dan orang tua memutuskan agar aku berhenti bersekolah.

Aku mengambil keputusan tersebut dengan berat hati dan kecewa. Aku sedih bila melihat teman-temanku berangkat ke sekolah. Sejak tidak sekolah lagi, aku membantu ibuku berjualan biapong (sejenis bakpao) berkeliling kampung setiap pagi. Sementara, sore hingga malam hari aku membantu Ibu membuat kue untuk dijual keesokan harinya.

Pada Januari 1982, seorang sepupu yang tinggal di Manado datang berkunjung. Mengetahui aku sudah tidak bersekolah, dia mengajakku untuk bekerja di sebuah toko kelontong di Manado. Aku setuju untuk ikut, dan langsung diterima sebagai karyawan toko. Gajinya cukup besar untuk ukuran anak gadis sepertiku. Aku bekerja selama tiga tahun. Sebagian gajiku aku kirim kepada orang tuaku.

Salah Langkah

Satu tahun bekerja sebagai karyawan toko, aku berkenalan dengan seorang anggota Brimob berpangkat pratu. Dia mengajakku berkenalan saat berbelanja di toko tempatku bekerja. beberapa hari kemudian dia menyatakan ketertarikannya terhadapku, dan mengirim surat yang mengutarakan isi hatinya. Awalnya aku menolak. Namun, dia selalu datang ke tempatku bekerja. Hatiku akhirnya luluh, dan tidak mampu menolak cintanya. 

Pada 10 Agustus 1982, kami berdua bersepakat datang ke orang tuaku dan menyampaikan niat kami untuk menikah. Sayangnya, harapan tak seindah kenyataan. Lamaran laki-laki itu ditolak orang tuaku karena perbedaan keyakinan. Dia beragama Katolik, sementara aku memeluk agama Protestan. Laki-laki itu pulang dengan kecewa. Aku pun merasa kehilangan dan kebingungan karena kami sudah melakukan hubungan di luar nikah. Telah tumbuh benih cinta kami, yang lahir pada Januari 1983. 

Meskipun kami tidak terikat pernikahan, laki-laki itu bertanggung jawab atas segala kebutuhan anak kami. Dia menanggung biaya pendidikan anak kami hingga SMA. Meskipun kami tinggal berjauhan, kami tetap berkomunikasi melalui surat. Hingga saat ini, dia tetap berkomunikasi dengan anak kami.

Pernikahanku Membahagiakan

Dua tahun setelah melahirkan, aku memutuskan untuk kembali bekerja di Manado, di toko kelontong tempatku bekerja dulu. Gajiku sebesar Rp 35.000,00 per bulan, dan aku kirimkan ke sepupu orang tua yang merawat anakku. Satu tahun kemudian, temanku memperkenalkanku kepada seorang anggota TNI AD. Dia seorang muslim, dan menyatakan niatnya untuk menikahiku.

Kami berdua bersepakat untuk menikah. Laki-laki itu pun memintaku pulang kampung untuk memohon restu dari orang tuaku. Kali ini, orang tuaku merestui. Bahkan tidak melarang ketika aku meminta izin untuk masuk Islam. “Boleh, kalau keyakinanmu di situ. Jangan sampai keluar lagi,” kata ayahku.

Kami pun pindah ke kampung halaman laki-laki itu, yang terletak di Desa Maelang, Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow. Satu hari kemudian, kami menikah di KUA. Rumah tangga kami dipenuhi kebahagiaan. Kami saling menyayangi. Seorang anak perempuan lahir pada 1987, sebagai buah dari cinta kami.

26 tahun rumah tangga kami berjalan. Hingga pada September 2012, di saat sang mentari mulai memekarkan cahayanya, suamiku membangunkanku dari tidur karena hendak pamit untuk menjenguk cucu dan anak kami yang saat itu tinggal di Kotamobagu. Di tengah perjalanan, sepeda motor yang dikendarai suamiku ditabrak taksi. Suamiku meninggal dunia di tengah perjalanan menuju rumah sakit. 

Perasaanku sedih, pikiranku tak karuan, dan panik. Di dalam hati aku bertanya, kepada siapa harus mengadu. Aku selalu menangis, dan berdoa agar diberikan kemudahan dalam menghadapi cobaan. Aku mulai mencoba melakukan semua yang aku bisa, karena aku tidak mendapat uang pensiun. Aku berjualan kue, ikan masak, dan berkebun. Keluarga pun peduli terhadap keadaanku. Namun, aku tidak mau mengeluh. Aku berusaha tegar.

