Tangguh Menggenggam Dunia:
Kisah Diri Netty Rusli

Aku menikah dan bercerai di usia muda. Sendirian berjuang menjadi kepala keluarga. Pekka menguatkanku dalam menghadapi kerasnya dunia.


Aku terlahir sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara, pada Oktober 1968, di tengah keluarga sederhana di Kota Baubau. Ayah saya bekerja sebagai guru SD, sedangkan Ibu berprofesi sebagai pegawai di Kantor Departemen Penerangan. Sekarang departemen ini sudah tidak ada karena dibubarkan pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sejak kecil, aku dilatih untuk selalu rajin, berdisiplin, taat beribadah, bersikap jujur dan baik terhadap siapa saja, terutama orang tua.

Sejak lahir hingga saat ini, aku tinggal di sebuah kelurahan terkecil yang ada di Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Desa tempat tinggalku adalah tempat yang sangat indah, asri, dan tenang. Dulu, masyarakat di desa ini memiliki semangat bergotong royong yang sangat tinggi. Sayangnya, semangat ini belakangan perlahan memudar. Rata-rata penduduk di desaku bekerja sebagai nelayan atau ASN, tetapi ada juga yang bekerja sebagai karyawan swasta, pegawai toko, dan lain-lain.

Masyarakat di desaku masih mempertahankan satu tradisi yang ada di budaya Buton Kuno, yakni Kambua-Kambua. Tradisi ini berusia ratusan tahun, dan hanya desa tempat tinggalku yang masih melakukannya. Kambua-Kambua dilakukan oleh puluhan anak yang berjalan kaki keliling kampung seraya melantunkan syair dalam bahasa Buton Kuno, dan mengetuk setiap pintu rumah warga. 

Tradisi ini bertujuan untuk mengingatkan warga agar datang ke masjid untuk salat tarawih. Apabila tidak sempat, maka bisa digantikan dengan Kambua-Kambua ini. Bila tidak melakukan, maka yang bersangkutan akan terkena hukuman berupa denda berupa uang yang jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan. Kambua-Kambua selalu dilaksanakan setelah pertengahan Ramadan, terutama di sepuluh malam terakhir. Tradisi ini sudah dilakukan sejak abad ke-16. 

Adapun syair lagu Kambua-Kambua tersebut adalah:

Kambua-Kambua, kambua talumanae, kambaurea-ureana, maintabia-biaitu, maintakupa-kupaitu, kupa-kupana, indaute, temai, bia-baina, indaunte-temai indau, manganawu, takole, ikapeomu, tapokiwalu, jalangkuri, tapopolango batu, taposangamoijoure, tamate, tandu,madi, tamai, pendua … .

 

Pendidikan formal mulai saya jalani sejak berusia 6 tahun, tepatnya pada 1975. Tidak ada kesulitan berarti yang saya temui selama bersekolah, sehingga saya berhasil lulus SMA di tahun 1986.

Di sekolah, saya dikenal sebagai siswa yang aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, seperti Pramuka. Saya pun terpilih sebagai pengurus OSIS. Beberapa lomba di bidang seni dan olahraga pun saya ikuti, dan selalu mendapat juara. Prestasi ini saya pertahankan hingga saya lulus SMA.

Aku mulai tertarik pada lawan jenis ketika masih duduk di bangku SMP. Namun, itu adalah cinta monyet yang menghiasi indahnya masa remajaku. Rasa itu tidak melunturkan tekadku untuk menjadi guru. 

Menikah dan Bercerai di Usia Belia

Selepas SMA, aku mendaftar ke sebuah perguruan tinggi di Kota Kendari, yakni Universitas Halu Oleo. Namun, baru saja kuliahku dimulai, aku bertemu dengan jodohku. Aku tidak dapat melanjutkan kuliah karena menikah di tahun yang sama dengan tahun aku masuk kuliah, yakni 1986. Sayangnya, pernikahanku ini tidak berlangsung lama akibat kehadiran orang ketiga.

Sejak memilih meninggalkan suami, aku memulai hidup sebagai orang tua tunggal. Membesarkan anak seorang diri ternyata tidak mudah. Apalagi kedua orang tuaku telah meninggal dunia. Aku beruntung karena saudara-saudara kandungku senantiasa mendukungku. 

