Mandiri Tiada Henti, Berdaya Membuat Hidup Berarti:

Kisah Diri Kunindarsih

Kehilangan ayah ketika masih bayi membuatku menjadi anak yang mandiri. Aku tidak pernah menyesali nasib diri dan selalu berjuang untuk mandiri. Pun ketika dicerai suami yang menikah lagi. Berjuang untuk berdaya tanpa menyusahkan orang lain adalah harga diri yang aku tegakkan selama ini.

 

Aku lahir pada tanggal 7 September 1965 di Desa Pucangombo, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan. Aku lahir sebagai anak terakhir dari lima bersaudara. Sejak bayi, aku hidup bersama Ibu, Nenek, dan kakak-kakakku yang belum menikah. Aku sama sekali tidak ingat sosok ayahku. Beliau meninggal dunia ketika aku berusia tiga bulan. Aku hanya diberitahu bahwa ayahku bernama Soetrisno, seorang mantan pejuang yang menjadi pedagang. 

Aku mulai bersekolah ketika berusia tujuh tahun. Masa-masa ini sangat menyenangkan. Sejak kelas 3 SD, aku sering terpilih untuk ikut serta dalam lomba puisi, tari, dan menyanyi. Alhamdulillah, aku selalu masuk tiga besar setiap kali mengikuti perlombaan. 

 

Mandiri Sedari Kecil

Awal tahun 1988 aku masuk ke SMP PGRI Tegalombo, yang berjarak 5 km dari rumah. Aku memilih untuk berjalan kaki ketimbang naik angkutan umum. Uang yang diberikan Ibu aku simpan untuk kebutuhan sekolah. Selama bersekolah di SMP ini, pembelajaran diadakan pada siang hari. 

Waktu yang tersedia di pagi hari aku manfaatkan untuk mencari uang saku tambahan agar tidak terlalu membebani Ibu. Aku melakukannya dengan cara beternak kambing, termasuk mencari rumput untuk makan kambing. Kambing ini aku beli dengan uang hadiah dari seorang pamanku. Selain itu aku juga memetik daun dan buah melinjo untuk dijual ke pasar.

Menjelang ujian SMP, ibuku dirawat di Puskesmas Tegalombo. Memang, sejak aku naik ke kelas tiga, Ibu sering jatuh sakit. Aku merawat dan menunggui Ibu selama beliau dirawat, sehingga untuk ke sekolah aku berangkat dari Puskesmas. Setelah Ibu selesai menjalani rawat inap di Puskesmas, aku membuat minyak kelapa yang kemudian aku jual ke pasar. 

Gembira, sedih, dan bingung bercampur jadi satu ketika aku menerima hasil pengumuman kelulusanku dari SMP. Gembira karena aku sudah lulus. Sedih dan bingung karena aku tidak tahu apakah aku bisa melanjutkan ke SMA. Aku tidak tahu bagaimana bisa mendapatkan uang untuk biaya melanjutkan pendidikanku.

Ibuku meninggal dunia pada bulan Maret 1980. Duniaku terasa hancur karena ditinggal Ibu. Aku lalu tinggal bersama Nenek. Aku sempat bertanya-tanya, adakah kakak-kakakku yang mau membantu menyekolahkanku di SMA? Setelah dilakukan musyawarah keluarga, alhamdulillah saudara-saudaraku mau membantu sehingga aku tidak perlu khawatir akan kebutuhanku selama bersekolah di SMA.

Aku baru bisa masuk SMA dua tahun setelah Ibu meninggal dunia. SMA tempatku belajar adalah SMA PGRI Pacitan. Selama bersekolah, aku tidak mau tinggal diam menunggu uang bantuan dari saudara-saudaraku. Aku mencari uang sendiri dengan bekerja pada seorang guru di sekolahku, sebagai pengasuh anaknya. Aku juga membantu beliau memasak. Upahnya cukup untuk aku bisa bersekolah. Selain itu, aku juga mendapat jatah makan. 

 

Mengadu Nasib ke Jakarta

Aku benar-benar bersyukur karena bisa bersekolah hingga lulus SMA. Oleh karena itu, aku merasa harus tahu diri dengan tidak meminta bantuan lagi agar bisa kuliah. Padahal, sebagian besar teman-temanku kuliah setelah lulus SMA. Agar terhindar dari teman-teman yang bertanya tentang rencanaku setelah lulus, aku mencoba mengadu nasib ke Jakarta pada tahun 1984.

Alhamdulillah, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan konveksi di daerah Kebon Jeruk. Pekerja di perusahaan ini kebanyakan berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Aku merasa seperti bekerja di kampung sendiri, sehingga aku merasa kerasan bekerja di sini. Selama berada di perantauan, aku menjadi tahu bahwa ada begitu banyak karakter orang. Ada yang egois tanpa mengenal rasa solidaritas, ada yang baik, ada yang suka menghasut, dan lain-lain. Selain pernah bekerja di perusahaan konveksi, aku juga pernah berprofesi sebagai pramugari untuk perusahaan bus ‘Sinar Jaya’.