Satu tahun aku diliputi perasaan duka yang mendalam karena kehilangan sosok suami, ayah, kakek dari anak dan cucuku. Aku terus mencoba bangkit dan tegar dalam menghadapi kenyataan hidup yang kualami. Berkat motivasi dan saran dari kerabat, aku sadar bahwa hidup ini hanya sementara, karena kelak kita akan kembali pada Sang Khalik.

Bertemu Dengan Pekka

Pada 5 Oktober 2014, kami ibu-ibu PKK Desa Maelang mengadakan takziah di Desa Lolanan. Pada saat itu aku sudah kembali beraktivitas di PKK. Aku bahkan dipercaya untuk menjadi ketua tim penggerak PKK. Di sela acara takziah, sekretaris desa menyampaikan sambutan bahwa ada sosialisasi program Pekka dari pengurus Serikat Pekka Kabupaten Bolaang Mongondow. Setelah acara selesai, secara spontan aku menemui sekdes, meminta agar di desaku juga diadakan sosialisasi program Pekka.

Selang seminggu, pengurus Serikat Pekka Kabupaten Bolaang Mongondow dan fasilitator lapang (faslap) PEKKA datang ke desaku. Aku pun mengundang ibu-ibu untuk hadir mendengarkan sosialisasi program Pekka. Hari itu, dari sekian orang yang hadir, hanya hanya sebagian yang memiliki kriteria Pekka. 

Sosialisasi yang dipaparkan faslap menjelaskan bahwa kriteria Pekka adalah perempuan yang suaminya meninggal, suami sakit, pergi tanpa berita, perempuan yang dipoligami, dan perempuan lajang. Hari itu juga aku dan Sulastri, temanku, mendata ibu-ibu yang memiliki kriteria Pekka. Ada 15 orang yang sesuai dengan kriteria Pekka, termasuk aku dan Sulastri. Kami pun membentuk kelompok Pekka. Hasil pertemuan ini memilihku sebagai ketua kelompok, Mifta sebagai sekretaris, dan Sulastri sebagai bendahara. Kelompok ini kami beri nama Kelompok Luli. 

Kelompok kami pun mengundang faslap dan pengurus serikat untuk memberikan Pelatihan Visi, Misi, dan Motivasi Berkelompok. Kami juga bersepakat untuk mengadakan pertemuan setiap minggu dengan kegiatan yasinan dan arisan sembako. Kami juga membentuk Lembaga Keuangan Mikro (LKM). 

Melihat aku aktif dalam kegiatan kelompok, faslap mulai melibatkanku dalam pertemuan tingkat kabupaten. Dan dalam Mubes Serikat Pekka Kabupaten Bolaang Mongondow yang diadakan bulan Juni 205, aku terpilih sebagai sekretaris serikat. Aku merasa sangat senang dengan jabatan ini. Aku yakin bisa menjalankan tanggung jawab dan memegang kepercayaan yang telah diberikan kepadaku. 

Pada 2016, aku diundang untuk mengikuti kegiatan Pekka Perintis di Bogor bersama Ratna, seorang pengurus LKM. Pulang dari pelatihan ini, kami mengidentifikasi perempuan-perempuan yang melakukan perubahan atau inovasi di desa, tetapi tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat.

15 perempuan berhasil kami identifikasi, tetapi setelah seleksi hanya 10 orang yang berhak berangkat ke Jakarta.  Mereka akan mengikuti Temu Nasional PEKKA PERINTIS. Acara ini diadakan pada 17-21 Desember 2016 di Hotel Sahid Jakarta, dan diikuti oleh 1.000 peserta.

Sungguh luar biasa! Aku begitu kagum pada acara ini, yang berhasil memberi inspirasi dan motivasi bagi para ibu yang selama ini termarjinalkan. Di dalam hati, aku berniat untuk memperluas wilayah Pekka dengan menambah kelompok di desa-desa setelah aku pulang dari acara ini.

Serikat Pekka Kabupaten Bolaang Mongondow mengadakan Mubes Luar Biasa pada 2017. Acara ini dihadiri Ibu Romlawati dari Seknas Pekka Jakarta. Secara aklamasi, aku terpilih sebagai ketua masa transisi Serikat Pekka Kabupaten Bolaang Mongondow. Amanat ini aku jalankan dengan memperluas wilayah Pekka melalui pembentukan kelompok-kelompok Pekka di desa, dan mensosialisasikan gerakan Pekka. 30 kelompok di 15 desa yang ada di tiga kecamatan pun terbentuk. 

