Mengubah Trauma Menjadi Berdaya

Tsunami membukakan mataku. Betapa membantu orang lain bisa memulihkan rasa traumaku dari bencana itu. Pekka memberiku jalan baru, untuk kembali menata kehidupan baru yang penuh asa.

Aku terpaksa mengubur cita-cita yang sudah aku tanamkan sejak kecil: menjadi seorang polisi wanita. Padahal, aku harus berjuang untuk bisa sampai lulus SMA. Kemampuan ekonomi orang tuaku sangat tidak memungkinkan untuk menyekolahkanku tinggi-tinggi. Bagi kami, yang tinggal di sebuah desa kecil bernama Desa Pandrah Janeng, bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-hari sudah sangat baik. Desaku ini berlokasi di Kecamatan Pandrah, Kabupaten Bireun. Dengan delapan orang anak, tentu sulit bagi Junaid Radi, bapakku, dan Jariah, ibuku, untuk mendukung keinginanku. Itulah sejarah hidupku, Marlina, yang lahir di keluarga ini sebagai anak ke-7 pada tanggal 5 Juli 1985. 

Aku bersekolah di SD Garot Kecamatan Pandrah, dan melanjutkan ke SMP 1 Pandrah. Pada tahun 2000 aku lulus SMP. Sebenarnya, aku ingin melanjutkan sekolah ke STM. Namun karena orang tuaku tidak bisa membiayai sekolahku lagi, akhirnya aku melanjutkan ke pesantren selama satu tahun. Keputusan ini berlawanan dengan cita-citaku. Aku berharap, aku bisa membahagiakan orang tuaku bila cita-citaku tercapai. 

Bibiku datang dari Banda Aceh setelah satu tahun aku di pesantren. Lalu orang tuaku menceritakan keinginanku untuk melanjutkan sekolah ke STM. Bibi menyatakan kesanggupannya untuk menyekolahkanku, asal aku mau tinggal bersamanya. Akhirnya, pada tahun 2001, aku melanjutkan sekolah ke SMA Negeri Banda Aceh. 

Aku merasakan pedihnya kehidupan tinggal di rumah orang. Aku harus bangun pukul lima subuh untuk mengerjakan pekerjaan rumah, seperti menyapu, mengepel lantai, dan memasak. Aku baru bisa berangkat ke sekolah setelah semuanya selesai aku kerjakan. Aku hampir menyerah ketika aku masih duduk di kelas dua. Namun, dukungan dari teman-teman membuatku bertahan hingga aku berhasil lulus. 

Aku lulus dengan predikat siswa berprestasi. Posisi ini membuat aku mendapat tiga undangan untuk melanjutkan kuliah dari tiga perguruan tinggi di Banda Aceh. Aku tidak menerima tawaran itu karena aku sadar, orang tuaku tidak akan punya uang untuk membiayai kuliahku. Aku mencoba melamar ke Akademi Kepolisian untuk menjadi polwan, seperti yang selama ini aku cita-citakan. Sayang, aku tidak lulus Tes Kesehatan. Ternyata aku mengidap buta warna dan rabun jauh. Aku masih tinggal bersama bibiku saat itu.

Tsunami menerjang Banda Aceh pada tahun 2004. Alhamdulillah, aku bisa menyelamatkan diri. Aku berlari sekuat tenaga dan memanjat pohon asam yang ada di pinggir jalan di dekat rumah Bibi. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Bibi dan anaknya terbawa arus kencang. Aku dilanda rasa sedih, trauma, bingung, dan nyaris putus asa. Aku harus hidup sendirian di Banda Aceh, jauh dari orang tua dan sanak saudara. 

 

Titik Balik ke Arah yang Lebih Baik

Aku tetap tinggal di Banda Aceh pasca tsunami. Aku mencoba melamar bekerja di NGO sebagai relawan sambil kuliah, dan diterima. Aku bersyukur bisa menjadi relawan karena aku bisa membantu orang lain sambil memulihkan rasa traumaku sendiri. Aku sering diajak oleh relawan asing untuk membagikan sembako dan kebutuhan lain untuk warga yang tinggal di pengungsian dengan menggunakan helikopter. Aku senang sekali. 