Aku menjemput semua pekerjaan yang menghasilkan uang, demi bisa membesarkan dan menyekolahkan anakku. Aku kerahkan semua keterampilan, dan kemampuan yang aku miliki. Aku mencari nafkah dengan cara bekerja serabutan, hingga menjadi staf magang di kantor kelurahan tempat aku tinggal. Segala potensi yang ada pada diriku membuatku mampu menyekolahkannya hingga perguruan tinggi. Nahas, anakku jatuh sakit dan meninggal dunia pada 2008.

Hari itu seakan menjadi hari kiamat bagiku. Napasku seperti berhenti. Aku tidak mampu mengangkat wajahku karena hilangnya rasa percaya diri. Hanya ada rasa putus asa dan marah terhadap diri sendiri, karena aku merasa tidak mampu menjaga amanah yang diberikan Tuhan kepadaku.

Allah Maha Besar. Satu tahun setelah anakku meninggal dunia, aku diberi amanah untuk menjadi ketua RT. Dari sini aku mulai menata hidupku kembali, maju sebagai perempuan tangguh. Berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan yang aku ikuti sejak remaja membuatku tidak bisa menolak amanah tersebut.

Bertemu Pekka

Aku bergabung dengan Pekka pada September 2016. Saat itu dilakukan pembentukan kelompok Pekka di kelurahan tempat aku tinggal, dan aku langsung bergabung. Aku juga langsung terpilih sebagai sekretaris kelompok, yang diberi nama Pomaa-Maasiaka. Artinya adalah saling menyayangi.

Perjalanan kami dalam memperluas wilayah binaan Pekka tidak mudah. Sebagian pihak dari pemerintah dan masyarakat tidak mempercayai niat baik Pekka dalam mengadakan kegiatan di wilayah mereka. Kami juga dianggap mengambil alih atau mengacak-acak kegiatan internal mereka. Meski demikian, kami tidak berputus asa dan tetap bersemangat dalam memberikan pemahaman bahwa kegiatan yang kami lakukan adalah untuk kepentingan masyarakat luas, terutama perempuan miskin.

Bersama teman-teman sesama anggota Pekka, aku merasakan manfaat setelah bergabung. Aku jadi belajar untuk tidak pantang menyerah dalam membagikan ilmu dan potensi yang dimiliki Pekka kepada warga di Kota Baubau. Secara pribadi, aku semakin handal untuk berbicara. Aku juga semakin banyak memiliki teman, karena aktivitas yang aku lakukan bersama Pekka.

 

KLIK PEKKA

Aku pertama terlibat dalam KLIK PEKKA pada 2017, ketika kegiatan ini diadakan di Kelurahan Tampuna, Kecamatan Bungi. Aparat pemerintah dari Kantor Kelurahan, Dinas Sosial, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kantor BPJS, dan Kecamatan Bungi dilibatkan dalam acara ini.

Pada saat itu, aku hanya bisa menyimak cara teman-temanku bekerja mempersiapkan dan melaksanakan KLIK PEKKA, karena aku belum paham. Baru di tahun berikutnya, yakni ketika KLIK PEKKA digelar di Kelurahan Kaobula dan Kelurahan Kadolomoko, aku diberi kepercayaan untuk melayani konsultasi masyarakat.

KLIK PEKKA yang diadakan Serikat Pekka Kota Baubau bertujuan mengidentifikasi masyarakat miskin, terutama dari keluarga yang dikepalai oleh perempuan. Kecil kemungkinan bagi mereka untuk memperoleh dokumen identitas diri dan hukum, seperti Akta Kelahiran dan Surat Nikah. Padahal, dokumen tersebut diperlukan untuk mengakses program perlindungan sosial dari pemerintah.

Usai KLIK PEKKA, Serikat Pekka Kota Baubau melanjutkan kegiatannya dengan menggelar Diskusi Kampung. Acara ini merupakan tindak lanjut dari permasalahan yang dikumpulkan melalui KLIK PEKKA. Hasil dari Diskusi Kampung ini adalah, Serikat Pekka Kota Baubau mendapat alokasi Dana Pemerintah Daerah, dalam hal ini yang dikucurkan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebesar 15 juta rupiah pada akhir 2018, dan 16 juta rupiah pada 2019. Dana ini adalah untuk melaksanakan KLIK PEKKA di empat kelurahan, yakni: Kelurahan Liwuto, Kelurahan Labalawa, Kelurahan Sukanaeo, dan Kelurahan Bone-Bone. 

