Saya Sri Mahyuni lahir tanggal 8 September 1991 di Kelurahan Sei Merbau Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai Sumatera Utara. Saya anak ke dua dari empat bersaudara, meskipun  orang tua saya tidak begitu lancar membaca dan menulis namun mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya di tempat yang layak dengan penuh tanggung jawab, terbukti saya dan kakak laki-laki serta adik perempuan  saya berhasil  menamatkan pendidikan Sekolah Menegah Atas (SMA) sedangkan  adik laki-laki saya yang paling kecil saat ini masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP).  

Setahun setelah menamatkan pendidikan SMA tepatnya pada tahun 2011 saya menikah dengan seorang laki-laki bernama Khairul Anwar Nasution. Namun hingga usia 12 tahun pernikahan, kami  belum dikaruniai  keturunan. Meskipun kami sudah melakukan berbagai upaya tetapi sang Maha Kuasa belum memberi kepercayaan kepada kami untuk mempunyai keturunan.  

Hari-hari saya lalui dengan rasa sepi hingga disuatu siang awal tahun 2016  beberapa orang kader Pekka datang berkunjung ke rumah saya dengan tujuan untuk mengajak saya dan teman -teman dilingkungan sekitar tempat tinggal saya bergabung di Pekka. Mereka menjelaskan tentang Pekka dan berbagai kegiatannya. Karena saat itu saya tidak bekerja dan punya banyak waktu maka saya memutuskan untuk ikut bergabung di Pekka. Awalnya  saya hanya ikut-ikutan saja untuk mengisi waktu luang. Tetapi setelah  Ibu Hasmurina dan ibu Santiem dari kader Pekka menjelaskan manfaat menjadi anggota Pekka saya mulai tertarik dan bergabung di Pekka melalui  Kelompok Rambutan.   

Setelah beberapa bulan saya di Pekka,  saya mengikuti pelatihan Visi Misi Berkelompok. Pada saat pelatihan saya sangat senang karena lebih banyak materi seperti permainan yang sangat menyenangkan tetapi mengandung arti. Saya menjadi tahu alasan mengapa kita harus berkelompok dan sekaligus mengetahui bagaimana mengelola kelompok.  

Pada awal tahun 2018 Serikat Pekka Kota Tanjungbalai melakukan kegiatan  Akademi Paradigta. Disini kami belajar tentang pengorganisasian dan membentuk serta mengelola kelompok, melakukan kunjungan ke instansi, mengetahui program-program perlindungan sosial  dan bagaimana mengaksesnya serta mengetahui hak-hak perempuan. Selama kegiatan tersebut banyak sekali hal hal positif yang saya peroleh. Tidak hanya itu setelah selesai kelas kami juga diwisuda sebagai tanda kelulusan, yang membuat saya senang adalah kehadiran Bunda Nani Zulminarni saat proses wisuda, karena selama ini hanya mengenal nama beliau sebagai pendiri Pekka. Kami juga mendapatkan sertifikat sebagai lulusan Akademi Paradigta.  

Di tahun yang sama serikat Pekka Kota Tanjungbalai melakukan Musyawarah Besar (Mubes) di Center Pekka ‘Setambat Setangkahan” yang mengandung arti bahwa dari manapun kita berasal kita tetap dipersatukan oleh Pekka dicenter ini. Hal ini dikarenakan center ini merupakan tempat pusat kegiatan dari Serikat Pekka Kota Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan. Pada saat Mubes  saya terpilih sebagai penanggungjawab divisi Hukum. Saya merasa senang sekaligus terharu karena dipercaya oleh anggota untuk bertanggungjawab dalam kegiatan hukum yang sering dilakukan oleh Serikat Pekka padahal saya belum pernah mendapatkan pelatihan tentang hukum  

Aku sangat senang karena pada akhir 2018 tepatnya tanggal 28 Desember di Center Pekka dilakukan kegiatan pelatihan paralegal bagi kader  Pekka Kota Tanjungbalai dengan tema “Peningkatan Kapasitas Hukum Untuk Perempuan”.  Kegiatan tersebut di lakukan selama tiga hari berturut-turut dengan mendatangkan fasilitator dari Jakarta yang bernama Dwi Indah Wilujeng dan juga di dampingi oleh Mardiah sebagai Fasilitator Lapang PEKKA pada saat itu. Karena saya sebagai penanggungjawab divisi hukum di serikat maka tentunya saya sangat antusias dalam kegiatan tersebut,  walaupun  waktu pelatihan sangat singkat tetapi saya mendapatkan banyak ilmu yang sangat berguna untuk saya dan juga untuk masyarakat dimana selama ini saya sendiri selalu berpendapat bahwa hukum yang berlaku sekarang ini tidak sesuai dengan undang undang yang ditetapkan pemerintah dan hukum bisa diperjualbelikan. Setelah mengikuti pelatihan pola pikir saya langsung berubah dan saya bertekad untuk membantu mendampingi masyarakat yang kurang mampu untuk menghadapi masalah hukum yang mereka hadapi saat ini.   