Pada tahun 2006, aku bertemu  dengan seorang laki-laki yang sangat baik. Dia berasal dari Aceh Timur.  Dia selalu memotivasiku dalam segala hal. Tidak lama setelah berkenalan, kami memutuskan untuk menikah di kampung karena aku ingin pernikahanku disaksikan oleh orang tua dan keluargaku. Kami tidak bisa berlama-lama tinggal di kampung setelah menikah, karena aku harus menyelesaikan kuliah.

Alhamdulillah suami sangat menyayangiku, sehingga rumah tanggaku berjalan baik-baik saja. Permasalahan rumah tangga tentu saja ada, namun kami selalu bisa menyelesaikannya secara baik-baik. Pada tahun 2007 lahirlah anak laki-laki pertama kami. Bayi laki-laki itu kami beri nama Nasti Gunawan. Kehadirannya tentu saja menambah kebahagiaan dalam rumah tangga kami.

Pada saat aku tamat kuliah  tahun 2009, kami memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku di Bireun. Aku  berniat ingin mengabdikan diri di kampung sendiri. Alhamdulillah, aku diterima untuk mengajar di SDN 1 Pandrah. Walaupun hanya sebagai tenaga honorer, aku tetap merasa bangga karena bisa memanfaatkan ilmu yang aku dapat. Sampai akhirnya anak kedua kami lahir pada tahun 2012. Alhamdulillah, laki-laki lagi. Bayi ini kami beri nama Muhammad Asyraf.

 

Aku Tumbuh bersama Pekka

Di tahun 2013, seorang teman mengajakku untuk ikut dalam organisasi Pekka. Aku masih bingung dan ragu karena belum begitu paham tentang Pekka, juga takut tidak bisa memilah antara waktu mengajar dengan berkumpul bersama teman-teman di organisasi ini. Tapi akhirnya aku putuskan untuk mengikuti ajakan temanku, karena aku merasa tertarik dengan program-program mereka. Aku melihat, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh temanku membuatnya bisa berbagi ilmu dengan ibu-ibu di pedesaan. 

Lalu aku membentuk kelompok  yang diberi nama kelompok Kasih Ibu, dengan jumlah anggota sebanyak 22 orang. Aku sendiri dipercaya sebagai ketua kelompok. Untuk kegiatan di kelompok, kami mengadakan simpan pinjam. Selain itu kami juga mengelola kebun kelompok. Kami menanam kangkung, bayam, sawi, kacang panjang, cabe kecil dan cabe besar. Jika panen sayurannya kami jual ke anggota kelompok sendiri, dan keuntungannya kami simpan di kas kelompok

Aku diajak ke Jakarta untuk melakukan Pelatihan CO (Community Organizer) atau biasa disebut pengorganisasian masyarakat. Pelatihan ini diselenggarakan di Green Hotel pada tahun 2014. Hanya aku yang berangkat dari Bireun. Saat mau berangkat aku merasa takut karena ini adalah kali pertama aku naik pesawat. Aku juga merasa takut untuk pergi ke kota besar, karena aku ini orang kampung. Aku takut nyasar, takut dibilang orang bodoh. Banyak hal yang menghantuiku ketika mau berangkat. 

Ketakutan-ketakutan itu hilang setelah sampai di hotel. Aku merasa senang, karena bisa bertemu dengan teman-teman dari wilayah lain sehingga bisa berbagi pengalaman. Di sana kami diajarkan tentang kepemimpinan dan pengelolaan organisasi. Waktu itu aku dilatih oleh Bunda Nani, Mbak Oemi dan tim Seknas lainnya. 

Pelatihan itu berlangsung selama lima hari. Selama pelatihan itu juga aku diberi kesempatan untuk berbicara di depan forum untuk menyampaikan materi. Saat hari pertama aku masih ragu-ragu dan takut untuk maju. Tetapi berkat dukungan dan motivasi dari fasilitator, hari-hari selanjutnya aku menjadi semakin percaya diri dan semakin terbiasa untuk berbicara di depan forum. 