Aku kembali diminta untuk menjadi petugas KLIK PEKK. Aku senang sekali, karena pengalaman dan rasa percaya diriku semakin bertambah. Selain itu, aku merasa bahagia karena berhasil membantu orang lain. 

Di tahun 2019, Serikat Pekka Kota Baubau juga menyelenggarakan kegiatan seperti SDGs dan Konsultasi Daerah di Aula Kantor BAPPEDA Kota Baubau. Dalam acara yang dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Baubau, Dr. Hado Hasina, dan dihadiri oleh OPD/SKPD, organisasi dan komunitas, DFAT, dan Bappenas, aku bertugas sebagai panitia sekaligus peserta. Di tahun ini pula aku terlibat dalam Rencana Aksi Daerah.

Masih di tahun 2018, Serikat Pekka Kota Baubau menyelenggarakan Rapat Serikat sekaligus Musyawarah Besar untuk memilih pengurus serikat untuk periode 2018-2023. Dari hasil pemilihan tersebut, terpilih tiga pengurus inti Serikat Pekka Kota Baubau yakni: Rosnani (Ketua), Umiati Inga (Bendahara), dan Netty Rusli (Sekretaris). Agenda terbesar dari Mubes ini adalah memfasilitasi kepemilikan identitas hukum seperti Kartu Keluarga, KTP, Akta Kelahiran, dan Surat Nikah.

Tahun 2018 ditutup dengan pelaksanaan Festival KLIK PEKKA yang dibuka oleh Walikota Baubau. Kehadiran beliau sekaligus untuk memasangkan selempang tanda kelulusan bagi para wisudawan Akademi Paradigta. Kegiatan ini dihadiri 450 orang yang terdiri dari OPD, para camat, para lurah, 30 organisasi perempuan, komunitas, Mien Rianingsih sebagai perwakilan Yayasan Pekka Jakarta, fasilitator lapang Baralia dan Yusniah, anggota Serikat Pekka Kota Baubau, dan para akademia. Festival KLIK PEKKA juga diisi dengan penandatanganan Deklarasi Perlindungan Sosial dalam Pengentasan Kemiskinan di Kota Bubau, dan dilanjutkan dengan dialog para pemangku kepentingan.

Dialog ini melibatkan Bappeda, DP3A, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, BPJS, kelurahan, dan masyarakat penerima manfaat KLIK PEKKA, serta perwakilan Serikat Pekka Kota Baubau, juga fasilitator lapang Yusnia. Melalui kegiatan ini, kami menggali pengalaman, motivasi, dan manfaat yang didapat dari pelaksanaan KLIK PEKKA. Dalam diskusi ini, pemerintah kelurahan mengharapkan agar kegiatan KLIK PEKKA diadakan setiap enam bulan dengan menggunakan Dana Kelurahan.

 

Berburu Nota Kesepakatan

Saya terlibat dalam kegiatan AUDIT dan MONEVA untuk Serikat Pekka yang ada di Sulawesi Tenggara pada akhir 2019. 30 orang hadir dalam acara yang diadakan di Center Pekka Baubau, Bone-Bone, yang terdiri dari pengurus Serikat Pekka Baubau, pengurus koperasi dari Kabupaten Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, dan Muna, serta fasilitator lapang, Yusniah dan Baralia. Ada juga fasilitator dari Yayasan PEKKA Jakarta, yaitu Adi Nugroho dan Novita Indra. Mereka berdua melakukan monitoring kegiatan dan audit keuangan serikat untuk setiap kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara, serta memberi peningkatan kapasitas untuk pengurus serikat dan koperasi.

Dalam acara ini, Serikat Pekka Kota Baubau menyampaikan kendala dalam mengurus Memorandum of Understanding (Nota Kesepakatan) dengan Pemerintah Kota Baubau akibat pergantian pejabat daerah. 