Aku bertemu dengan jodohku, sesama perantau yang juga berasal dari kampungku. Rasa senasib sepenanggungan di Jakarta menyatukan kami. Kami resmi menikah pada tahun 1986, dan tepat satu tahun kemudian kami dikaruniai seorang putra. Aku sangat bahagia, hidupku terasa lengkap: memiliki keluarga yang utuh dengan segala persoalannya. Waktu pun terus berlalu, hingga aku dikaruniai enam orang anak: empat putra dan dua putri.

Kami terpaksa boyongan pulang ke kampungku di Tegalombo di tahun 1999, karena suamiku terkena pengurangan pegawai alias PHK. Berbekal uang pesangon yang diperoleh suami – yang jumlahnya tidak seberapa, kami bisa membangun gubuk di tanah pekarangan sendiri. Tanah ini adalah warisan dari orang tuaku. Di kampung ini anak pertamaku meneruskan pendidikannya di SMP. Sementara adik-adiknya masih SD dan balita.

Alhamdulillah, suamiku kembali mendapat pekerjaan pada tahun 2001. Seorang teman di kantornya dulu yang memberi tahu informasi lowongan pekerjaan itu. Suamiku pun kembali ke Jakarta untuk mengadu nasib. Awalnya suamiku pulang setiap dua bulan. Beberapa bulan kemudian, kekerapan kedatangannya untuk menengok anak istri semakin berkurang. Lama-lama menjadi setiap enam bulan, hingga akhirnya, setelah empat tahun merantau, dia tidak kunjung pulang.

Aku pun jadi curiga. Aku menyusulnya ke Jakarta pada tahun 2005. Ternyata, suamiku sudah menikah lagi. Aku langsung dijatuhi talak tiga begitu datang. Kecewa, marah, dongkol, bercampur aduk menjadi satu di dalam hatiku. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Di tahun 2005 ini, aku menyatakan diri sebagai ibu rumah tangga sekaligus kepala keluarga bagi anak-anakku. Meski demikian, kami tidak resmi bercerai. Suamiku enggan menceraikanku, sementara aku tidak mau menuntut cerai. Dia yang menikah lagi, masak harus aku yang mengeluarkan biaya untuk bercerai, begitu pikirku saat itu.

 

Menata Diri Setelah Dicerai Suami

Marah, sedih, bingung, bercampur aduk dalam hati. Demi membela anak-anakku, aku harus kehilangan suamiku. Status baru yang aku sandang ini memaksaku untuk bekerja agar aku bisa menafkahi anak-anakku. Mantan suamiku hanya sesekali mengirim uang untuk anak-anakku. 

Aku lalu mendapat pekerjaan sebagai pengasuh anak selama tiga tahun, sejak 2006. Aku lalu bosan menjalani pekerjaan ini. Aku memutuskan untuk membuka usaha sendiri dengan cara menjual nasi di lingkungan proyek pembangunan gedung kepada para pekerjanya. Apesnya, para pekerja yang membeli makanan dariku banyak yang berutang dan kabur menjelang proyek selesai. Modal usahaku habis. Aku memutuskan untuk pulang ke Pacitan, di tengah kebingunganku karena tidak punya uang.

Cobaan demi cobaan seperti tidak mau berhenti datang kepadaku. Bulan November 2009, anak keduaku meninggal dunia karena sakit jantung bawaan. Hatiku menangis dan meratap:

“ Ya Allah, cobaan apa lagi ini…? Kuatkan  diri hamba ya Allah, Aku yakin Engkau menguji tidak melebihi batas kemampuan umatnya.”

 

Meski anakku berjumlah enam orang, kehilangan salah satu dari mereka benar-benar mengguncangku. Aku merasa kiamat kecil telah terjadi dalam keluargaku. Suasana duka serasa tak berkesudahan, membuat sebagian tenagaku hilang. Namun, aku sadar. Aku adalah kepala keluarga. Keberlangsungan hidup di rumah adalah tanggung jawabku. 

Kemudian, aku memutuskan untuk kembali merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan garmen di wilayah Cibinong, Bogor. Keputusan ini aku ambil agar bisa menopang kehidupan anak-anakku. Mereka dirawat kakak-kakakku selama aku bekerja di Jakarta.

Selama merantau, aku berpikir keras untuk bisa mengirim gajiku secara utuh untuk anak-anakku di kampung. Aku lantas memilih untuk berjualan kopi di lingkungan perusahaan, juga menjual barang-barang sisa ekspor yang aku beli dari pabrik kepada kenalan dan tetangga di sekitar tempat kos. Uang dari berjualan ini aku gunakan untuk membayar sewa kamar dan makan.