Memang, aku ini seorang guru. Tetapi selama ini yang aku hadapi adalah anak-anak, bukan orang-orang dewasa, apalagi dari berbagai wilayah di Indonesia. Dalam hati aku bertekad, aku harus bisa memotivasi ibu-ibu kelompok di wilayah, supaya perempuan bisa lebih maju.

Sepulang dari pelatihan tersebut, aku diangkat menjadi kader CO (Pengorganisasian Masyarakat). Dan tugasku yang pertama di wilayah adalah membentuk kelompok baru. Ternyata, membentuk kelompok adalah tugas yang tidak mudah. Kita harus beberapa kali mensosialisasikan informasi tentang Pekka. Kebanyakan dari ibu-ibu yang aku dekati sulit memahami Pekka, dan juga selalu bertanya apa manfaat masuk Pekka. Mereka berharap setelah masuk Pekka, mereka akan mendapat bantuan. 

Kami selalu menjelaskan bahwa Pekka tidak bisa memberi bantuan secara materi, tetapi ilmu yang akan bermanfaat untuk perempuan dan masyarakat. Aku tidak pernah patah semangat untuk terus mensosialisasikan tentang Pekka, sampai akhirnya kelompok di Bireun bertambah banyak.

Pada tahun 2014, aku mengikuti Pelatihan Paralegal yang diadakan oleh Pekka. Saat itu materi pelatihan disampaikan oleh Kak Mala sebagai fasilitator lapang di Bireun. Pelatihan dilaksanakan selama dua hari di Center Pekka, dan diikuti oleh lima orang kader sebagai calon paralegal Pekka

Setelah pelatihan, aku diangkat menjadi kader hukum Pekka. Aku jadi bisa membantu masyarakat dalam pembuatan Akta Kelahiran, KK (Kartu Keluarga), KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan mendampingi kasus-kasus. Kebanyakan kasus yang aku tangani adalah kasus gugat cerai dan isbat nikah, khususnya pendampingan bagi masyarakat miskin. Tetapi saat mendampingi aku sempat tidak dipercaya oleh masyarakat. Bahkan ada yang menuduh aku ini calo. Untuk itu, yang pertama aku dampingi adalah anggota Pekka dari kelompokku dulu. Anggota kelompok pun masih banyak yang belum punya Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk, dan juga Akta kelahiran. 

Akhirnya mereka yang dulu menuduhku macam-macam terbuka mata dan pikirannya, setelah melihat aku bisa membantu anggota kelompok dalam pembuatan legalitas hukum, dan Pekka bisa kerjasama dengan Dukcapil. Malah setelah itu mereka yang datang kepada kami, untuk minta dibuatkan Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk serta Akta Kelahiran. Apalagi setelah Pekka mengadakan FPK (Forum Pemangku Kepentingan) di Center Pekka. Dalam acara tersebut Pekka mengundang tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, Kepala Desa, Camat, Polsek, Danramil (Komandan Rayon Militer) dan juga dinas-dinas terkait, seperti Dinas DUKCAPIL (Kependudukan dan Catatan Sipil), Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Pengadilan Agama dan juga Dinas Pemberdayaan Perempuan. Kader Pekka semakin diakui keberadaannya di masyarakat.

 

Mengasah Pengalaman Melalui LKM dan Yandu

 

Pengalamanku dalam hal keuangan barulah mengurus simpan pinjam di kelompok. Namun, aku dipercaya untuk menjadi Ketua LKM (Lembaga Keuangan Mikro) di Pekka Kabupaten Bireun pada tahun 2015. Penunjukkan ini memberiku kesempatan untuk mengikuti Pelatihan Pembukuan LKM. Banyak yang harus aku pelajari di pelatihan ini, mulai dari buku kas, buku bank, sampai neraca saldo. Aku sempat kewalahan dan bingung di awal pelatihan. 

Menjadi ketua LKM membuat tanggung jawabku semakin besar. Apalagi kondisi pinjaman dari anggota LKM Pekka Bireun saat itu banyak yang macet. Aku bingung karena setiap aku melakukan penagihan, anggota selalu mengatakan “aku pinjam kepada pengurus lama dan tidak ada sangkut paut denganku.” 