Bahkan setelah acara ini, kami dari Serikat Pekka Kota Baubau terus melakukan advokasi. Kami tidak jera, meskipun belum ada realisasi dari Kepala Bagian Hukum Pemerintahan Kota Baubau. Selain menindaklanjuti Nota Kesepakatan, kami juga mencari informasi mengenai pembentukan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) ke Kantor Dinas Sosial.

Di tengah kesibukan untuk mendapatkan Nota Kesepakatan tersebut, aku mendapat kesempatan untuk mengikuti Lokakarya Perencanaan Strategis dan Keberlanjutan PEKKA-MAMPU di Bogor pada pertengahan Desember 2019.

Nota Kesepakatan yang diperjuangkan oleh Serikat Pekka Kota Baubau akhirnya terealisir pada 31 Desember 2019. Saat itu kami menyelenggarakan Dialog Forum Pemangku Kepentingan Perlindungan Sosial. Untuk kali pertama, acara yang diselenggarakan Serikat Pekka Kota Baubau dihadiri oleh Wakil Walikota Baubau, Laode Ahmad Moianse, S.Pd. Meskipun beliau hadir hanya sebentar, beliau sempat memberi pernyataan untuk mengawal proses penyelesaian Nota Kesepakatan. Dialog tersebut juga menghasilkan dana untuk isbat nikah secara prodeo di Pengadilan Agama, untuk 15 pasang.

Serikat Pekka Kota Baubau tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Secara bergantian, kami berkoordinasi dengan pihak Pengadilan Agama, camat, dan lurah untuk mencari data dan dokumen pendukung yang disyaratkan untuk mengikuti isbat nikah.

Pelaksanaan isbat nikah yang direncanakan akhirnya terpaksa dilakukan dalam dua gelombang, akibat merebaknya COVID-19. Gelombang pertama dilakukan pada 6 April 2020 yang diikuti 7 pasangan, dan gelombang kedua diadakan pada 9 April 2019 yang diikuti 6 pasangan. Dari gelombang pertama, hanya 4 pasangan yang lolos sidang. Tiga pasangan lain disidangkan di Pengadilan Agama pada 14 April 2020 karena keterangan saksi tidak kuat. Untuk gelombang kedua, satu pasangan dicabut perkaranya karena tidak dapat menghadirkan saksi. Setelah keputusan isbat nikah dibacakan, pihak Pengadilan Agama menyampaikan kepada peserta untuk mengambil salinan putusan di Kantor Pengadilan Agama, lalu salinan itu dibawa ke KUA agar Surat Nikah mereka bisa diterbitkan.

Mendengar penyampaian pihak Pengadilan Agama tadi, kami dari Serikat Pekka Kota Baubau sepakat untuk mengambilkannya secara kolektif, lalu menyerahkannya kepada Kantor Urusan Agama. Inilah upaya yang dapat kami lakukan agar dapat membantu masyarakat miskin untuk memenuhi kebutuhan hak dasar mereka. Semua kami lakukan berkat dorongan, motivasi, dan arahan dari para fasilitator lapang Pekka. Selain itu, dukungan dari para pemangku kepentingan, camat, dan lurah betul-betul membuat kegiatan kami dapat terlaksana dengan baik.

Sementara itu, kami, para pengurus serikat, dengan didampingi fasilitator lapang Yusniah terus menerus melakukan advokasi ke Kepala Bagian Hukum Pemerintah Kota Baubau untuk menagih janji akan realisasi Nota Kesepakatan. Bahkan, Memo dari Wakil Walikota tercecer, sehingga hilang entah kemana.

Akhirnya kami memutuskan untuk menemui Bapak Walikota Baubau secara langsung, untuk membahas masalah ini. Beliau merespon keluhan kami dengan memanggil Kepala Bagian Hukum, dan memerintahkan agar segera mengurus dan merealisasikan Nota Kesepakatan tersebut. Meski demikian, kami masih harus bersabar dan menjalani proses yang sangat panjang. Hingga akhirnya Nota Kesepakatan tersebut terealisasi pada 24 September 2020. Ini adalah hari bersejarah bagi Serikat Pekka Kota Baubau. Terjawab sudah kerja keras kami. Akhirnya keberadaan Serikat Pekka mendapat pengakuan dari Pemerintah Kota Baubau.