Pada tahun 2017, aku memutuskan untuk kembali ke Pacitan dan merawat anak-anakku. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami, aku berjualan kain-kain sisa ekspor dengan cara berkeliling dari rumah ke rumah, kadang-kadang kepada pedagang lain. Usaha ini aku lakoni hingga sekarang.

 

Berawal dari Ketidaksengajaan

Dua tahun kemudian, tepatnya April 2019, aku berkenalan dengan Mbak Dhesi, seorang fasilitator lapang Pekka dan temannya, Ibu Latifah. Saat itu kami sama-sama hendak membeli makanan di sebuah warung. Setelah berkenalan, Mbak Dhesi memperkenalkan program Pekka kepadaku. Awalnya aku bingung, tidak memahami apa itu Pekka. Namun, Mbak Dhesi bisa menjelaskannya dengan baik, sehingga aku jadi tertarik untuk bergabung dengan organisasi ini.

Mbak Dhesi kemudian memintaku untuk mengundang teman-teman dan merancang pertemuan untuk memudahkan sosialisasi tentang Pekka. Aku menyambut ajakan Mbak Dhesi, dan meminta 26 orang di lingkunganku untuk datang ke pertemuan yang diadakan pada tanggal 1 Mei 2019 di rumahku. 

Alhamdulillah, semua orang yang aku undang hadir, sehingga dalam pertemuan itu terbentuklah Kelompok Pekka di RW 4 Dusun Mojo, Desa Pucangombo, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan. Semua yang hadir kemudian bersepakat untuk menunjukku sebagai ketua kelompok. 

Baru beberapa hari setelah pertemuan tersebut, Mbak Dhesi mengajakku untuk membantu sosialisasi Program Pekka ke Pemerintah Kabupaten Pacitan. Penyelenggaraan acara ini dibantu KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan), terutama perwakilan KOMPAK yang ada di Pacitan, yaitu Bang Irwandi. 

Ajakan ini datangnya agak mendadak, karena pada saat itu di Pacitan baru terbentuk empat kelompok Pekka. Akhirnya, kami berenam, yakni aku dan perwakilan dari tiga kelompok lain, Mbak Dhesi dan Bang Irwandi, datang ke kantor Kabupaten Pacitan untuk melakukan sosialisasi Pekka.

Aku sama sekali tidak menyangka akan langsung ‘tancap gas’ begitu ditunjuk menjadi ketua kelompok. Aku tentu saja merasa minder, takut, dan malu karena yang aku temui saat itu bukanlah orang biasa, melainkan pejabat di tingkat kabupaten.

Saat diperkenalkan oleh Mbak Dhesi dan Bang Irwandi, kami merasa deg-degan tidak karuan. Ucapan yang keluar dari mulut kami pun jadi kurang tertata. Alhamdulillah, para pejabat kabupaten yang menemui kami bersikap baik, mereka memperhatikan pemaparan kami dengan serius, sehingga kami bisa mulai merasa santai dan menata isi pemaparan kami. Bila aku ingat saat itu, diriku serasa melambung tinggi karena bangga.

 

Berbagai ‘Modal’ untuk Mengembangkan Diri

Perlahan tapi pasti, jalanku untuk menambah kapasitas diri terbuka. Aku diminta untuk mengikuti Pelatihan Fasilitator Musrenbang Inklusif yang difasilitasi KOMPAK dan Pemerintah Daerah Pacitan yang diadakan pada tanggal 24-27 Juli 2019. 

Dalam pelatihan ini, aku dan temanku Eny Mudjito jadi memahami apa-apa saja yang menjadi urusan desa. Kami berdua jadi tahu bahwa ada Undang-Undang Desa, juga Dana Desa. Selain itu, kami jadi paham bahwa masyarakat mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam pengelolaan dan pengawasan Dana Desa.

Di hari pertama pelatihan ini, aku masih merasa minder dan belum sepenuhnya memahami materi yang disampaikan oleh para narasumber. Rasa minder ini muncul karena kebanyakan peserta yang datang berasal dari kalangan pejabat kecamatan. Mereka memiliki gelar akademis yang tinggi, sudah memiliki banyak pengalaman; kontras sekali dengan kami yang hanya perempuan desa bermodalkan semangat dan tekad.

Mentalku mulai membaik di hari kedua pelatihan. Kehadiran Mbak Dhesi sebagai narasumber memberi semangat bagiku dan Eny. Aku jadi berani untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan secara tertulis. 

Aku mulai berani untuk mengajukan pertanyaan di hadapan para peserta pelatihan di hari ketiga pelatihan. Dan di hari keempat, aku sudah mampu memahami semua materi pelatihan. Aku bahkan mendapatkan penghargaan karena aku dianggap sangat aktif selama mengikuti pelatihan.