Pengurus LKM memutuskan untuk kembali melakukan sosialisasi kepada anggota, bahwa LKM sudah mengadakan pemilhan pengurus baru, dan yang menjadi ketua LKM sekarang adalah aku, Marlina. Setelah itu barulah mereka paham. 

Sejak saat itu aku menerapkan aturan, yaitu setiap pengurus kelompok harus datang ke Center setiap akhir bulan untuk pertemuan LKM, meskipun mereka tidak punya keharusan membayar cicilan pinjaman. Alhamdulillah, sekarang kondisi LKM mulai membaik. Kemacetan pinjaman di kelompok mulai berkurang.

Di tahun 2016, Pekka melakukan Pelayanan Terpadu (YANDU) di Bireun, dan aku terpilih sebagai salah seorang kader yang terlibat.  Namun sebelum pelaksanaan, kami harus melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat. Karena kebetulan di Bireun termasuk wilayah yang pernah dilanda konflik dan tsunami, banyak sekali masyarakat yang tidak mempunyai Surat Nikah. Ada yang terbakar saat konflik, atau hanyut terbawa air saat tsunami. 

Pada saat itu kuota untuk isbat YANDU adalah sebanyak 100 pasang. Tetapi yang bisa kami akses hanya 73 pasang. Kami tidak ada waktu lagi untuk melakukan sosialisasi ke masayarakat. Apalagi masih ada masyarakat yang masih meragukan kami, kader Pekka, dalam mengadakan YANDU. Mereka malah meremehkan kami, menghina bahkan ada yang mencaci maki. Meskipun kami sudah melakukan sosialisasi ke Kepala Desa, tetapi masih ada saja masyarakat yang tidak percaya kepada kader Pekka

Alih-alih menyurutkan semangat, aku malah lebih termotivasi untuk terus membantu pembuatan isbat nikah bagi masyarakat Bireun.  Kami hanya diberi waktu satu minggu untuk mengumpulkan data, sehingga hanya anggota Pekka yang bisa kami dapatkan datanya pada saat itu. 

 

Menjadi Guru di ‘Sekolah’ yang Lain

Tahun 2017, aku berkesempatan untuk mengikuti pelatihan Trainer On Training (Pelatihan untuk Melatih) sekolah kader yang diadakan di Bekasi. Saat itu peserta pelatihan datang dari beberapa wilayah. Dari Bireun ada dua orang yang ikut, aku dan Ismiati. Kami dilatih banyak tentang bagaimana menjadi mentor. Kami juga harus mempelajari banyak hal tentang modul. 

Pada pelatihan itu yang paling berkesan bagiku adalah kami harus menyampaikan modul tanpa melihat teks. Dan itu cukup berat bagiku, kami harus paham dulu tentang apa yang akan disampaikan. Yang melatih kami pada saat pelatihan itu adalah Mbak Nunik, Mas Adi, Bunda Nani, Mbak Oemi dan juga beberapa anggota tim dari Seknas. Kami merasa bangga, sekali bisa dilibatkan dalam pelatihan tersebut, karena ini merupakan kesempatan bagiku untuk berbagi ilmu dengan peserta -peserta dari kader desa.

Sayangnya, sepulang pelatihan kami tidak bisa langsung mengadakan sekolah kader. Menurut faslap, Serikat Pekka Bireun belum pasti akan mendapat dukungan dari KOMPAK atau MAMPU, sehingga kegiatan sekolah kader tersebut terpaksa kami tunda. Namun aku, Kak Imiati, dan teman-teman kader Pekka Bireun tetap mensosialisasikan kepada masyarakat, bahwa di Serikat Pekka Bireun akan diadakan sekolah kader, khusus untuk kader perempuan desa yang tujuannya agar perempuan bisa ikut berkontribusi dalam pembangunan. Sebagai kader, walaupun kegiatan sekolah kader Pekka ditunda, kami tetap melakukan kegiatan Pekka seperti biasa. Kami terus melakukan pendampingan kelompok, sosialisasi program Pekka, juga dampingan kasus.