Berbagai kegiatan saya ikuti selama di Pekka. Pelatihan paralegal, pelatihan KLIK Pekka. Setiap Ilmu yang saya peroleh dipelatihan dapat meningkatkan kemampuan diri saya untuk menjadi kader Pekka. Hampir dua tahun kegiatan KLIK (Klinik Layanan Informasi dan Konsultasi) tidak dilaksanakan di Kota Tanjungbalai diakibatkan oleh pandemi covid-19 yang mewabah hampir diseluruh dunia yang menyebabkan pemerintah pusat dan daerah  melarang ada nya kegiatan yang mengumpulkan masa. Ditahun 2021 kasus  sudah mulai menurun dan kegiatan KLIK bisa dilakukan dengan cara mendatangi masyarakat kesetiap rumah atau door to door. Dimulai tanggal 6 September 2021 saya mendata di Kelurahan Pulau Simardan, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan banyak terjadi hambatan saat di lapangan di antaranya kurang komunikasi antara Kelurahan dengan Kepala lingkungan (Kepling) setempat yang mengakibatkan selisih pendapat antara saya dan Kepling, karena secara tidak langsung melarang warganya untuk saya data. Namun demikian tidak menurunkan semangat saya dalam menjalan kegiatan tersebut. Banyak  masalah yang di temukan di kelurahan tersebut diantaranya banyaknya masyarakat lanjut usia (lansia) yang tidak mendapatkan bantuan sosial dan juga ada anak yang mengidap penyakit yang dirawat oleh uwak (Abang dari ayahnya) dalam hal ini ternyata uwak juga termasuk kurang mampu sehingga selama ini untuk biaya pengobatan anak tersebut  dari sumbangan masyarakat setempat. Si anak juga mempunyai identitas diri yang terdaftar di Bagan Asahan sehingga Dinas Sosial Kota Tanjungbalai mengalami kesulitan dalam memberikan bantuan, walau demikian Dinas Sosial tetap memberikan bantuan berupa susu dan makanan tambahan.  

 

Tahun 2022 seiring dengan semakin meredanya kasus covid-19 dan tidak ada pembatasan kegiatan masyarakat di kota Tanjung Balai maka kami sudah bisa memulai kegiatan KLIK yang akan di selenggarakan di kelurahan Tanjung Balai kota I dengan tetap mematuhi  protokol kesehatan. Dalam kegiatan KLIK kali ini banyak mendapat tantangan karena di kelurahan tersebut banyak warga etnik Tionghoa dan kategori keluarga mampu. Walau demikian tidak menyurutkan tekad saya dan sembilan teman saya untuk melakukan kegiatan KLIK di kelurahan tersebut.   

Tepatnya Selasa 19 Juli 2022 saya dan teman saya berkunjung ke kelurahan Tanjung Balai kota I dalam rangka mengajukan perizinan untuk  mengadakan KLIK di kelurahan tersebut dan menjelaskan apa yang di maksud dengan KLIK dan  menjelaskan tentang Pekka. Kedatangan kami di sambut baik oleh pak lurah, beliau mengerahkan staf kelurahan untuk membantu dan menghayo-hayokan kepada masyarakat agar masyarakat mau datang ke acara KLIK. Setelah dari kelurahan saya pergi lagi ke kantor instansi yang akan terlibat dalam kegiatan KLIK. Seperti kantor Dinas Sosial, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, BPJS, Pemberdayaan Perempuan serta ke kantor DPRD Kota Tanjung Balai. Semua dinas yang di kunjungi sangat mendukung dan berjanji akan hadir salam kegiatan tersebut.   

 

Pada hari Kamis 21 Juli 2022, tepatnya jam 07.30 WIB saya dan teman-teman serta staf kantor lurah memasang spanduk KLIK, tak lama berselang kepala Disdukcapil pun tiba dan disusul dengan Bapak Lurah dan instansi-instasi yang lainnya. Tepat jam sembilan acara pun di buka oleh protokol dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu mars Pekka Lalu dilanjutkan dengan kata sambutan dari ketua panitia yang disampaikan oleh Ibu Hotnida Harahap dilanjutkan oleh Bapak Lurah, dari Dinas Disdukcapil dan dinas-dinas lainnya. Acara berdialog langsung dengan instansi yang terkait pun dilaksanakan dengan tertib dimana masyarakat yang datang menanyakan secara langsung permasalahan mereka dengan instansi terkait. Permasalahan yang banyak terjadi di masyarakat berhubungan dengan masalah BPJS yang tidak aktif lagi. Ada juga masyarakat Tionghoa yang datang untuk berkonsultasi bagaimana cara untuk mendapatkan bantuan perlindungan sosial yang langsung ditanggapi oleh Dinas Sosial. Masyarakat yang  hadir dalam kegiatan KLIK tersebut tidak terlalu banyak hanya 52 orang  dengan jumlah kasus 75.   

Ilmu yang saya dapat dalam pelatihan terus saya tingkatkan  hingga sekarang, dan karena saya sudah bisa mengajukan pendapat di depan umum dengan baik sehingga saya bisa ikut bergabung apa bila ada kegiatan di kelurahan seperti Musrembang, PKK, Posyandu, dan saya juga bergabung di BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) Kota Tanjungbalai. Bahkan saya juga dicalonkan  sebagai kepala lingkungan namun saya menolaknya karena saya merasa kurang mampu untuk mengemban tanggung jawab yang diberikan kepada saya disamping itu saya masih ingin fokus berkegiatan di Serikat Pekka.   

 

Bagikan Cerita Ini

Cerita Terkait

Leave a Comment