Sekali lagi aku mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri. Kali ini pelatihan yang aku ikuti diadakan di lokasi yang jauh sekali dari rumah, yakni di Pusdiklat Alta Karya Pekka Gadog, Bogor, Jawa Barat. Pelatihan yang aku ikuti adalah Lokakarya dan Pelatihan Jurnalisme Warga Pekka, tanggal 25-30 Agustus 2019, dengan tema Penguatan Kepemimpinan Perempuan Desa untuk Pelayanan Publik yang Berkualitas, Sensitif Gender, dan Inklusif.

Dalam pelatihan kali ini, aku bertemu dengan anggota Pekka dari wilayah lain di Pulau Jawa seperti Brebes, Pekalongan, dan Pemalang. Bahkan sebagian peserta ada yang berasal dari luar Pulau Jawa, seperti Aceh, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Kami bersama-sama belajar cara menulis berita, profil kawan-kawan serta diri sendiri, dengan gaya penulisan feature. Aku senang sekali, karena bisa sekaligus berkenalan dengan teman-teman dari Yayasan Pekka di Jakarta seperti Ibu Rom, Bunda Nani, Mbak Nunung, dan lain-lain.

Ketika pelatihan selesai, kami ditawari pilihan moda transportasi yang akan kami gunakan untuk pulang: bus atau pesawat. Kami, rombongan dari Pacitan dan Trenggalek, dengan kompak memilih pesawat. Sebagai orang desa, aku senang sekali mendapat kesempatan untuk naik pesawat. Kami pun terbang dari Jakarta menuju Yogyakarta. Baru setelah itu kami naik bus menuju Pacitan.

Sepulang dari Bogor, banyak sekali kegiatan yang harus aku lakoni. Tanggal 31 Agustus-10 September 2019, aku mendapat kesempatan untuk memfasilitasi Musrenbang Inklusif di 11 desa yang ada di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan.

Bagiku, kesempatan ini adalah amanah yang luar biasa. Aku jadi sangat bersemangat dalam menjalani tugas, berkeliling dari desa ke desa. Meskipun, ada beberapa desa yang sulit untuk kami capai. Kami harus melalui jalanan yang tanjakannya sangat curam, sehingga sepeda motor yang kami tumpangi tidak kuat menanjak. Kecamatan Tegalombo memang dikelilingi banyak gunung, sehingga ada beberapa desa yang menjadi tujuan kami terletak di dataran tinggi.

Musrembang Inklusif

Proses pelaksanaan Musrembang Inklusif berbeda-beda di setiap desa. Pemerintah masing-masing desa bekerja sama dengan KOMPAK dan Kepala Seksi Pemberdayaan Kecamatan, Bapak Edi Wasono, mengundang kelompok inklusif yang terdiri dari beberapa kelompok perempuan – termasuk Pekka –, anak, dan disabilitas. 

Setelah terkumpul, aku,  Mbak Eni, dan Pak Edi, bersama-sama menggali usulan dari masing-masing kelompok, sesuai dengan kategori yakni perempuan, anak, dan disabilitas. Masing-masing kelompok mengajukan anggaran untuk usulan mereka. Usulan-usulan tersebut kemudian kami rekap menjadi sebuah usulan yang holistik mewakili kelompok inklusif, agar dimasukkan dalam usulan bersama untuk Musrenbang regular .

Saat menggali usulan dari ketiga kelompok ini, aku sama sekali tidak menyangka bahwa usulan mereka begitu beraneka ragam. Terkadang, tidak terlintas dalam pikiran bahwa usulan tersebut adalah sesuatu yang mereka butuhkan selama ini. 

Salah satu dari usulan tersebut adalah pengajuan pengadaan mesin bubut untuk kerajinan kurungan burung dari kelompok disabilitas di Desa Gemaharjo. Anggaran yang mereka ajukan adalah sebesar Rp 25 juta. Usulan lain yang datang dari kelompok ini adalah pengadaan kursi roda tiga untuk memudahkan mobilitas mereka, lengkap dengan pelatihan untuk perawatan dan perbaikannya, mekaniknya sehingga mereka bisa membantu kawan disabilitas lainnya. Ada juga usulan untuk pengadaan barang-barang yang sederhana – tetapi amat mereka butuhkan – seperti alat bantu dengar dan sepatu untuk kaki berkebutuhan khusus.

Usulan menarik lainnya datang dari ibu-ibu lansia di Desa Kemuning. Mereka mengajukan usulan untuk diadakan pelatihan membuat anyaman, dengan anggaran yang diajukan sebesar Rp 5 juta. Ternyata, mereka tidak membutuhkan anggaran yang terlalu besar untuk mengadakan pelatihan tersebut.

