Menebar Manfaat Dalam Kehidupan Yang Serba Terbatas
Kisah Diri Nani Triani

 

Tinggal di wilayah terpencil dan hidup serba kekurangan adalah pengalaman yang aku jalani sepanjang hidup. Namun, semua itu tidak terasa setelah diriku bisa bermanfaat bagi orang lain. Pekka memberiku ruang untuk melakukan banyak hal, termasuk meningkatkan kapasitas diriku dan keluargaku.

Tinggal terpencil di wilayah yang belum dialiri listrik adalah hal pertama yang aku jalani di masa awal kehidupanku. Aku, Nani Triani, lahir pada 1980 di Kelurahan Tanjung Palas Hilir, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Provinsi ini baru terbentuk pada 2012, sebagai pemekaran dari Kalimantan Timur.

Aku memiliki 7 orang kakak dan seorang adik. Kami dulu tinggal di wilayah bernama Teluk Benuang.kami tinggal di sebuah rumah yang berjarak sekitar 50 meter dari sungai. Hanya ada 5 keluarga yang bermukim di wilayah ini pada waktu itu. Kami menanam pisang, ubi, dan jagung untuk makan. Selain itu, kami juga mencari ikan dengan menggunakan perahu.

Saat aku berusia 6 tahun, kami pindah ke Kelurahan Tanjung Palas Hilir. Tempat ini pun belum memiliki jaringan listrik. Semasa Bapak hidup, beliau bekerja sebagai pekerja kapal yang bertugas menarik kayu hasil penebangan hutan yang dihanyutkan dari hulu ke hilir sungai.

Di atas kayu-kayu yang besar dan panjang, ditempatkan sebuah pondok kecil. Pondok ini berfungsi sebagai tempat para pekerja memasak dan beristirahat. Mereka akan tinggal di dalam pondok itu selama seminggu. Untuk naik ke pondok dan kembali ke darat, mereka menggunakan perahu ketinting.

Masa kecilku terasa menyenangkan. Aku memiliki 4 sahabat. Kami bermain bersama setiap hari. Kadang main lompat karet, kadang juga kami pergi mandi di Sungai Kayan, yang merupakan sungai terbesar di Kalimantan Utara. Dua dari mereka adalah kakak beradik, yang keturunan suku Dayak Kayan. Mereka berasal dari keluarga yang tergolong berada, tetapi itu tidak pernah menjadi penghalang kami untuk bermain bersama.

Aku bersekolah di SD yang letaknya tidak jauh dari rumah. Hanya perlu lima menit untuk berjalan kaki dari rumah menuju sekolah. Namun, ketika SMP, aku harus menempuh perjalanan selama satu jam dari rumah. Perjalanan ini termasuk menyeberang sungai selama 5 menit. Sisanya, aku harus tempuh dengan berjalan kaki.

Mengubur Cita-Cita Demi Orang Tua

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikanku ke SMA, karena melihat kemampuan ekonomi orang tuaku yang amat terbatas. Apalagi, saat itu Bapak jatuh sakit dan harus menjalani operasi kantung kemih hingga dua kali. Beliau sampai dirujuk ke rumah sakit yang ada di Kota Tarakan, yang harus kami tempuh dengan menggunakan kapal air selama empat jam.

Setelah lulus SMP, aku bekerja menjaga kios penyewaan Compact-Disc (CD) milik seorang kakakku. Pekerjaan ini aku lakoni selama enam tahun, sampai aku memutuskan untuk menerima pinangan dari seorang laki-laki yang tinggalnya tidak jauh dari rumah orang tuaku. Kami berteman akrab selama satu tahun, hingga memutuskan untuk menikah dan tinggal di rumah orang tuaku.

Suamiku bekerja sebagai tukang bangunan. Penghasilannya tidak menentu; kadang ada, kadang pula tidak ada. Sampai akhirnya di tahun 2017, ia membeli perahu dengan cara mencicil. Perahu itu ia gunakan sebagai alat transportasi penyeberangan yang menghubungkan Tanjung Palas dengan Tanjung Selor.