Aku kembali mengikuti pelatihan ToT di tahun 2018.  Tapi kali ini pelatihan ToT untuk menjadi mentor Akademi Paradigta di Bogor. Waktu itu aku berangkat bersama Kak Ismi dan Mulyani. Saat di Bogor, kami bersama tim dari Seknas merevisi modul. Kami diberikan kesempatan untuk memberi masukan dalam pembuatan modul Akademi Paradigta agar sesuai dengan realita yang ada di lapangan. Aku juga diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi dalam hal memfasilitasi peserta Akademi Paradigta

Pelatihan ini berlangsung selama lima hari. Aku bersama kawan-kawan peserta latihan belajar mulai dari pukul 8.00 pagi hingga pukul 21.00. Terkadang malah sampai lebih malam, karena banyak modul yang harus kita pelajari. Bahkan setelah selesai kelas pun kami tidak langsung tidur, tetapi belajar memfasilitasi bersama tim mentor. Kami berbagi tugas siapa yang akan menjadi fasilitator dan siapa yang tugasnya menjadi asisten fasilitator. Waktu itu aku dilatih oleh Mbak Nunung dan Mbak Rom. 

Pulang pelatihan dari Bogor, aku bersama teman-teman mentor langsung melakukan sosialisasi ke kelompok-kelompok untuk mencari peserta, juga sosialisasi dengan Kepala  Desa. Tidak terlalu sulit untuk mencari peserta, karena sebelumnya kader Pekka sudah menyampaikan program ini di desa masing-masing. 

Akhirnya, Akademi Paradigta

Satu bulan setelah sosialisasi, juga setelah data peserta terkumpul, barulah kami membuka Akademi Paradigta. Sekolah ini bertempat di Center Pekka  dengan peserta lebih dari 60 orang dengan empat mentor. Kami belajar dari pukul 9.00-17.00 WIB, tergantung modul yang diajarkan. 

Sebagai mentor, pada awalnya aku merasa kesulitan karena harus memotivasi ibu-ibu agar berani melakukan presentasi dan juga berbagi pengalaman hidup. Akademi Paradigta berjalan selama delapan bulan. Dalam perjalanannya, jumlah peserta mulai berkurang dengan berbagai alasan. Rata-rata peserta punya kesibukan lain di desanya, juga ada yang mengalami masalah keluarga. Tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat kami. 

Sampai akhirnya tibalah waktunya kami menggelar acara wisuda. Akademia yang lulus pada tahun 2019 sebanyak 50 orang. Semua akademia terlihat merasa bahagia saat pelaksanaan wisuda tersebut. Apalagi kami sebagai mentor. Wisuda dilaksanakan di Gedung Serba Guna Kantor Kecamatan Jenim, dan dihadiri beberapa kepala desa dan juga dari Dinas. Alhamdulillah, pelaksanaan wisuda saat itu berjalan dengan lancar. 

Setelah selesai wisuda tugasku ternyata belum selesai. Aku bersama teman-teman mentor lain masih harus mendampingi para akademia dalam melakukan advokasi di desanya masing-masing. Kami juga harus siap membantu jika ada akademia yang menemui hambatan dalam menerapkan tugas-tugas mereka di masyarakat.

 

Melebarkan Sayap

Selesai Akademi Paradigta tahap pertama, aku tidak ikut lagi menjadi mentor di pendidikan Akademi Paradigta tahap ke-2. Aku ditugaskan untuk membentuk kelompok Pekka di Kabupaten Bener Meriah bersama Kak Haswadana dan didampingi oleh faslap Kak Ida Purnama. Pembentukan kelompok Pekka di wilayah baru memberi tantangan baru bagiku. Kami tidak tahu seperti apa kondisi masyarakat di sana. 

Untunglah, saat pertama kali kami harus mengadakan sosialisasi di wilayah baru, kami dibantu oleh tim dari KOMPAK. Mereka mendampingi kami untuk melakukan sosialisasi ke pemerintah Kabupaten Bener Meriah, mulai dari Dinas DUKCAPIL, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan beberapa instansi lain. Tim dari KOMPAK juga yang menghubungkan kami dengan beberapa kepala desa. 