 

Tak Ada Jeda: KLIK PEKKA 

Belum satu minggu mengambil jeda dari Musrembang Inklusif, aku terlibat dalam pelaksanaan KLIK PEKKA (Klinik Layanan Informasi dan Konsultasi PEKKA), yang diadakan di desaku, Desa Pucangombo, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan pada tanggal 16 September 2019. KLIK PEKKA ini diadakan bersamaan dengan kunjungan dari Kedutaan Besar Australia, BAPPENAS, Kementerian Desa, dan tamu-tamu kehormatan lainnya. Oleh karenanya, pelaksanaan KLIK PEKKA membutuhkan persiapan yang melibatkan banyak pihak.

Kami sadar, KLIK PEKKA akan membuat desaku selangkah lebih maju. Maka, aku dan kader Pekka lain, dibantu pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten, bahkan KOMPAK Jawa Timur turun tangan untuk mempersiapkan acara ini. Persiapan yang dilakukan adalah sosialisasi kegiatan, mendata masyarakat yang membutuhkan pelayanan, dan mengurus perlengkapan dan persyaratan bagi masyarakat yang akan dilayani.

Pelayanan yang diberikan dalam KLIK PEKKA cukup banyak. Selain layanan konsultasi terkait identitas, pendidikan, kesehatan, dan hukum keluarga yang dilakukan kader-kader Pekka, ada juga layanan administrasi kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pacitan berupa pembuatan KTP (baik cetak langsung maupun dalam bentuk surat keterangan), Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, dan Akta Kematian.

Ada juga layanan konsultasi kesehatan, dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, Ibu Ratna. Selain itu, KLIK PEKKA juga memberi layanan tambahan berupa pengurusan Izin SIUP dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pacitan. Alhamdulillah, pengurus dan pemerintah desa antusias dalam membantu penyelenggaraan KLIK PEKKA. Masyarakat pun banyak yang mendaftar untuk mendapatkan layanan pada acara ini.

Ada seorang perempuan desa yang datang untuk mendaftar KLIK PEKKA. Jarak antara rumahnya dengan kantor dusun sekitar 3 km. Gadis itu ternyata seorang penyandang tuna rungu yang pernah ditolak ketika hendak membuat KTP. Ibu Romlawati dari Yayasan Pekka Jakarta, yang kebetulan hadir dalam KLIK PEKKA ini, tergerak mendengar penuturan gadis tersebut dan langsung membawanya ke Kantor Disdukcapil. Petugas yang melayani ikut merasa tergerak untuk membantu. Maka, pada hari itu juga, gadis tersebut langsung melakukan perekaman KTP tanpa persyaratan, sekaligus pencetakan Kartu Keluarga.

Selama acara berlangsung, Mbak Dhesi sebagai fasilitator lapang Pekka Pacitan membagikan Buletin Cermin terbitan Kader Pekka Pacitan kepada para tamu dari Bappenas, Kemendagri, Kedubes Australia, dan KOMPAK Jakarta. Para tamu tertarik dengan artikel yang aku tulis di buletin tersebut. 

Aku cukup berbangga hati karena meski terbilang organisasi yang baru lahir, Bupati Pacitan Bapak Indartarto sudah mengakui keberadaan Serikat Pekka Pacitan. Sebagai bentuk dari pengakuan ini, Bapak Indartarto meminta Direktur Pengembangan Ekonomi dan Usaha Kecil untuk membantu pemasaran produk hasil karya Pekka. Pengalaman ini amat luar biasa bagiku, membuatku terharu dan bahagia. Betapa banyak pihak yang akhirnya mengakui keberadaan kami.

Sejak saat itu, aku semakin bersemangat untuk berkiprah di Serikat Pekka. Aku mendampingi pertemuan kelompok Pekka di desa lain, dan membentuk kelompok Pekka di Desa Gemaharjo dan Desa Tahunan.

 

Demi Akademi Paradigta: Sekolah Perempuan

Pada tanggal 7-9 November 2019, KOMPAK Pacitan merekomendasikan agar aku mengikuti Workshop Sekolah Perempuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Jawa Timur di Grand Hotel Surabaya. Aku hadir sebagai perwakilan Pekka dan wakil perempuan dari Kabupaten Pacitan.

Workshop dibuka dengan sambutan dari Kepala DP3AK dan Kepala Dinas P3AK Provinsi Jawa Timur. Acara kemudian dilanjutkan dengan arahan dari Deputi Kesetaraan Gender KP3A Republik Indonesia, Ibu Ir. Agustina Erni, Msc. Workshop ini diikuti oleh perwakilan dari 15 kabupaten di Jawa Timur, yang sebagian di antaranya melaporkan kegiatan sekolah perempuan di kabupaten mereka masing-masing. 