Gayung Bersambut dari Pemerintah dan Masyarakat

Setelah kelompok-kelompok ini terbentuk, Serikat Pekka Kabupaten Bolaang Mongondow melakukan sosialisasi tentang Pekka ke berbagai dinas dan banyak bekerjasama dengan OPD (Organisasi Pemerintah Daerah), melibatkan dinas-dinas dalam berbagai kegiatan seperti KLIK PEKKA, Diskusi Kampung, FPK, Akademi Paradigta. Kegiatan-kegiatan ini membuat Pekka semakin dikenal pemerintah desa dan kabupaten, serta lembaga-lembaga lainnya.

Kesan positif yang timbul dari kegiatan-kegiatan Pekka membuatku sering diundang oleh instansi-instansi pemerintah, dalam kapasitasku sebagai ketua serikat. Hal ini membuatku bisa berkenalan dengan orang-orang yang bekerja di instansi-instansi tersebut, dan membuatku bisa mengajukan proposal. Pada 2018, proposal yang aku ajukan membuat Serikat Pekka Kabupaten Bolaang Mongondow mendapat 100 buah kursi sebagai inventaris serikat.

Aku kembali mendapat kepercayaan di tahun 2018, untuk mendata anak-anak telantar dan putus sekolah untuk ikut pelatihan mengemudi dan menjadi montir, serta ibu-ibu untuk ikut kursus menjahit, dari Dinas Tenaga Kerja. Selain itu, aku memfasilitasi anak-anak yang telah lulus sekolah tingkat atas untuk mengikuti kursus komputer dan customer service tingkat nasional. Mereka dikirim ke sebuah pusat pelatihan di Bekasi dan Semarang yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial. Ada 30 anak yang mengikuti pelatihan ini. Setelah lulus, sebagian dari mereka mampu membuka usaha sendiri.

Di tahun yang sama, aku kembali mengajukan proposal ke Dinas Ketahanan Pangan untuk kegiatan rumah pangan lestari. Proposal ini dikabulkan, dan kami mendapat dana sebesar Rp 20 juta untuk pembelian bibit ayam dan sayuran organik untuk kebun percontohan bagi 20 anggota Pekka. Mereka mengolah bibit yang diberikan dengan memanfaatkan tanah pekarangan. Kegiatan ini dirasakan amat membantu mengurangi pengeluaran keluarga, karena mereka bisa memanfaatkan hasil panen tanaman dari pekarangan mereka. Sementara, usaha bibit ayam tidak berkembang. Perubahan cuaca adalah faktor terbesar dalam kegagalan pembibitan ayam.

Aku juga diminta Dinas Pendidikan untuk mendata anak-anak usia 3-7 tahun di tahun yang sama. Anak-anak itu akan diikutsertakan dalam kegiatan Taman Pengajian melalui SPS (Satuan Paud Sejenis). Sampai sekarang, kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta didik yang diajar oleh 2 orang tutor. Kegiatannya dilakukan di kantor desa. Dinas Pendidikan juga memintaku untuk memfasilitasi anak-anak yang tidak lulus pendidikan formal untuk ikut Kejar Paket A, B, dan C. Saat ini, 30 anak telah mendapatkan ijazah melalui program Kejar Paket. Mereka berasal dari Desa Mealang, Pasir Putih, Batu Merah, dan Buntalo, dan aktif bekerja sebagai aparat desa. Di tahun 2023, ada 7 orang yang mengikuti program ini.

Kegiatan-kegiatan tadi membuat aku dipercaya untuk menjadi Rumah Desa Sehat (RDS) oleh pemerintah desa, dan diangkat menjadi Kader Pembangunan Manusia (KPM) Desa Maelang Tahun 2019. Tugas utamaku sebagai KPM adalah menanggulangi stunting.

Aku juga diangkat sebagai Kader JKN BPJS Kesehatan pada 4 September 2020. Tugasku adalah menangani tunggakan iuran BPJS untuk peserta BPJS Mandiri, sekaligus memberi sosialisasi bagi masyarakat yang belum bergabung dengan BPJS Kesehatan.

Di luar kesibukan tadi, aku tetap melakukan pendampingan dan motivasi agar usaha kelompok semakin berkembang, dan menjaga rutinitas pertemuan kelompok untuk memfasilitasi diskusi dan agenda pengembangan kelompok. Para anggota kelompok ini mengelola usaha ekonomi minyak kelapa, juga memanfaatkan bahan sekitar yang bernilai ekonomis seperti sapu lidi. Sayangnya, hingga saat ini Pekka Mart belum berkembang karena masih terkendala modal usaha.

Aku tetap konsisten melakukan kegiatan, memanfaatkan waktuku sebaik mungkin agar tidak ada yang terbuang percuma. Insya Allah aku tetap diberi kesehatan dan kekuatan agar di sisa umur ini aku bisa bermanfaat bagi sesama.

Bagikan Cerita Ini

Cerita Terkait

Leave a Comment