Sayangnya, penghasilan suamiku mulai menurun dalam tiga tahun ini, setelah jembatan yang menghubungkan Jalan Meranti dengan Jalan Bulu Perindu mulai berfungsi pada Agustus 2020. Kenyataan ini mendorongku untuk membuat kue dan menitipkannya ke warung-warung terdekat, juga penjual sayur keliling.

Aktif di Tengah Keterbatasan

Selain berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga, aku juga aktif berkegiatan di Posyandu kelurahan yang letaknya tidak jauh dari rumah. Awalnya, aku diajak seorang kerabat yang memang telah lama menjadi kader Posyandu. Selama menjalani tugas sebagai kader Posyandu, aku kerap ditanya mengenai cara mengurus Nomor Induk Kependudukan untuk anak. Mereka mengetahui pengalamanku ketika mengurus identitas untuk anak bungsuku. Aku harus bolak-balik dan mengeluarkan banyak biaya ketika mengurusnya. Setelah mengetahui caranya, aku jadi sering membantu mereka yang datang kepadaku untuk meminta ditemani mengurus identitas hukum yang mereka perlukan.

Aku mulai bergabung dengan Pekka pada September 2022. Aku mendapat informasi mengenai kelompok Pekka dari Ketua Serikat Pekka Kelurahan Tanjung Palas Hilir, Ibu Bibit Sudarwati. Cerita beliau membuatku penasaran dan ingin sekali bergabung.

Sayangnya, aku tidak bisa aktif karena tidak diizinkan suami. Aku baru mulai bisa aktif setelah mendapat penjelasan dari Koordinator Wilayah Federasi Serikat Pekka, Teh Evi Lindiana. Beliau juga bertanggung jawab atas pengembangan wilayah Pekka di Kalimantan Utara, termasuk untuk mensosialisasikan program-program Pekka. Aku tidak pernah bosan menjelaskan pengetahuan yang aku dapat dari Teh Evi kepada suami dan anak-anak, bahwa aku juga ingin belajar dan memberi manfaat kepada masyarakat, meskipun sedikit.

“Daripada hanya berdiam diri di rumah, saya pingin menambah wawasan, pengalaman, dan bermanfaat untuk yang lainnya,” begitu kataku kepada suami.

Akhirnya suamiku percaya dan memberiku izin untuk berkegiatan. Aku selalu berusaha untuk menghadiri kegiatan-kegiatan yang diadakan Serikat Pekka, meskipun lokasinya berada di tempat yang terpencil. Aku pernah menghadiri kegiatan yang lokasinya membutuhkan waktu tempuh sampai 2 jam dari rumah, dengan melewati jalanan yang berlubang, serta menyusuri sungai.

Mengasah Diri melalui KLIK PEKKA

Kegiatan yang pernah aku ikuti adalah KLIK PEKKA, Forum Pemangku Kepentingan, Diskusi Kampung, juga Training of Trainer untuk Forum Perempuan Desa. Aku dipilih untuk mengikuti pelatihan ini karena Teh Evi melihatku sebagai orang yang sangat pemalu. Beliau percaya, bahwa setelah mengikuti pelatihan untuk menjadi fasilitator, rasa maluku akan tertutupi rasa percaya diri yang diasah melalui pelatihan ini.

Di tahun 2023, Serikat Pekka Kabupaten Bulungan telah mengadakan 8 KLIK PEKKA (Klinik Layanan Informasi dan Konsultasi). Selama kegiatan ini, masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi penyelenggaraan KLIK PEKKA bisa datang untuk bertanya langsung kepada perwakilan Organisasi Perangkat Daerah mengenai masalah yang mereka hadapi, seperti: masalah identitas diri, masalah perlindungan sosial, masalah hukum keluarga, dan masalah pertanian.

Desa yang menjadi lokasi KLIK PEKKA adalah Desa Penjalin, Gunung Putih, Kelurahan Karanganyar, Desa Antutan, Desa Tanjung Palas Tengah, Desa Tanjung Palas Hilir, Desa Jelarai, dan Desa Bumi Rahayu. Aku hanya satu kali tidak mengikuti KLIK PEKKA, yakni yang diadakan di Desa Antutan. Pada hari pelaksanaan KLIK PEKKA di Desa Antutan, aku mengikuti Pelatihan UMKM dengan materi cara memberi nama produk dan proses memperoleh NIB (Nomor Induk Berusaha) yang diadakan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) selama 2 hari.