Mbak Ely, fasilitator lapang Pekka dari Madura, memaparkan profil Pekka lengkap dengan tujuannya, serta Akademi Paradigta, sekolah bagi kader Pekka. Pada tahun 2020, Akademi Paradigta di Sampang, Madura akan didanai pemerintah. Aku betul-betul berharap, semoga pemerintah Kabupaten Pacitan segera menyusul kebijakan yang dilakukan pemerintah Kabupaten Sampang di Madura ini.

Aku kembali mewakili kader Pekka Desa Pucangombo, Kecamatan Tegalombo, untuk menghadiri diskusi dengan perwakilan dari Kedubes Australia dan KOMPAK Jakarta pada tanggal 25 November 2019. 

Dalam diskusi ini aku mempresentasikan kegiatan Pekka. Diskusi ini dihadiri Bapak Aaron Watson dari Kedutaan Besar Australia, Bapak Riao Afifudin yang mewakili Tim Independen Strategis, Bapak Manoj Kumar Nath dan Vin Aschriff dari Avisory Team (ISAT), serta Bapak Philip Hulcome, Abdul Azis Muslim, dan Purri Andriaty dari KOMPAK National Office Jakarta.  Pertemuan ini juga dihadiri oleh Bapak Agus Sarwo Edhi (Pak Bob) dari KOMPAK Jawa Timur, serta Bapak Nurul, Bapak Didik Purwandani, dan Bapak Irwandi dari DC KOMPAK Pacitan.

Dalam diskusi ini, aku memaparkan usulanku tentang peningkatan kualitas Pekka di Pacitan, terutama dari segi kualitas perekonomian anggota kelompok Pekka. Aku juga mengajukan usulan agar Sekolah Perempuan, terutama Akademi Paradigta, diadakan di Pacitan. Aku juga mengusulkan adanya pinjaman modal bagi warga Pekka yang mempunyai usaha mandiri untuk meningkatkan ekonomi dalam menghidupi keluarga. Selain itu, aku juga menceritakan amanah dari 11 desa yang aku emban, juga keterlibatanku dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) sebagai wakil perempuan. Bapak Manoj Kumar tertarik dengan pemaparanku, terutama mengenai kegiatan Pekka dan targetnya. Usulan-usulanku pun diterima dan mendapat dukungan dari Kedutaan Australia dan KOMPAK.

Pada tanggal 12 Desember 2019, aku memberi pelatihan pembuatan jamu instan di Kelompok 4 Dusun Mojo. Teknik pembuatan jamu instan ini aku dapatkan dari seorang teman yang memiliki pabrik jamu. Hasil dari pelatihan ini adalah jahe instan. Berbekal keberhasilan dalam pelatihan ini, aku mempraktikkannya di kelompok Pekka di desa-desa lain. Produk yang dihasilkan lalu dikoordinir oleh masing-masing kelompok, atau dijual ke kelompok yang lain. 

Kesuksesan pembuatan jahe instan ini aku bawa ke pemerintah daerah, dengan mengajukan permohonan untuk mendapatkan fasilitasi pemasaran dan perbaikan kualitas produk yang kami hasilkan.

 

Musyawarah Dusun

Aktivitasku pun kian berkembang. Saat itu, proses Pemilihan Kepala Desa Pucangombo baru usai, dan Kepala Desa yang lama terpilih kembali. Beliau sudah cukup memahami visi dan misi KOMPAK, juga Pekka. Sehingga, aku diundang untuk mengikuti Musyawarah Dusun pada tanggal 16 Januari 2020. Saat itu aku bertugas sebagai pendamping Musdus Inklusif yang bertujuan mengumpulkan bahan untuk membuat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). 

Musdus pertama diadakan di Dusun Mojo, melibatkan kelompok disabilitas. Ada 87 undangan yang hadir dalam Musdus ini, terdiri dari 12 perempuan, 9 mahasiswa dari Universitas Negeri Solo, dan 70 laki-laki dari unsur masyarakat di Dusun Mojo.

Empat hari kemudian, aku mengikuti Musdus di Dusun Kaliogan, dan dua hari setelah Musdus di Dusun Kaliogan, yakni pada tanggal 22 Januari 2020, aku menghadiri Mudus di Dusun Pager. Aku hadir meskipun belum terbentuk kelompok Pekka di dusun ini. 

Mudus ini juga dihadiri oleh seorang mahasiswa program S3 dari Amerika Serikat, Eithan Paul yang sedang melakukan penelitian mengenai variasi pengalokasian dana desa dan keterlibatan kelompok Pekka. Rangkaian Mudus dilanjutkan pada tanggal 26 Januari 2020, ketika aku memfasilitasi Mudus di Dusun Mojo.