 

COVID-19

Pandemi COVID-19 yang berbuntut pada pembatasan kegiatan sosial turut memberi batasan bagi kegiatan Pekka. Pelatihan-pelatihan yang biasa diadakan melalui pertemuan secara langsung berganti dengan pertemuan secara virtual melalui aplikasi Zoom. Salah satu pelatihan yang aku ikuti melalui aplikasi Zoom adalah Pelatihan Enumerator Pemantauan Bansos COVID-19. Pelatihan ini dilanjutkan dengan pendataan masyarakat di lingkungan RT masing-masing pendata. Data kemudian diverifikasi dan dientri melalui Google Form. Setelah itu, aku mengikuti Lokakarya Federasi Pekka Indonesia, juga melalui aplikasi Zoom, yang bertempat di Center Pekka Baubau. Lokakarya ini diikuti oleh aku, sebagai sekretaris Serikat Pekka Kota Baubau; Rosnani selaku ketua; dan fasilitator lapang, Yusnia. Agenda dari lokakarya ini adalah refleksi pengembangan serikat, transformasi organisasi gerakan Pekka, diskusi terfokus, invoasi strategi pendekatan, tantangan, dan rencana kerja serikat untuk lima tahun. Setelah lokakarya ini selesai, aku ikut pelatihan lain lagi, yakni Pelatihan Database Online Anggota Pekka dan Profil Kelompok.

Idealnya, kelompok yang melaksanakan kegiatan simpan-pinjam melakukan Rapat Akhir Tahun. Bersama Hasna dari Divisi Media dan Data, juga fasilitator lapang, Yusnia, aku memfasilitasi Rapat Akhir Tahun di beberapa kelompok. Rapat ini berisi laporan kegiatan kelompok, laporan keuangan, serta diskusi mengenai rencana kegiatan kelompok untuk tahun berikutnya. Hasil dari Rapat Akhir Tahun ini kami bawa ke rapat dan tatap muka Bappeda Kota Baubau untuk membahas kegiatan dan kendala, serta kebutuhan Serikat Pekka Kota Baubau, sebagai tindak lanjut dari Nota Kesepakatan.

Metamorfosisku Bersama Pekka

Keputusanku untuk bergabung dengan serikat Pekka adalah yang terbaik. Jiwaku sudah menyatu dengan Pekka. Melalui keterlibatanku di berbagai kegiatan Pekka, aku mendapat pengetahuan dan pengalaman berharga. Baik itu melalui pelatihan di tingkat daerah maupun nasional, melalui berbagai pertemuan rutin, juga kegiatan pihak luar yang melibatkan Pekka.

Sebagai pengurus inti serikat, aku harus memiliki visi dan misi untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan, terutama perempuan kepala keluarga. Aku bisa merasakan bagaimana perjuangan seorang perempuan saat harus menjadi pengambil keputusan dalam keluarga, sebagai pencari nafkah utama yang menopang ekonomi keluarga. Aku harus kuat dan tangguh.

Aku akan selalu belajar dan terus belajar. Aku tidak akan menjadi kuat dan tangguh seperti sekarang tanpa bimbingan fasilitator lapang kami, Yusniah, yang selalu setia mendampingiku dalam melakukan kegiatan agar terlaksana dengan baik. Aku benar-benar berharap, Serikat Pekka bisa mandiri agar senantiasa sanggup membela dan mendukung hak perempuan, khususnya perempuan kepala keluarga, juga kelompok masyarakat lain yang termarjinalkan.

Marilah kita bersama-sama  untuk ikut membangun tatanan masyarakat yang sejahtera, adil gender dan bermartabat, agar kita mampu berpartisipasi aktif dalam setiap siklus pembangunan di wilayah tempat kita tinggal. Pekka akan tetap berkomitmen untuk membantu perempuan kepala keluarga. Jadilah perempuan tangguh yang kuat tidak akan menceritakan masalahnya pada dunia.

Bagikan Cerita Ini

Cerita Terkait

Menjadi Perempuan yang Bermartabat: Kisah Dir

Menjadi Perempuan yang Bermartabat: Kisah Diri Suminah...

Leave a Comment