Target kami adalah enam desa di dua kecamatan.  Kami diberikan kesempatan untuk melakukan sosialisasi tentang Pekka di posyandu-posyandu, pertemuan PKK, dan pertemuan ibu-ibu lainnya. Alhamdulillah, kami disambut baik oleh masyarakat di sana. Walaupun tetap saja ada sekelompok masyarakat yang tidak mempercayai bahkan mencurigai kami. Tetapi itu merupakan suatu tantangan yang harus kami hadapi sebagai kader Pekka. Semua itu aku anggap sebagai motivasi. 

Kegiatan kami di Bener Meriah bukan hanya pembentukan kelompok, tapi juga melakukan kunjungan ke dinas-dinas yang ada di kabupaten untuk memperkenalkan kader-kader Pekka dan juga program Pekka yang akan kami lakukan di wilayah Kabupaten Bener Meriah. Salah satunya KLIK Pekka (Klinik Informasi dan Konsultasi Pekka). 

Kegiatan KLIK Pekka harus melibatkan beberapa narasumber dari dinas, oleh sebab itu kami melakukan sosialisasi kepada mereka. Selain itu, Pekka harus mensosialisasikan kepada masyarakat yang ingin mengetahui informasi tentang bagaimana caranya agar bisa mengakses legalitas hukum. Mereka juga ingin mengetahui akses program kesejahteraan sosial lainnya, seperti kartu BPJS, KIS, KIP dan juga kartu-kartu perlindungan sosial lainnya. Alhamdulillah, kegiatan KLIK yang kami selenggarakan berjalan dengan lancar.

Aku melakukan pengembangan kelompok di Bener Meriah selama tiga bulan, sejak akhir 2019 sampai awal tahun 2020. Kami diberi kesempatan untuk pulang ke Bireun satu kali dalam satu bulan. Untuk tempat tinggal saat itu kami menginap di rumah kerabat Kak Haswadana di Bener Meriah. 

Kelompok pertama yang kami bentuk adalah di Desa Pondok Gajah. Saat itu ketua kelompok yang terpilih adalah Ibu Karniati. Kelompok ke-2 yang kami bentuk adalah di Kampung Mutiara, lalu menyusul di Kampung Payaringkeul, Kecamatan Mandar. Setelah itu kelompok baru terbentuk di Bumi Ayu, Kecamatan Pondok Baru. 

Sekembalinya dari Bener Meriah, tidak begitu banyak kegiatan yang saya lakukan di Serikat Pekka. Kami terkena dampak pandemi Covid-19, sehingga kegiatan-kegiatan Pekka di lapangan banyak dibatasi. Kami hanya bisa mengikuti kegiatan-kegiatan nasional Pekka secara virtual.  Tetapi untuk kegiatan-kegiatan seperti pertemuan kelompok dan juga pertemuan LKM masih berjalan walaupun kehadirannya juga dibatasi.

 

Tak Lepas dari Dukungan Keluarga

Delapan tahun sudah aku bergabung dengan Pekka, baik sebagai anggota sekaligus kader. Banyak sudah ilmu yang aku dapat, juga wawasan dan pengalaman yang tidak akan pernah bisa aku dapat di tempat lain. 

Suami dan anak-anakku pun merasakan manfaatnya. Mereka bangga melihat aku banyak terlibat dalam kegiatan di masyarakat, dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak. Mereka memang sering mengeluhkan ketidakhadiranku di rumah, ketika aku harus pergi untuk berkegiatan dan mengikuti pelatihan di luar kota. Meski demikian, mereka tetap mendukungku. Mereka paham apa yang aku lakukan merupakan hal yang positif dan sangat bermanfaat untuk diriku sendiri, keluarga dan masyarakat. Suamiku sudah terbiasa berbagi peran saat di rumah. Dia terbiasa mengurus anak, beres-beres rumah, hingga memasak untuk makan kami sekeluarga. Anak-anak kami, meskipun laki-laki, mulai aku ajarkan untuk mau mengerjakan pekerjaan rumah, meski hanya menyapu, membereskan tempat tidur, atau mencuci piring bekas dia makan. 

Begitu besar dampak Pekka bagi kehidupan kami. Saya mungkin tidak tahu akan hak-hak perempuan dan arti berbagi peran dalam keluarga bila dulu, delapan tahun lalu, aku menolak bergabung dengan Pekka.

Bagikan Cerita Ini

Cerita Terkait

Leave a Comment