Usai KLIK PEKKA, aku bersama teman-teman dari Serikat Pekka Kabupaten Bulungan menindaklanjuti permasalahan terkait identitas diri yang didapati saat KLIK PEKKA. aku juga mendampingi kasus gugat cerai dengan cara pro deo di Pengadilan Agama. Sayangnya, pendampingan kasus di Pengadilan Agama belum bisa ditindaklanjuti karena dana untuk proses pro deo telah habis.  Pihak Pengadilan Agama kemudian menyarankan kami untuk kembali datang pada Februari 2024.

Pengalaman yang paling berkesan selama menjadi petugas KLIK PEKKA adalah ketika melayani tiga orang penyandang disabilitas, warga Desa Tanjung Palas Hilir. Ketiganya masih punya hubungan kekerabatan, yakni kakak-beradik, dan seorang anak dari sang adik. Di KTP dan Kartu Keluarga mereka, tercantum bahwa mereka adalah warga Kalimantan Utara. Sementara, mereka berdomisili di Kalimantan Timur. Perbedaan ini terjadi akibat pemekaran Provinsi Kalimantan Timur di tahun 2012. Akibatnya, mereka tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Aku menyampaikan masalah ini kepada Pak Baim, perwakilan dari Disdukcapil. Beliau menjelaskan mengenai kelengkapan yang harus disiapkan, serta prosedur mengurus kepindahan dokumentasi agar dapat melakukan perekaman data kependudukan di rumah: seperti surat keterangan dari RT, juga dari  Kantor Kelurahan Tanjung Palas Hilir.

Setelah semua dokumen yang disyaratkan telah mereka dapatkan, aku berangkat ke kantor Disdukacapil untuk melakukan permohonan perekaman. Tiga bulan kemudian, pegawai dari Disdukapil datang ke Desa Tanjung Palas Hilir untuk melakukan perekaman bagi ketiga penyandang disabilitas ini. Mereka pun langsung mendapatkan KTP dan KK. Semoga dengan kepemilikan dokumen identitas ini, ketiganya bisa segera mendapatkan bantuan sosial yang memang menjadi hak mereka.

Ada kebanggaan tersendiri setelah aktif bersama Serikat Pekka. Aku bisa membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan mereka, sehingga aku merasa lebih bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Berkat Pekka, aku bisa mengenal peran dan tanggung jawab Organisasi Perangkat Daerah, serta menginjakkan kakiku di kantor dinas-dinas tersebut.

Sejak bergabung dengan Pekka, aku jadi bisa mendatangi desa-desa di kecamatan, bahkan di kabupatenku. Sebelumnya aku belum pernah bisa sampai ke desa-desa yang letaknya di pelosok itu. Wawasan dan pengalamanku pun bertambah.

Pekka memberi semangat baru bagiku. Aku jadi lebih bersemangat menjual kue. Rasa percaya diriku pun tumbuh. Meskipun ketika kecil aku jarang bergaul, aku bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku bisa dengan cepat mendapat banyak teman baru dari desa lain, dari suku lain dengan bahasa dan agama yang berbeda. Mereka adalah teman sekaligus keluarga baru yang banyak memberiku dukungan. Aku pun mengubah sikap pandangku terhadap perempuan kepala keluarga. Aku betul-betul salut pada perjuangan mereka.

Bukan aku saja yang berubah. Masyarakat dan pemerintah yang dulunya tidak memedulikan keberadaan Pekka, kini memandang positif segala kegiatan yang kami adakan. Mereka mengapresiasi program dan hasil kerja Pekka.(*)

Bagikan Cerita Ini

Cerita Terkait

Menjadi Tulang Punggung Tidak Membuatku Berhe

Menjadi Tulang Punggung Tidak Membuatku Berhenti Kisah...

Menjadi Perempuan yang Bermartabat: Kisah Dir

Menjadi Perempuan yang Bermartabat: Kisah Diri Suminah...

Leave a Comment