 

Aku senang dan bangga karena mendapat kepercayaan untuk membantu desaku. Pemerintah Desa pun senang atas partisipasiku dalam pelaksanaan Mundus. Meskipun aku masih sering merasa kesulitan dalam meningkatkan perekonomian keluargaku, tetapi aku juga mencintai desaku, mencintai kegiatan sosial ini, mencintai Pekka yang sudah memberi kepercayaan besar kepadaku. Aku bersyukur anak-anakku memahami kegiatan yang aku tekuni bersama Pekka. Tak jarang, mereka ‘menyombongkan’ diriku di hadapan teman-temannya. Aku sering merasa geli sendiri mendengar mereka membicarakan kiprahku dengan bangga.

Kegiatan bersama Serikat Pekka Pacitan pun berlanjut. Mbak Dhesi dan Bu Latifah lebih banyak bergerak untuk mengembangkan Pekka di Kecamatan Tulakan. Meski demikan, kami tetap aktif bergerak di desa kami, mendampingi kelompok-kelompok Pekka. Salah seorang temanku, Eny Mudjito, terpilih menjadi anggota Tim 11 – salah satu tim untuk pengembangan desa – di Desa Tegalombo. Aku ikut merasa bangga. Eny yang tadinya hanya bisa berjualan, sekarang ikut berperan penting di desa.

 

Menagih Janji dalam Forum Pemangku Kepentingan

Aku terlibat dalam Forum Pemangku Kepentingan (FKP) pada 5 Maret 2020 yang bertema Peran Penting Kepemimpinan Perempuan Desa untuk Meningkatkan Layanan Publik Pendidikan dan Kesehatan yang Berkualitas dan Sensitif Gender. Dalam forum ini, hadir pejabat-pejabat penting dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta para wakil kepala desa di Kecamatan Tegalombo dan Kecamatan Tulakan. Juga hadir perwakilan dari tiap kecamatan.

Kami dari Pekka memaparkan pencapaian, mulai dari jumlah kelompok yang telah terbentuk, KLIK PEKKA yang sudah empat kali kami adakan, hingga data hasil KLIK PEKKA yang menunjukkan bahwa masalah terbesar – dan terbanyak – adalah mengenai identitas dan pelindungan sosial.

Ketika dialog dibuka dalam acara ini, aku menagih janji kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana terkait tindak lanjut Sekolah Perempuan, seperti laporanku sepulang dari workshop di Surabaya. 

Setengah tahun lalu, kami para kader Pekka masih gementar dan kurang percaya diri bila diminta untuk berdialog. Sekarang, kami sudah lebih berani dan lebih lancar berdialog. Kami merasa diri kami telah berkembang. Bahkan, seorang anggota Pekka bercerita, anaknya yang sempat putus sekolah sekarang punya peluang untuk melanjutkan pendidikannya. Kesempatan ini dimungkinkan dengan adanya informasi yang diberikan Dinas Pendidikan kepada para anggota Pekka mengenai beasiswa. 

 

Terputus Covid-19

Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) Yogyakarta berencana untuk mengadakan Kegiatan Pelatihan KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) Angkatan I pada 15 Maret 2020. Aku terpilih untuk menjadi peserta dalam kegiatan ini. Sayangnya, wabah Covid-19 merebak dan pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang melarang masyarakat untuk mengadakan pertemuan dan berkumpul dalam jumlah besar untuk mencegah penularan virus tersebut. 

Sesuai dengan peraturan tersebut, pimpinan BBLM memutuskan untuk menunda pelatihan tersebut hingga waktu yang tidak ditentukan. Kepala BBLM Yogyakarta beserta pemandu dan panitia menyampaikan permohonan maaf kepada para peserta dan jajaran Dinas Permades Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Pacitan.

Dan bukan hanya pelatihan ini yang ditunda. Semua kegiatan terpaksa dihentikan, entah sampai kapan. Termasuk pelatihan untuk pengembangan usaha kecil masyarakat yang akan dilaksanakan di Grand Bromo, serta berbagai kegiatan yang diadakan di kelompok-kelompok Pekka terpaksa dihentikan untuk sementara. Aku sangat sedih, suasana jadi mencekam.

Pandemi juga menghantam usahaku berjualan kain. Biasanya, aku akan ‘panen’ hasil dagangan menjelang lebaran karena banyak orang yang membeli kain untuk dijahit dan dijadikan baju lebaran. Namun, orang-orang yang biasa memborong kain dariku kali ini berpikir panjang. 

Kondisi ekonomi yang tidak menentu membuat mereka memilih membeli sembako dibandingkan dengan membeli baju baru. Aku membenarkan cara berpikir mereka, meskipun akibatnya aku harus memutar otak. Bagaimana dengan usahaku? Bagaimana dengan modal yang sudah telanjur aku keluarkan untuk belanja kain?

Alhamdulillah, memasuki minggu ke-3 pandemi Covid-19, aku mendapat kabar melalui pesan WhatsApp dari Kaur Desa Pucangombo. Beliau menawarkan usaha pembuatan masker untuk Desa Pucangombo. Bagiku, ini adalah berkah untuk mengatasi kebuntuan usahaku. Kami pun segera menyepakati harga. Aku tidak memusingkan besar kecilnya untung yang aku dapat, yang penting kainku laku terjual. Aku benar-benar bersyukur, aku masih bisa memperpanjang napas keluargaku di bulan April tahun itu.

Minggu berikutnya, aku mendapat pesan WA dari fasilitator lapang Pacitan, Mbak Dhesi, yang memintaku untuk menjadi penanggung jawab pembuatan masker bagi kelompok Pekka di Pacitan. Doaku seperti terjawab. Aku yang memang membutuhkan pekerjaan untuk menyambung ekonomi keluarga, langsung menyetujui tawaran Mbak Dhesi. Apalagi pembuatan masker ini dilakukan untuk keluarga besar Pekka.

Pembuatan masker ini merupakan kerjasama antara Pekka dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Di lapangan, kami para pengelola pembuatan masker ini menemui berbagai kendala. Di antaranya adalah kekosongan stok tali elastin masker yang terjadi di mana-mana. Harganya ikut meroket seiring naiknya kebutuhan. Status Pacitan yang masuk dalam zona merah juga menjadi kendala besar, karena toko-toko yang menjual barang kebutuhan non-esensial harus tutup.

Pandemi juga membatasi ruang gerak kami untuk pergi ke desa dan kecamatan lain. Kami pun harus mengirim bahan-bahan masker ke kelompok lain yang ada di Kecamatan Tulakan dengan menggunakan jasa PT Pos. Ketika paket telah sampai, kader Pekka yang ada di satu desa takut untuk datang ke desa lainnya, seperti kader Pekka yang berada di Desa Wonoanti tidak berani pergi ke Desa Ngumbul. Padahal, dua bulan sebelumnya mereka sering saling berkunjung dan membantu untuk mengadakan KLIK, Diskusi Kampung, dan FPK. 

Lokasi kelompok-kelompok Pekka yang di dataran tinggi dengan jalan curam juga memberi kendala lebih besar, meskipun kendala ini telah lama kami rasakan. Sinyal yang putus-nyambung membuat kami mengalami kesulitan saat berkoordinasi melalui telepon genggam dengan para penjahit masker yang tinggal di sana.

KOMPAK dan PEKKA mulai mengadakan kegiatan pada Juli 2020, meskipun diadakan secara daring. Meskipun untuk saat itu, kelompok masih melakukan pembatasan jumlah anggota untuk mengadakan pertemuan, dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Selama Pacitan masih berada dalam zona merah, kami tidak berani banyak berkegiatan.

Pelan-pelan, aku mulai melakukan aktivitas lagi meskipun pandemi masih menghantui. Pada tanggal 15-19 September 2020, aku mengikuti Pelatihan Online Berbasis Masyarakat Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa dengan tema KPMD Menggerakan Partisipasi Masyarakat Desa Tahun 2020. 

Pelatihan selama 20 jam ini diselenggarakan oleh Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) Yogyakarta, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Alhamdulillah, aku mendapatkan sertifikat dan piagam penghargaan, serta hadiah langsung dari BNI berupa termos kopi.

Pada tanggal 8 Oktober 2020, aku mengikuti Pelatihan Peningkatan Produktivitas Industri Rumahan (IR) Melalui Teknologi di Grand Bromo Hotel, Pacitan. Setelah itu, pada 14 Oktober 2020, aku mengikuti pelatihan pembuatan jamu instan sebagai bagian dari Program Dana Desa Pucangomo. Pelatihan ini menghadirkan Bapak dr Sunu dari Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan dan dihadiri oleh Pekka dan PKK. Hasil akhir dari pelatihan ini dipraktikkan di kelompok Pekka.

Pada akhirnya, aku sering merasa tidak percaya pada apa yang telah aku lakukan. Keterpurukanku setelah dicampakkan suami tidak menenggelamkanku. Aku tetap gigih berjuang demi anak-anakku. Saat ini, aku mencoba menularkan semangat itu kepada perempuan-perempuan muda di desaku yang telah menyandang kepala keluarga. Aku tunjukkan kepada mereka, kami para perempuan kepala keluarga tetaplah manusia yang berdaya.

Bagikan Cerita Ini

Cerita Terkait

Demi Anak-Anakku, Aku Rela Berjuang Seorang D

Demi Anak-Anakku, Aku Rela Berjuang Seorang Diri: Kisa...

Semangat Tidak Mengenal Batas Usia

Semangat Tidak Mengenal Batas Usia Kisah Diri Suparti ...

Leave a Comment